Kurikulum Islam Indonesia: Khutbah-Khutbah Imam Besar
07/09/2018
Bersahabat Dengan Api
07/15/2018

Bersahabat Dengan Laut

DALAM disertasi Dr. H. Baharuddin Lopa, S.H., mantan Jaksa Agung RI, diungkapkan bentuk persahabatan pelaut dan nelayan masyarakat Bugis-Mandar. Di antara cerita itu ialah kebiasaan para pelaut Mandar menceburkan kaki kanan sampai selutut di dalam laut sebelum melaut. Kurang lebih 5-10 menit, para pelaut Mandar tersebut mendapatkan isyarat cuaca laut yang akan dituju. Mereka seolah-olah mendapatkan isyarat jika akan ada badai atau gelombang yang membahayakan di tempat tujuan. Mereka juga mendapatkan isyarat di wilayah mana ikan-ikan laut yang menjadi sasaran akan berkumpul. Jika kemungkinan akan ada ombak besar atau perubahan cuaca, mereka menunda untuk melaut sampai muncul isyarat positif dari laut. Mereka sama sekali tidak dibekali oleh alat-alat canggih semisal kompas atau GPS. Namun mereka memahami kejadian yang akan muncul di laut melalui bahasa isyarat yang disampaikan oleh Sang Laut yang menjadi sahabat spiritual mereka. Kadang-kadang informasi itu malah lebih valid daripada informasi yang diperoleh melalui prakiraan cuaca yang disiarkan oleh media massa yang ada.

Pengalaman yang sama juga ditunjukkan seorang nakoda tradisional asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, ketika ikut serta dalam misi napak tilas perahu phinisi dari Makassar ke Vancouver, Kanada, untuk berpartisipasi dalam Ekspo 86 Vancou­ver. Selama 69 hari mereka melayarkan phinisi dari Jakarta untuk mengharumkan nama bang­sa di Expo tersebut. Expo itu mengambil tema: “World in Motion World in Touch” diselenggara­kan untuk menunjukkan teknologi transportasi dan komunikasi negara di dunia. Kapal phinisi Nusantara merupakan kapal layar asli buatan para ahli dari Tana Beru, Bontobahari, Bulukumba. Konsepnya dibuat secara tradisional, tetapi di­lengkapi dengan navigasi dan telekomunika­si yang canggih seperti peralatan komunikasi menggunakan satelit Inmarsat, yang merupa­kan sistem telekomunikasi tercanggih saat itu. Untuk tanda panggil (call sign, perahu ini mengguna­kan kode YDYN. Ekspedisi Phinisi Nusantara ini ditulis oleh Pius Caro, wartawan Kompas yang ikut dalam ekspedisi tersebut, dan buku­nya diterbitkan oleh Penerbit Kompas tahun 2012 lalu. Banyak cerita menarik dalam perjalanan lebih dua bulan itu. Di antaranya keahlian na­koda Bugis-Makassar mendeteksi dan mem­perkirakan perkembangan cuaca yang tidak kalah tepatnya dengan perkiraan peralatan canggih yang dimodifikasikan ke dalam Phinisi Nusan­tara yang dinakodai oleh Gita Ardjakusuma, pelaut dengan ijazah MPB I, lulusan AAL Sura­baya tahun 1968. Kelihaian para pelaut senior Bugis-Makassar yang ikut serta dalam perahu itu betul-betul patut diacungi jempol. Dalam cerita Pius Caro, terkadang pelaut tradisional tersebut lebih dominan menentukan jalannya ekspedisi menantang ini. Itu semua dimung­kinkan karena jalinan persahabatan antara para leluhurnya secara turun temurun dengan laut.

Pertanyaannya ialah bagaimana para pelaut Bugis-Makassar bersahabat dengan laut? Ten­tu hal itu tidak terjadi secara cuma-cuma atau datang begitu saja, tetapi melalui jalinan persahabatan antara ke­luarga pelaut dengan Sang Laut. Seperti hal­nya pembuatan kapal perahu phinisi lainnya, selalu ada santap bace, upacara pemotongan awal kapal, oleh seorang panrita yang diawa­li dengan membakar kemenyan, memanterai pahat dan gergaji, seperti yang dilakukan oleh panrita Daeng Marinyo yang membuat Phinisi Nusantara legendaris itu. Dengan posisi mem­bujur terhadap garis Selat Selayar, potongan lunas yang ada di hilir segera dibuang ke laut sebagai penolak bala, sedangkan yang hulu disimpan di rumah pemilik perahu. Sepintas lalu menyerupai praktik sinkretik, yang di­pandang praktik sesat olah Kaum Salafi, tetapi mereka tidak mau disebut menjalankan praktik musyrik karena mereka juga sudah haji berkali-kali. Apa yang dilakukannya bukan proses pe­nyembahan laut tetapi proses jalinan persaha­batan dengan laut. Lain menyembah laut lain bersahabat dengan laut.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Fibrian Yusefa Ardi