Tidak Ada Jihad dengan Bunuh Diri
06/03/2017
Presiden dan Pimpinan DPR Terpaku Dengar Tausiah ini
06/05/2017

Antara Jihad dan kekerasan

Tidak semua kekerasan atas nama agama adalah jihad. Jihad memiliki definisi dan kriterianya sendiri. Bisa saja orang yang melakukan tindakan kekerasan yang dikemas dengan baju agama Islam, bahkan yel-yel Allahu Akbar yang diteriakkan, tetapi belum tentu itu jihad. Arti jihad ialah segala upaya yang dikerahkan untuk mencapai tujuan Islam. Upaya-upaya itu bisa dalam bentuk fisik (jihad), pemikiran (ijtihad), dan semangat batin (mujahadah). Jika ada yang mengatasnamakan suatu gerakan jihad tetapi tidak melibatkan dimensi ijtihad  dan mujahadah maka sesungguhnya belum bisa disebut jihad. Jika ia korban maka tidak bisa disebut sahid.

Ulama besar, Al-Ashfahani, membagi jihad kepada tiga bagian, yaitu: (1) jihad di dalam menghadapi musuh yang betul-betul nyata, (2) jihad menghadapi jin atau setan yang mengganggu, dan (3) jihad menghadapi nafsu yang terdapat di dalam diri setiap orang. Jihad yang paling penting dan sekaligus paling berat ialah jihad yang ketiga, sebagaimana sabda Nabi: “Kita kembali dari jihad yang terkecil menuju jihad yang lebih besar, yakni jihad melawan hawa nafsu”. Dengan demikian, jihad tidak mesti harus memegang senjata. Seorang tukang sapu jalanan memegang sapu, seorang mahasiswa memegang pena, seorang petani memegang cangkul, dan seorang nelayan memegang jala, dan seorang tentara memegang senjata, sesungguhnya mereka sedang berjihad dan alat-alat yang ada ditangannya adalah peralatan jihad.

Inti dari suatu jihad ialah untuk menghidupkan orang, bukan mematikan. Untuk membahagiakan orang, bukan menyengsarakan. Untuk memintarkan orang, bukan menjadi penyebab kebodohan. Untuk memperkaya orang, bukan memiskinkan orang. Untuk menyehatkan orang, bukan menyakiti orang. Untuk menciptakan ketenangan, bukan menimbulkan kegaduhan. Untuk menyenangkan orang, bukan menyedihkan orang. Pokoknya jihad bertujuan untuk meningkatkan martabat dan kualitas hidup umat manusia, bukan untuk mencampakkan kemanusiaan. Lebih khusus lagi ialah untuk memberikan citra positif Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, bukan mencitranegatifkan Islam dengan menebarkan rasa takut.

Peperangan memang disebut dalam Islam tetapi dengan syarat yang amat ketat. Prof. Ali Jum’ah, salah seorang ulama terkemuka Al-Azhar Mesir, memberikan enam syarat atau etika agar peperangan tidak menjurus menjadi kekerasan atau terorisme, yaitu: (1) cara dan tujuan perjuangan harus jelas dan mulia, (2) al-Qital (peperangan) hanya dibenarkan untuk ditujukan kepada angkatan perang, bukan penduduk sipil yang tak berdosa, (3) ­al-qital harus dihentikan bila musuh sudah menyerah atau angkat tangan, (4) melindungi tawanan perang dan memperlakukannya secara manusiawi, (5) memelihara lingkungan, tidak membunuh binatang tanpa alasan, tidak membakar pohon dan merusak tanaman, mencemari air, dan merusak rumah atau bangunan, (6) menjaga hak dan kebebasan beragama para agamawan dan pendeta dengan tidak mencederai mereka.

Rasulullah mencontohkannya kepada tawanan perang Badar. Kaum laki-lakinya tidak dieksekusi dan kaum perempuannya tidak diperbudak,  tetapi mereka ditahan di masjid dan pada saatnya mereka dibebaskan semuanya. Ada yang dibebaskan dengan cara para tahanan tersebut mengajarkan keterampilan bahasa, tukang kayu, tukang besi, keterampilan membuat senjata, mengajarkan seni, menyamak kulit, dan berbagai keterampilan lainnya kepada penduduk di sekitar masjid. Dengan demikian jihad dalam Islam tidak bisa diidentikkan dengan tindakan kekerasan. Jihad itu menghilangkan unsur kekerasan di dalam segala perjuangan.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal & Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto oleh Cyprianus Rowaleta