BUKU

Argumen Gender

Judul: Argumen Kesetaraan Jender: Perspektif Al-Qur’an
Jumlah halaman: 302
Penerbit: Paramadina/Dian Rakyat
Tahun terbit: 1999/2010

Perbedaan laki-laki dan perempuan masih menyimpan beberapa masalah, baik substansi kejadian maupun peran yang diemban dalam masyarakat. Perbedaan anatomi biologis antara keduanya cukup jelas, namun efek yang timbul akibat perbedaan itu menimbulkan perdebatan, karena ternyata perbedaan jenis kelamin melahirkan seperangkat konsep budaya. Al-Qur`an mempersilahkan kepada kecerdasan-kecerdasan manusia di dalam menata pembagian peran laki-laki dan perempuan. Manusia mempunyai kewenangan untuk menggunakan hak-hak kebebasan dalam memilih pola pembagian peran jender yang lebih adil. Al-Qur`an mengakui adanya perbedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan tersebut bukanlah perbedaan (discrimination) yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Perbedaan tersebut dimaksudkan untuk mendukung misi pokok Al-Qur`an, yaitu terciptanya hubungan harmonis yang didasari rasa kasih sayang (mawaddah wa rahmah) di lingkungan keluarga, sebagai cikal bakal terwujudnya komunitas ideal dalam suatu negeri yang damai penuh ampunan Tuhan (baldat-un thayyibat-un wa rabb-un ghafur). Ini semua bisa terwujud manakala ada pola keseimbagnan dan keserasian antara keduanya. Kualitas individu laki-laki dan perempuan di mata Tuhan tidak ada perbedaan. Amal dan prestasi keduanya sama-sama diakui Tuhan, keduanya sama-sama berpotensi memperoleh kehidupan duniawi yang layak, dan keduanya mempunyai potensi yang sama untuk masuk surga.

Fikih Wanita

Judul: Fikih Wanita Untuk Semua
Jumlah halaman: 199
Penerbit: Serambi
Tahun terbit: 2010

Inilah fikih wanita untuk zaman kita. Mengulas tuntas tema-tema penting tentang perempuan dalam hukum Islam, menyuguhkan pembacaan yang lebih arif dan berwawasan. Dari aurat hingga imam shalat. Dari akikah sampai wali nikah. Dari aborsi hingga poligami. Buku ini ada untuk Anda, wanita maupun pria. Inilah Fikih Wanita untuk Semua. Di dalamnya, Anda juga akan menemukan jawaban seputar haid, posisi wanita dalam kehidupan pernikahan, dan kedudukan wanita dalam kepemimpinan serta karier. Dengan kedalaman intelektual, plus nuansa tafsir dan tasawuf yang disajikannya, penulis mengemukakan hal-hal yang patut direnungkan oleh semua untuk mendalami pesan teragung Islam tentang perempuan; pesan yang memuliakan bukan yang memojokkan, pesan yang memberdayakan bukan yang memandulkan peran, dan pesan yang membebaskan bukan yang memenjarakan. Pembaca akan mendapati buku ini bersahabat buat siapa saja; tak terkesan menggurui atau menghakimi; dan tanpa membuat jenuh pembaca dengan uraian yang panjang dan akademis. Sangat sayang untuk dilewatkan. Memang.

Islam Fungsional_resize

Judul: Islam Fungsional
Jumlah halaman: 384
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2014

