Imam Besar Istiqlal: Pusat Kepemimpinan Islam Ada di Indonesia
03/11/2018
Islam dan Kearifan Lokal
03/15/2018

Belajar dari Piagam Aelia

Dunia Islam seharusnya tidak boleh melupakan Piagam Aelia (Mitsaq Aeliya), sebuah piagam perjanjian yang dibuat Umar ibn Khattab ketika melakukan pembebasan Al-Quds (Aelia) dari tangan Romawi yang ditandatangani pada 20 Rabiul Awal 15 H/ 5 Februari 636 M. Piagam ini bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan dan keselematan berbagai pihak di dalam wilayah Yerusalem yang baru saja diambil alih oleh pasukan Umar. Untuk mengatasi gejolak yang biasanya muncul di dalam masyarakat transisi, Umar ibn Khattab membuat Piagam Aelia. Piagam ini sangat efektif untuk membuat masyarakat pluralis Palestina lebih tenang, karena pengambilalihan kota ini dari kerajaan Romawi lebih dirasakan masyarakat sebagai “pembebasan” (futuhat) ketimbang sebagai penaklukan, apalagi penjajahan.

Aelia nama lain dari Yerusalem, lengkapnya Aelia Capitolina, diambil dari nama kuil Dewi Aelia yang dibangun di atas Kuil Solomon, setelah kota itu dikuasai Kristen Romawi-Byzantium. Pasukan tentara Arab Muslim yang dipimpin oleh Khalifah Umar ibn Khattab bisa dipandang sebagai pembebas umat Kristen lokal di sana, yang dikuasai penguasa Kristen Romawi-Byzantium karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran-ajaran mereka. Kristen lokal di Aelia  tidak mengakui hasil Konsili Kalsedon, yang dihasilkan Kristen Romawi-Byzantium. Pada saat bersamaan, Kristen lokal Aelia juga membenci kaum Yahudi dan Kuil Solomon, mereka dijadikan tempat pembuangan sampah. Perjanjian Aelia memberikan jaminan eksistensi terhadap tiga agama dominan sebelumnya yaitu Yahudi, Kristen lokal, Kristen Ortodoks Romawi-Byzantium, dan tentu saja ditambah dengan Islam.

Khalifah Umar mendamaikan antara Kristen lokal dan Kristen Romawi-Bizantium, serta minoritas Yahudi di Kota Yerusalem dan agama Islam yang baru datang di wilayah itu. Dengan demikian, Piagam Aelia mendamaikan empat komponen agama penting di wilayah itu: Kristen lokal, Kristen Romawi-Byzantium, Yahudi, dan Islam.  Sungguh hebat Piagam Aelia ini diukur dalam konteks masyarakat moderen. Piagam Aelia merupakan wujud konkrit kelanjutan masyarakat madani (civil society), yang pernah digagas dan dicontohkan Nabi Muhammad SAW. dan kemudian diaktualisasikan oleh Umar Ibn Khattab di beberapa kota. Piagam Madinah dan Piagam Aelia merupakan cermin sebuah bangunan masyarakat demokratis yang menghargai pluralitas dengan prinsip-prinsip dasar seperti keadilan (’adalah), egalitarian (musawa), moderat (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan tentu saja dengan kepemimpinan yang didukung dengan supremasi hukum (imamah) yang ideal.

Tidak heran jika perwujudan masyarakat madani dalam masa proto Islamic law, menurut istilah David Power, menjadi contoh masyarakat ideal yang sulit dicari padanannya pada masyarakat sebelumnya. Bahkan sosiolog terkemuka Robert N. Bellah mengakui masyarakat Madinah di masa Nabi adalah suatu masyarakat yang sangat moderen di zamannya. Sayang sekali, menurut Bellah, tatanan masyarakat madaniah ini tidak bertahan lama dalam dunia Islam karena wilayah Timur Tengah kembali ke sistem lama, yaitu sistem monarki. Cak Nur juga pernah menggambarkan sistem kemasyarakatan di masa awal Islam sebagai negara moderen yang lahir jauh melampaui zamannya.

Unsur-unsur penting dan monumental dalam Piagam Aelia antara lain, adanya jaminan keamanan jiwa, keluarga, harta, dan properti bagi semua pihak di Aelia. Eksistensi agama-agama, termasuk rumah-rumah ibadah, seperti gereja Kristen lokal, gereja Kristen Romawi-Byzantium, kuil Yahudi, dan masjid diakui dan dijamin tidak akan diintervensi oleh penguasa baru Muslim. Bahkan kaum Yahudi yang tadinya terusir dari wilayah ini sudah bisa masuk dan menjalankan ajaran agamanya dengan bebas di bawah jaminan Piagam Aelia. Mereka tidak  diprovokasi apalagi diintimidasi atau dipaksa masuk agama Islam. Warga Romawi-Byzantium yang menduduki wilayah ini juga tetap bisa hidup di dalam Aelia selama bersedia taat pada aturan dalam Piagam Aelia.

