Reartikulasi Bahasa Agama tentang Perempuan
03/24/2018
Memberdayakan Perempuan
03/25/2018

Belajar dari Pribadi Ibnu Rusyd

 

Bagi orang yang pernah belajar Ilmu Fikih, khususnya Fikih Perbandingan Mazhab, maka pasti mengenal Ibnu Rusyd, yang bernama lengkap Abu al-Walid Muhammad ibnu Ahmad Ibn Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ahmad ibnu Rusyd, yang di Eropa lebih dikenal dengan nama Averroes. Ia lahir di Cordova, Spanyol sekarang, pada 520 H/1126 M. Buku fikihnya yang sangat terkenal ialah Bidayah al-Mujtahid (dua jilid), kitab yang amat komprehensif membandingkan berbagai pendapat para ulama fikih tentang berbagai masalah keagamaan. Ia sosok ilmuan multi disiplin, tetapi sangat tawadhu. Ia tidak ingin melihat umat berbeda pendapat karena persoalan non-dasar (furu’iyyah). Ia juga tidak ingin menghakimi para ulama yang terlibat di dalam ketegangan perdebatan fiqhiyyah pada masanya. Ia menyadari bahwa ketegangan antar golongan pada masanya disebabkan karena sentimen mazhab dan aliran.

Ia menulis kitabnya Bidayah al-Mujtahid yang sesungguhnya bertujuan untuk melenturkan pandangan para ulama fikih pada masanya, yang terkotak-kotak sebagai akibat fanatisme mazhab. Kalangan pengikut Imam Abu Hanifah mengunggulkan pendapat imamnya. Demikian pula para pendukung Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad ibn Hanbal. Para murid atau pengikut salah satu imam tidak segan-segan menjelek-jelekkan pendapat dan pengikut mazhab lain. Ibnu Rusyd berusaha meredakan ketegangan dengan menulis ‘buku pintar’ untuk mempertemukan berbagai pengikut mazhab. Kitab Bidayah al-Mujtahid bisa dikatakan semacam ‘Fikih Kebhinnekaan’ pada masanya.

Dalam suatu masalah (maudhu’) ia menguraikan sebab musabab yang berdampak terjadinya perbedaan pendapat para ulama. Ia tidak tampil menghakimi para ulama yang berbeda pendapat, tetapi mencoba untuk mempertemukan wawasan yang berbeda di antara mereka. Ia sangat berhati-hati di dalam menilai pendapat Imam Abu Hanifah yang lebih moderat bahkan cenderung ‘liberal’, Imam Ahmad ibn Hanbal yang lebih ketat, Imam Malik yang lebih tekstual, dan Imam Syafi’ yang konsisten dengan pendapatnya yang moderat. Kehadiran kitab Bidayah al-Mujtahid ikut merekatkan solidaritas umat. Ia juga menjembatani antara kalangan konservatif yang sering diwakili oleh Imam Al-Gazali dan golongan Mu’tazilah, meskipun juga ia pernah dituding memiliki pendapat yang rancu (Ingat wacana Tahafut al-Falasifah dan Tahafut al-Tahafut). Dalam kondisi di mana masyarakat terjadi pembengkakan kualitas, pasti ketegangan dan dialog panas sering terjadi. Namun, jika tidak segera didinginkan, maka hal itu akan cenderung destruktif. Di sinilah Ibnu Rusyd berusaha menghimpun dan menyatukan umat dengan kearifan yang dimilikinya.

Ibnu Rusyd sendiri pernah menjabat sebagai hakim di Sevilla dan Cordova pada masa Khalifah al-Manshur Ibnu Rusyd, walaupun pada akhirnya ia dibenci oleh khalifah karena ketajaman penanya. Ia multitalenta. Terampil menjadi pejabat, cekatan di medan perang, dan mendalami banyak disiplin ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika-tasawuf, dan filsafat. Ia memang seorang “kutu buku” sejak kecil, ia lahir dari gen cerdas, baik dari pihak ayah maupun ibunya. Keturunannya juga banyak tercatat sebagai ilmuan tersohor.

Keunggulan Ibn Rusyd dalam bidang keilmuan dibuktikan dengan praktik kesehariannya. Di pagi hari ia praktik sebagai dokter dan ilmuan kimia-biologi, di siang hari ia praktik sebagai ahli fikih dan memberi bantuan hukum kepada masyarakat. Di malam hari ia seorang ulama sufi. Banyak karya Ibnu Rusyd yang sangat menakjubkan. Jika kita membaca kitab Bidayah al-Mujtahid yang berisi fikih perbandingan mazhab, kita lupa kalau dia seorang dokter. Jika kita membaca  Kulliyaat fi at-Tibb, yang berisi ensiklopedia kedokteran, sama sekali tidak disangka kalau dia seorang ulama fikih. Jika kita membaca kitabnya  Fashl Al-Maqal fi Ma Bain al-Hikmah wa al-Syari’ah, yang memuat aspek sufisme dalam konsep Syari’ah Islam, jauh dari persangkaan kita kalau dia seorang dokter spesialis bedah.

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Platonicus/pixabay