Agama memiliki dua kekuatan utama, yaitu sebagai faktor kekuatan daya penyatu (centripetal) dan faktor kekuatan daya pemecah belah (centrifugal). Ada benarnya ungkapan kalangan ahli fenomenologi agama bahwa agama itu identik dengan nuklir. Di satu sisi bisa memberikan kegunaan yang luar biasa untuk kehidupan manusia, misalnya sebagai kekuatan pembangkit tenaga listrik yang jauh lebih murah dan ini sudah digunakan oleh enam negara berpenduduk besar di dunia kecuali Indonesia, tetapi di sisi lain bisa menjadi bumerang bagi dunia kemanusiaan sebagaimana pernah terjadi di Hirosima dan Nagasaki. Dalam sebuah masyarakat yang pluralis, yang dipadati multi etnik, bahasa, dan agama, apa lagi terpisah-pisah oleh kepulauan seperti Indonesia, maka disadari betul betapa pentingnya menampilkan agama sebagai faktor sentripetal. Selain sebagai keyakinan yang dianut secara paripurna, agama juga berfungsi sebagai social control dan motivator pembangunan berdimensi kemanusiaan. Bahkan agama juga berperan sebagai instrumen perekat keutuhan bangsa. Dengan menyadari arti penting agama tadi, maka fungsi dan peran agama perlu dipertahankan kelangsungannya di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Diakui atau tidak, disadari atau tidak, kekuatan agama sebagai faktor sentripetal telah berjasa besar di dalamnya. Pemimpin dan para elit penguasanya boleh gonta-ganti tetapi kekuatan nilai-nilai dan norma-norma agama sebagai living low di dalam masyarakat tetap bekerja. Masing-masing umat beragama di Indonesia menjalankan ajaran-ajaran dan hukum agamanya dengan taat tanpa peduli siapapun penguasanya. Masalah agama adalah salah satu faktor yang sangat sensitif di Indonersia. Ini dapat dimaklumi karena bangsa Indonesia termasuk penganut agama yang taat. Solidaritas agama biasanya melampaui ikatan-ikatan primordial lainnya, seperti ikatan kesukuan dan ikatan kekerabatan. Oleh karena itu, penataan antar umat beragama dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus. Selain itu, fungsi kritis agama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tentu sangat diperlukan, terlebih lagi dalam konteks masyarakat bangsa kita yang sedang menjalani masa transisi dari sebuah reformasi. Fungsi kritis agama diperlukan bukan hanya untuk menyadarkan pola pikir dan perilaku individu di dalam masyarakat, tetapi juga untuk memberikan direction terhadap konsep dan perencanaan pembangunan. Melalui buku ini kita akan diajak untuk kembali membaca dan menelaah ulang kitab suci, menumbuh-kembangkannya sehingga membumi dekat kepada masyarakat, menatap ke masa depan yang lebih baik dan tidak berhenti hanya di masa lalu tetapi menjadi sejarah gemilang yang berulang.

2014-Ketika Fikih Membela Perempuan_resize

Judul: Ketika Fikih Membela Perempuan
Jumlah halaman: 248
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2014

Fikih adalah penafsiran secara kultural terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam sejarah intelektual Islam, syariah dibedakan dengan fikih. Fikih yang disusun di dalam masyarakat yang cenderung didominasi oleh laki-laki (male dominated society) —seperti di kawasan Timur Tengah ketika itu— sudah tentu akan melahirkan fikih yang bercorak patriarki. Fenomena ini, melahirkan beberapa sikap yang dikumandangkan oleh beberapa kalangan. Sebagian di mereka masih bersikap hati-hati, dan sebagian lainnya bersikap optimis. Kelompok pertama masih mempertanyakan; apakah gerakan kesetaraan gender (dalam fikih) tidak akan menimbulkan kontra produktif, Karena di satu sisi gerakan tersebut berobsesi mewujudkan keadilan gender, yang sesungguhnya merupakan bagian dari maqâshid syari’ah, namun pada sisi lain, gerakan ini akan mendekonstruksi beberapa konsep dan institusi yang sudah mapan di masyarakat. Buku ini akan memaparkan bagaimana cara menjembatani itu semua, dengan memberikan alternatif pemikiran baru dan langkah konkret bagaimana seharusnya fikih membela perempuan. Semoga buku ini dapat memberikan wawasan keislaman yang lebih luas, dan bermanfaat bagi seluruh umat Islam di mana pun berada.

Mendekati Allah

Judul: Mendekati Tuhan dengan Kualitas Feminin
Jumlah halaman: 320
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2014

