Memberi Salam Kepada Non-Muslim
03/21/2018
Memperbaiki Citra Teologi Perempuan
03/22/2018

Berkesetaraan Gender

 

Salah satu corak Fikih Kebhinnekaan ialah mempromosikan kesetaraan gender. Yang dimaksud kesetaraan gender di sini bukan persamaan gender (gender equality) tetapi kesetaraan gender (gender equity). Yang pertama lebih mengedepankan persamaan hak dan kewajiban tanpa memandang adanya nilai perbedaan di antara keduanya. Yang kedua masih lebih bersifat ketimuran yang memberikan unsur-unsur keunikan perempuan. Yang terakhir ini mempromosikan kesetaraan, dimana laki-laki dan perempuan tampil memerankan diri dengan keunikan masing-masing di dalam berbagai bidang kehidupan, tanpa kesan diskriminasi satu sama lain, baik di sektor privat maupun di sektor publik. Kesetaraan gender mengakui adanya perbedaan (distinctiveness) tetapi tidak menolerir terjadinya pembedaan (discrimination) antara laki-laki dan perempuan. Yang pertama lebih banyak didukung oleh kelompok feminis progresif, sedangkan yang kedua didukung oleh kelompok soft feminist.

Sekali lagi, kesetaraan gender yang dimaksud di dalam tulisan ini ialah gender equity. Bagaimanapun juga, laki-laki dan perempuan pasti berbeda, baik secara biologis maupun dampak dari perbedaan secara biologis tersebut. Tidak bijaksana jika menyamakan tugas antara perempuan yang sedang menjalani fungsi reproduksinya, seperti hamil, melahirkan, menyusui, dan menjalani menstruasi disamakan tugas dan tanggung jawab sosialnya dengan laki-laki. Perempuan yang sedang demikian tidak bisa lantas dijadikan alasan untuk menilainya tidak produktif, karena sesungguhnya ia sedang menjalankan fungsi khusus yang luar biasa. Dikatakan luar biasa karena kaum laki-laki tidak pernah bisa menjalani fungsi adikodrati tersebut. Justru merupakan sebuah keadilan gender ketika kita memberikan dispensasi kepada kaum perempuan yang sedang menjalani fungsi adikodrati tersebut. Inilah keadilan gender dalam arti gender equity.

Masyarakat yang menghargai apalagi menjunjung tinggi kesetaraan gender akan melahirkan suasana damai di dalam masyarakat. Baik di dalam lingkup masyarakat terkecil seperti keluarga, maupun di dalam lingkup masyarakat luas. Ketimpangan sosial pasti muncul manakala ketidakadilan gender terjadi di dalam masyarakat. Karena itu, keadilan gender merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya mewujudkan keadilan sosial. Selain hal itu menjadi perintah agama yang juga menjadi amanah Pancasila dan konstitusi untuk memperjuangkannya “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Laki-laki dan perempuan sama-sama bertanggung jawab untuk mewujudkan amanah dua sumber nilai luhur ini di dalam masyarakat.

Di dalam Al-Qur’an ditegaskan:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (Q.S. al-Nahl/16: 90).

Perintah berlaku adil di sini termasuk keadilan dan kesetaraan gender, karena di dalam beberapa ayat ditekankan tentang tidak bolehnya mendiskreditkan salah satu jenis kelamin di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Tuhan, sama-sama sebagai khalifah, sama-sama anak cucu Adam, sama-sama berpotensi meraih prestasi dunia-akhirat. Perbedaan yang bersifat biologis, termasuk komposisi kimia dan segala dampaknya, tidak bisa dijadikan alasan untuk mendiskreditkan, apa lagi merumahkan perempuan, seperti yang pernah dialami kaum perempuan di masa primitif.

Aktualisasi kesetaraan gender tidak hanya di level wacana, sebagaimana sering disuarakan di mimbar agama oleh pemuka agama, di mimbar politik oleh para politisi, di LSM penggiat kesetaraan gender, tetapi betul-betul dituntut menjadi kenyataan. Di sinilah peran Fikih Kebhinnekaan dituntut untuk mewujudkan kesetaraan gender tanpa merusak tatanan indah konsep relasi gender yang diperkenalkan di dalam Al-Qur’an, yaitu gender equity. Allahu a’lam.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.
Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Foto oleh Tattana Lompo