Bersahabat Dengan Laut
07/11/2018
Doa Imam Istiqlal di MPR: Semoga Kita Tak Hanya Kritis, tapi Santun
08/16/2018

Bersahabat Dengan Api

KITA sering menyaksikan tarian mistik (mystical dancing) di sejumlah daerah di Indonesia. Yang lebih sering kita tonton ialah tarian daerah Banten, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Bali. Di antara mereka ada yang menari di atas bara api, ada yang menggunakan cambuk atau cemeti dari api, ada yang membakar dirinya dengan obor yang menyala, dan ada yang saling menyulut dengan api dari daun kelapa kering. Sulit dipercaya tetapi itu fakta. Ini satu pertanda bahwa di dalam masyarakat ada sebuah tradisi bersifat mistik yang tetap dilestarikan. Sulit dipercaya ada orang yang tidur di atas bara api tanpa sedikitpun badannya lecet. Kearifan lokal seperti ini amat kaya di Indonesia, bahkan hampir setiap pulau memiliki kebiasaan bermain api tanpa menimbulkan korban.

Dalam Islam, sebuah kisah yang amat monumental diabadikan dalam Al-Qur’an, ketika Nabi Ibrahim selesai menghancurkan berhala-berhala masyarakatnya lalu ia ditangkap dan diadili oleh Raja Namrud. Oleh Raja tersebut, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk dilontarkan ke lautan api yang amat mengerikan. Raja Namrud sendiri bersama para permaisurinya akan menyaksikan pembakaran Nabi Ibrahim. Manusia merencanakan tetapi Allah Swt Yang Maha Menentukan. Nasib Nabi Ibrahim berubah. Ia berada di dalam lautan api tanpa sedikitpun anggota badannya yang lecet karena api. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai berikut: Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. (Q.S. al-Anbiya’/21:67-69).

Setelah apinya padam, maka tinggallah baranya. Ketika Raja Namrud bersama para pendukungnya kepanasan menyaksikan peristiwa pembakaran tersebut, tetapi yang terjadi adalah Nabi Ibrahim berjalan di atas bara api tanpa sedikitpun pakaiannya tersulut api. Bahkan ia merasa kedinginan di atas bara api atas izin Allah Swt. Api adalah makhluk seperti manusia juga. Api tidak akan tega menyakiti kekasih Allah, bahkan turut menyelamatkan kekasihnya. Kita teringat bagaimana Malaikat Maut diminta mencabut nyawa Nabi Muhammad, ia mengeluh ke Jibril, bagaimana mungkin aku bisa mencabut nyawa sahabatku dan kekasih Allah Swt, lalu Jibril menegaskan: Kerjakan perintah Tuhanmu. Lalu Malaikat maut mencabut nyawa Rasulullah dengan sangat pelan.

Persahabatan dengan sesama makhluk Allah Swt banyak dilakukan oleh para tokoh dan praktisi agama. Tak terkecuali agama selain Islam. Para biksu di dalam menjalankan ritual keagamaannya sering menjadikan api sebagai salah satu sarananya. Ia terkadang menari atau berdiri tegak di atas bara api tanpa sedikitpun merasakan panasnya api. Dalam kepercayaan tertentu api dianggap sebagai bagian dari Dewa yang dipuja dan disembah. Ketika Nabi Muhammad dilahirkan, ada perapian yang tidak pernah padam ribuan tahun lamanya tetapi setelah Nabi lahir tiba-tiba perapian itu padam tanpa sebab. Sama dengan adanya sebuah telaga di tengah padang pasir dikeramatkan dan disembah orang tetapi tiba-tiba kering ketika Nabi lahir. Hal ini dikisahkan di dalam sejumlah kitab-kitab sejarah Nabi Muhammad Saw (Sirah Al-Nabawi).

Persahabatan dengan api yang kemudian menimbulkan ketakjuban mengisyaratkan kepada kita bahwa benda-benda alam seperti api semua tunduk di bawah kekuasaan Allah Swt. Dalam keyakinan umat Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, sesungguhnya tidak ada benda mati. Semuanya bertasbih kepada Allah Swt. Hanya saja kita yang tidak memahami tasbih mereka, sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, terutama dalam Q.S. al-Isra’/17:44).

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Cyprianus Rowaleta