Sejarah panjang aktivitas kehidupan umat manusia, selalu diawali dari satu titik mula. Satu proses yang niscaya dilalui untuk melangkah pada proses berikutnya. Karena semua yang ada di alam raya ini adalah makhluk, memiliki awal dan akhir. Hanya Allah Swt., (Khalik) yang tak berawal dan tak berakhir. Di dalam buku ini, dibahas persoalan relasi laki-laki, perempuan, alam, dan Tuhan, dari semenjak diciptakannya Adam hingga masa sekarang. Dengan kekuatan pendekatan sejarah yang ditampilkan, maka buku ini akan dapat memudahkan pembaca melihat dengan jelas konstruk diskriminasi gender yang diciptakan. Hukum Hammuraby (Hammuraby Code) di Babylonia, dan segala hal tentang permasalahan perempuan dari semenjak ratusan abad sebelum Masehi (SM), masa penjajahan Belanda di Indonesia, hingga persoalan wanita kontemporer, dijelaskan dengan secara gamblang, apik dan cerdas. Kepakaran penulis dalam bidang ilmu Al-Qur’an, menjadikan buku ini semakin kaya akan data dan argumen, baik argumen sejarah maupun teologis. Dengan membaca buku ini, pembaca akan dibawa untuk berpetualang bersama ke realitas perempuan yang banyak tersembunyi, dan menyibak setiap detail tabu kehidupan para perempuan, serta fenomena-fenomena lainnya tentang perempuan.

Menuai Fadhilla

Judul: Menuai Fadhilah Dunia, Menuai Berkah Akhirat
Jumlah halaman: 292
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2014

Dalam hidup ini sering kita jumpai dua wajah yang berhadap-hadapan; suka dan duka, bahagia dan sedih, kaya dan miskin, besar dan kecil. Kesemuanya adalah warna kehidupan yang menjadikan dunia semakin indah untuk dijalani. Ketika kemiskinan menimpa manusia, maka akan muncul daya juang dalam diri untuk menghilangkannya. Atau ketika rasa sedih menghampiri, maka jiwa akan berjuang meraih kebahagiaan. Dengan semua inilah maka kehidupan kita semakin bervariasi, karena memang manusia tidak bisa hidup dalam satu bentuk nasib saja. Sikap bijak dalam menyikapi kehidupan banyak dipengaruhi oleh kondisi jiwa yang seimbang dalam memandang dunia dan akhirat secara bersamaan. Artinya, kecenderungan jiwa terhadap salah satunya menyebabkan munculnya sikap yang kurang bijak dalam menyikapi hidup ini. Sikap yang bijak tentu saja tidak lahir dengan sendirinya. Dibutuhkan latihan dan kesabaran untuk membangunnya. Dalam diri manusia terdapat dua unsur yang membentuk karakter dan kejiwaan seseorang, yaitu: Fisik dan Ruh. Manusia dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan fisik dan ruhiyahnya. Hanya saja kebanyakan manusia lebih fokus dalam memenuhi kebutuhan fisiknya semata, sehingga melalaikan kebutuhan ruhiyahnya yang justru lebih penting sehingga akan menjadi penyakit hati yang akan menggangu kebahagiaan batin dan fisiknya dan tentu saja menjauhkannya dari Allah SWT. Buku ini menjadi sangat penting untuk dibaca sebagai bahan renungan dan pencerahan sehingga diharapkan para pembaca dapat lebih bijaksana dan berlaku adil dalam menilai dan menghadapi realita kehidupan yang fana ini. Buku ini walau kental dengan bahasan suluk Tasawuf, ditulis dengan bahasa yang sederhana sehingga lebi mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Pembahasan dalam buku ini juga dibubuhi dengan kata-kata mutiara serta cerita pengalaman yang berkaitan dengan bahasan sehingga tidak terkesan “terlalu serius” yang menjadikan buku ini lebih enak dibaca.

2014-Rethinking Pesantren_resize

Judul: Rethinking Pesantren
Jumlah halaman: 160
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2014

Tindakan radikal yang mengatasnamakan Islam di dunia dan di Indonesia pada khususnya, telah banyak mencemarkan nama baik Islam di mata dunia, khususnya di bumi nusantara. Bahkan peristiwa tersebut menjadi penyebab utama terhadap munculnya kelompok-kelompok Islam phobia yang anti Islam. Hal ini secara otomatis memiliki efek domino terhadap stigma negatif – khususnya dalam persfektif Barat- terhadap apa pun yang berkaitan erat dengan Islam termasuk diantaranya dunia pendidikan Islam. Pesantren sebagai basis utama pendidikan Islam di Indonesia yang telah berdiri semenjak ratusan abad yang lalu, -setelah terungkapnya beberapa teroris yang alumni pesantren,- pesantren seringkali menjadi target bullying kedengkian media Barat. Pesantren seringkali dianggap sebagai sarang teroris yang mengajarkan kebencian bukan cinta kasih, kegalakan dan bukan kelembutan. Ditambah lagi, media massa Barat yang berlomba-lomba menggambarkan Islam sebagai “sarang teroris, pusara kedengkian, anti-Barat, dan anti demokrasi”, pada akhirnya masyarakat Islam dunia pun (pesantren khususnya) lenyap ditelan citra negatif itu. Buku ini mencoba memotret wajah pesantren mulai dari sejarahnya yang paling awal, bahkan sebelum kata santri, atau pesantren itu muncul, untuk mengulang kembali citra Islam yang sesungguhnya. Buku ini juga Sebagai jawaban atas kegundahannya terhadap stigma negatif sebagian besar media Barat terhadap dunia pesantren yang seringkali mengemas informasi timpang dan kurang objektif.

