Wejangan Prof. Nasaruddin Umar Kepada Santri
05/05/2018
Imam Besar Masjid Istiqlal: Belajar Agama Tidak Bisa Instan
05/09/2018

Antara Jihad dan Patriotisme

SETIAP kali mendekati pemilihan umum (pemilu), setiap itu pula kita sering menyaksikan pengerahan dua jenis emosi, yaitu emosi membela kepentingan agama (emosi jihad) dan emosi membela kepentingan bangsa (emosi patriotisme).

Bagi warga bangsa Indonesia sering kali kita menyaksikan tumpang tindihnya antara kedua emosi tersebut. Hal ini bisa dimaklumi karena setiap hari warga bangsa selalu mendapatkan seruan keagamaan untuk membela dan memperjuangkan agama. Di sisi lain, kita juga selalu mendengarkan seruan untuk membela dan memperjuangkan bangsa tercinta.

Jika kedua emosi ini berhadap-hadapan satu sama lain, bangsa dan agama akan rugi. Akan tetapi, jika keduanya diurus dengan baik, justru bisa menjadi kekuatan luar biasa bagi bangsa ini. Jika salah dalam mengelolanya, keduanya akan saling memakan dan sudah pasti merugikan semuanya.

Emosi jihad dimiliki umat beragama dan emosi patriotisme dimiliki warga bangsa yang mengedepankan kepentingan primordialisme kebangsaannya. Emosi jihad akan mudah terbakar manakala ada orang yang menghina sendi-sendi agama yang diyakininya. Demikian pula emosi patriotisme akan meledak manakala martabat kebangsaan yang dijunjung tinggi para warganya diinjak-injak.

Jika kedua kekuatan emosi ini bersinergi, apa pun dan siapa pun serta sehebat apa pun ancaman dan musuh di hadapannya, tidak akan pernah membuatnya gentar. Sejarah Indonesia membuktikan dengan pekikan ‘Allahu Akbar!’ dan ‘Merdeka!’, maka penjajah yang tangguh bisa diusir. Bisa dikatakan bahwa Indonesia merdeka berkat pekikan kedua kata tersebut.

‘Allahu Akbar!’ adalah komando jihad yang menakutkan, dan ‘Merdeka!’ adalah komando patriotisme yang menggetarkan. Kedua pekikan ini memicu andrenalin perjuangan umat dan warga bangsa untuk menyingkirkan musuh-musuhnya.

Pengalaman pahit
Jika kedua kekuatan emosi ini berhadap-hadapan satu sama lain, bayangan perang saudara maha dahsyat akan terjadi. Indonesia juga pernah mempertontonkan sederetan pengalaman pahitnya ketika dua komunitas, yaitu etnik dan agama berhadapan satu sama lain. Pengalaman yang sama juga pernah terjadi di beberapa negara lain.

Kesemuanya itu harus menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia, sebuah bangsa yang besar dan dipadati kondisi objektif yang amat plural. Begitu banyak ikatan primordial, seperti agama, aliran, etnik, suku, dan organisasi paguyuban yang berpotensi memicu konflik emosional sehingga hal itu perlu terus dicermati semua pihak, baik oleh pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, maupun kaum cerdik pandai negeri ini.

Ada fenomena kekuatan kedua emosi ini akan berhadap-hadapan satu sama lain. Indikator yang bisa dilihat ialah mencuatnya aliran salafi jihadi yang bukan hanya menuntut pemurnian ajaran (puritanism), melainkan juga melakukan gerakan menghidupkan kembali semangat keislaman (revivalism) yang dinilai mulai tergerus arus liberalisme yang semakin gencar di dalam masyarakat.

Gerakan internasional
Lebih memprihatinkan lagi karena kelompok ini dimotori kelompok usia muda, pintar, menguasai teknologi informasi, dan menguasai beberapa bahasa asing sehingga gerakan mereka lebih gampang menginternasional. Apalagi, dengan dukungan fasilitas media yang begitu mudah diakses. Rasa percaya diri mereka sangat tinggi karena meskipun kelompoknya minoritas, didukung komunitas internasional.

Kita belum tahu pendanaan mereka dari mana, yang pasti mereka memiliki penguasaan media dan penerbitan. Basis penyebarannya bukan lagi di dalam masyarakat RT, RW, atau jemaah masjid, melainkan mereka lebih berkonsentrasi kepada kampus dan sekolah. Mereka sangat ahli mengimplementasikan pengaruhnya melalui kegiatan ekstrakurikuler, semisal komunitas bela diri, pencinta alam, dan kelompok-kelompok studi.

Bahkan, di laboratorium pun mereka bisa menyebarkan pengaruh melalui program animasi ‘cuci otak’. Dampaknya lebih jauh ketika mereka menjadi ‘manusia jadi’, misalnya sudah bekerja sebagai guru, memimpin perusahaan, dan menjadi pejabat, maka dengan mudah bisa menghubungkan mata rantai ideologi itu antara satu dengan lain sehingga suatu saat bisa menjadi komunitas ideologis yang luar biasa kuatnya.

Bandingkan dengan ‘komunitas patriotisme’ yang sudah mulai tumpul. Pendalaman dan penghayatan terhadap Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa sudah lama tercerabut di lingkungan kampus. Di sekitar lingkungan pacu kita begitu kuat pengaruh globalisasi. Akhirnya ideologi bangsa terjepit di antara ideologi agama dan ideologi pasar bebas. Mungkinkah ‘revolusi mental’ menjadi penyelamat ‘ideologi bangsa?’.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Cyprianus Rowaleta