Piagam Aelia sangat luar biasa. Banyak ilmuwan menganggap Piagam ini sebuah loncatan pikiran yang melampaui zamannya. Meskipun Umar ibn Khattab banyak menggunakan simbol-simbol Islam tetapi setiap warga bangsa dijamin kebebasannya untuk menjalankan agamanya masing-masing. Rumah ibadah tidak ada yang diganggu, dan praktik-praktik keagamaan tidak ada yang dihalangi, serta atribut-atribut keagamaan tetap dipertahankan. Suasana batin masyarakat tidak terusik sama sekali dengan kehadiran pasukan Umar.

Selengkapnya Piagam Aelia tersebut dalam versi terjemahan bahasa Indonesia sebagai berikut:

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Inilah jaminan keamanan yang diberikan `Abdullah, Umar, Amir al-Mu`minin kepada penduduk Aelia:

Ia menjamin mereka keamanan untuk jiwa dan harta mereka, dan untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka, serta dalam keadaan sakit ataupun sehat, dan untuk agama mereka secara keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki dan tidak pula dirusak, dan tidak akan dikurangi sesuatu apapun dari gereja-gereja itu dan tidak pula dari lingkungannya; serta tidak dari salib mereka, dan tidak sedikit pun dari harta kekayaan mereka (dalam gerejagereja itu). Mereka tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidak dari seorangpun dari mereka boleh diganggu. Dan di Aelia tidak seorang Yahudi pun boleh tinggal bersama mereka.

Atas penduduk Aelia diwajibkan membayar jizyah sebagaimana jizyah itu dibayar oleh penduduk kota-kota yang lain (Syria). Mereka berkewajiban mengeluarkan orang-orang Romawi dan kaum al-Lashut dari Aelia. Tetapi jika dari mereka (orang-orang Romawi) keluar (meninggalkan Aelia) maka ia (dijamin) aman dalam jiwa dan hartanya sampai tiba di daerah keamanan mereka (Romawi). Dan jika ada yang mau tinggal, maka iapun akan dijamin aman. Dia berkewajiban membayar jizyah seperti kewajiban penduduk Aelia. Dan jika ada dari kalangan penduduk Aelia yang lebih senang untuk menggabungkan diri dan hartanya dengan Romawi, serta meninggalkan gereja-gereja dan salib-salib mereka, maka keamanan mereka dijamin berkenaan dengan jiwa mereka, gereja mereka dan salib-salib mereka, sampai mereka tiba di daerah keamanan mereka sendiri (Romawi). Dan siapa saja yang telah berada di sana (Aelia) dari kalangan penduduk setempat (Syiria) sebelum terjadinya perang tertentu (yakni, perang pembebasan Syiria oleh tentara Muslim), maka bagi yang menghendaki ia dibenarkan tetap tinggal, dan ia diwajibkan membayar jizyah seperti kewajiban penduduk Aelia; dan jika ia menghendaki, ia boleh bergabung dengan orang-orang Romawi, atau jika ia menghendaki ia boleh kembali kepada keluarganya sendiri. Sebab tidak ada suatu apa pun yang boleh diambil dari mereka (keluarga) itu sampai mereka memetik panenan mereka.

Atas apa yang tercantum dalam lembaran ini ada janji Allah, perlindungan Rasul-Nya, perlindungan para Khalifah dan perlindungan semua kaum beriman, jika mereka (penduduk Aelia) membayar jizyah yang menjadi kewajiban mereka.

Menjadi saksi atas perjanjian ini Khalid Ibn al-Walid, `Amr Ibn al-Ashsh, `Abdurrahman Ibn `Awf, dan Mu`awiyah Ibn Abi Sufyan. Ditulis dan disaksikan di tahun lima belas (Hijriah).

Kiranya butir-butir Piagam Aelia ini bisa memberikan pengaruh positif bagi Indonesia yang dipadati lebih dari 200 juta penduduk atau sebagai negara muslim terbesar di dunia saat ini. Bagaimana kepiawaian dan kemoderatan Umar dipertaruhkan di dalam piagam ini. Tanpa niat yang luhur dan idealisme serta ideologi yang kuat, tidak mungkin piagam ini bisa lahir.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah & Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto 696188/Pixabay