Tasawuf Moderen

Judul: Tasawuf Modern: Jalan Mengenal & Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT
Jumlah halaman: 217
Tahun terbit: 2014
Penerbit: Republika

Setelah terpinggirkan, kini tasawuf menjadi pilihan. Masjid, majelis taklim, dan perkantoran sering menyelenggarakan kajian. Pesertanya beragam, terutama kelas menengah perkotaan. Tasawuf telah menjadi tren di masyarakat modern. Sebagai sebuah jalan, tasawuf rawan penyimpangan. Bercita-cita bisa lebih mengenal Allah subhânahu wa ta’âla, yang terjadi justru akrab dengan musuh-Nya. Maksud hati ingin membangun kedekatan dengan Allah, yang didapat justru kesesatan. Tidak ada yang salah dengan jalannya. Dan, jangan pernah menyalahkan jalannya. Periksalah diri kita, sudah benarkan jalan yang kita pilih dan jalani? Buku yang ditulis oleh guru besar Universitas Islam Negeri Jakarta ini, bisa menjadi panduan dan tuntunan dalam memilih dan menjalani tasawuf. Dimulai dari pertanyaan perlukah kita bertasawuf, lalu dilanjutkan dengan perlu tidaknya mursyid, bagaimana proses bertasawuf, hingga bagaimana hubungan tasawuf dengan seni. Sebuah buku yang bisa menjadikan kita memilih tasawuf dengan penuh keyakinan, bukan karena ikut-ikutan. Insya Allah.

2014-Deradikalisasi Pemahaman_resize

Judul: Deradikalisasi Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis
Jumlah halaman: 456
Tahun terbit: 2014
Penerbit: Quanta, Elexmedia Komputindo

Al-Qur’an dan hadis ibarat mata air yang tidak pernah kering. Keduanya sama-sama menjadi sumber pelepas dahaga bagi umat di saat kekeringan spiritualitas melanda. Secara teologis-normatif, Al-Qur’an dan hadis akan senantiasa menjadi rujukan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupannya di dunia. Sebagai sumber rujukan bagi umat Islam, Al-Qur’an dan hadis mengandung beragam aspek, mulai dari aspek akidah, ibadah, muamalah, jinâyahi (hukum pidana) sampai aspek siyâsah (politik). Hal inilah yang mendasari pernyataan banyak ulama, bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara komprehensif, integral, dan holistik. Mengamati aktivitas keagamaan umat muslim konteporer, terdapat kecenderungan dalam memahami Al-Qur’an dan hadis hanya secara tekstual dan terkesan rigid. Meskipun pemahaman secara tekstual dan literal terkadang tidak dapat dielakkan, namun model pemahaman tekstual dan literal pada gilirannya dapat melahirkan perilaku yang terkesan anarkis, tidak toleran, dan cenderung destriktif. Ajaran jihad misalnya, secara pragmatis sering dipahami sebagai “perang suci” untuk melakukan penyerangan dan pemaksaan terhadap kelompok lain yang tidak sepaham dengannya. Hal ini tentunya dianggap menodai wajah Islam yang ramah, santun, dan penuh kedamaian. Lebih jauh, akan timbul mispersepsi, serta akan menimbulkan cibiran dan citra negatif terhadap agama dan umat Islam secara keseluruhan. Melihat realitas yang terjadi, adalah sebuah keniscayaan untuk memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. Sebagai langkah awal, perlu diupayakan pemahaman metodologi yang komprehensif dalam memahami teks Al-Qur’an dan sunah, misalnya dengan mempertimbangkan aspek asbâb an-nuzûl dan asbâb al-wurûd (sosio-historical background). Upaya untuk mencapai pemahaman metodologi tersebut tidak berati bahwa metodologi tafsir yang dibangun oleh para ulama terdahulu tidak lagi relevan atau harus dipinggirkan. Upaya ini justru ingin memperteguh kembali warisan metodologi tafsir yang telah ada, dengan harapan dapat menjawab segala persoalan pada masa modern seperti sekarang.

2003-Teologi Gender_resize

Judul: Teologi Jender-Antara Mitos dan Teks Kitab Suci
Jumlah halaman: 280
Penerbit: Pustaka Cicero
Tahun terbit: 2003

Al-Qur’an adalah rahmatan lil ‘alamin. Ayat-ayat Alqur’an berobsesi untuk mewujudkan keadilan dan persamaan di dalam masyarakat. Oleh karena itu, setiap penafsiran yang telah melahirkan diskriminasi jender harus ditinjau kembali, karena tidak sejalan dengan misi utamanya. Sayangnya, dalam kajian-kajian penafsiran Al-Qur’an, sulit menemukan sebuah kajian yang obyektif, bebas dari unsur-unsur subyektivitas. Interpretasi yang dibangun atas teks Al-Qu’an lebih merefleksikan pilihan subyektivitas pengkajinya ketimbang hakekat teks.

Pada tataran inilah perlunya pembaca ulang terhadap teks ajaran Al-Qur’an yang lebih mengedepankan semangat utama ajaran dan hakekat teks. Seorang penafsir harus mampu masuk kedalam “lorong waktu” ketika al-Qur’an itu diturunkan. Karena pembacaan terhadap teks tidak cukup hanya berdasarkan teks tertulis, tetapi masa silam ketika teks itu turun sesungguhnya adalah sebuah teks yang harus dibaca. Buku ini berusaha meretas kembali benang hijau dalam mitos dan ajaran teks yang sepanjang penafsiran telah melahirkan ketidakadilan jender. Buku ini berusaha meluruskan kembali pemahaman teologis yang terkesan “merugikan” perempuan.

2008-Pintu Menuju Kebahagian_resize

Judul: Pintu-Pintu Menuju Kebahagiaan
Jumlah halaman: 260
Penerbit: Al-Ghazali Center
Tahun terbit: 2008

Saat ini, tidak sulit kita menemukan orang terlihat sukses dalam karir dan bisnis, tetapi kesuksesannya tidak memberikan makna dan manfaat bagi hidupnya dan orang lain. Meskipun ia berhasil meraih kekayaan yang berlimpah, namun kekayaannya tidak memberikan arti bagi kualitas kebahagiaan hidupnya. Bahkan yang berakhir dengan kesia-siaan dan kegagalan hidup. Keluarganya berantakan, jiwanya senantiasa diliputi kegelisahaan dan ketidaktenangan.

Syahwat hati kerap kali membawa kita pada perasaan serba kurang, serba tidak cukup, merasa tidak pernah puas dengan apa yang diraih, sehingga menjadi manusia yang tidak mudah bersyukur atas nikmat dan karunia Allah Swt. Hidup seperti ini menjadikan jiwanya lemah dan serba tidak damai hatinya. Ia akan selalu gelisah dan diliputi oleh perasaan iri, dengki, tamak dan loba. Namun sebaliknya mereka yang memiliki kemampuan mengendalikan nafsu pribadinya akan menjadi manusia yang mudah bersyukur dan menjadikan dirinya selalu merasa hidupnya berkecukupan, damai dan mendapatkan ketenangan jiwa.

2008-100+ Kesalahan_resize

Judul: 100+ Kesalahan Dalam Haji & Umrah
Jumlah halaman: 146
Penerbit: Qultum Media
Tahun terbit: 2008

Jamaah haji adalah tamu Allah, Allah berjanji memuliakan tamu-Nya dan mengabulkan yang diminta tamu tersebut. Tidak ada balasan lagi bagi haji mabrur kecuali surga. Keutamaan ibadah haji disetarakan dengan keutamaan jihad, karena menjawab panggilan ketika Allah memanggil.

Rasulullah bersabda, “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji dan berumrah adalah tamu Allah, Allah memanggil mereka dan mereka menjawab panggilan itu. Karena itu, ketika mereka meminta kepadaNya maka Allah mengabulkannya.” Bagaimana untuk menggapai haji mabrur sehingga haji bermanfaat dunia dan akhirat? Apa saja kesalahan yang sering dilakukan jemaah haji? Bagaimana saja yang dipersiapkan sebelum berangkat ke tanah suci? Bagaimana manasik haji yang benar, dan apa saja dilakukan setelah pulang dari berhaji? Buku ini mengungkap seratus lebih kesalahan yang sering dilakukan oleh jemaah haji Indonesia.

2006-The Spirituaity of Name_resize

Judul: The Spirituality of Name – Merajut Kebahagiaan Hidup dengan Nama-Nama Allah
Jumlah halaman: 280
Penerbit: Al-Ghazali Center
Tahun terbit: 2006

Tuhan telah memperkenalkan diri-Nya melalui Al-Asma’ Al-Husna, melalui pintu inilah manusia mengenal Tuhan-Nya, namun begitu masih ada aspek lain pada diri Tuhan yang tak disentuh oleh manusia, yaitu wujud Allah. Wujud Allah memang sulit (untuk tidak mengatakan mustahil) didefinisikan dan diketahui. Wujud-Nya tidak mungkin bisa diketahui dan didefinisikan oleh makhluk-Nya secara utuh dan menyeluruh. Bahkan Tuhan kikir kepada hamba-Nya, bukan pula ia sengaja menyembunyikan diri kepada makhluk-Nya, akan tetapi karena semata-mata karena keterbatasan esensi dan substansi manusia untuk memahami-Nya. Apalah arti sebuah cangkir untuk menampung air samudera. Tidak akan pernah mungkin sebuah cangkir mewadahi air samudera. Wujud Tuhan identik dengan Esensi yang tidak akan pernah mungkin diketahui dan didefinisikan oleh hamba-Nya. Keberadaan wujudnya hanya dapat diketahui melalui realitas yang termanifestasikan oleh yang wujud. Keberadaan wujud Tuhan merupakan suatu yang tidak tampak pada diri-Nya sendiri tetapi menyebabkan segala sesuatu selain diri-Nya tampak. Wujud Tuhan dianalogikan dengan cahaya. Cahaya sesungguhnya tidak pernah tampak, tetapi cahaya memungkinkan kita melihat hal-hal selainnya. Keberadaan cahaya diketahui melalui penampakan sesuatu selain dirinya karena kehadirannya, seperti perabotan rumah, pemandangan indah, tampak keberadaannya, karena adanya kehadiran cahaya. Cahaya sesungguhnya tidak mempunyai warna khusus. Bukan cahaya yang tampak terang atau gelap, melainkan sesuatu yang bersentuhan atau tidak bersentuhan dengan cahaya itu. Perabotan dan pemandangan menjadi terang atau gelap karena intensitas persentuhan chaya dengannya. Seperti itulah buku The spiritual of name ini bercerita.

Makana Spiritual Haji & Umrah

Judul: Makna Spiritual Haji & Umrah
Jumlah halaman: 132

Memahami ibadah haji, tidak cukup hanya memahami makna fiqhiyyah seperti rukun, syarat, sunat, dan hal-hal yang bersifat teknis, seperti tertera di dalam buku-buku manasik haji. Tidak cukup hanya dengan memahami makna simbolik seperti yang diperkenalkan oleh para ahli ‘irfan atau tasawuf, tetapi diperlukan suasana batin lebih mendalam lagi jika ingin meresapi  dan menghayati makna hakekat haji. Dalam perspektif tarekat dan hakekat, ternyata begitu dalam dan luas makna ibadah haji. Berbagai lokus dan simbol haji dihubungkan dengan kapasitas manusia sebagai miniatur makrokosmos. Dalam perspektif ini ibadah haji juga dimaknai sebagai simbol drama kosmis, manusia jatuh dari surga kenikmatan ke bumi penderitaan, dan selanjutnya berusaha untuk kembali ke kampung halaman spiritual sejatinya melalui haji.

2008-Ulumul Qur'an_resize

Judul: Ulumul Qur’an-Mengungkap Makna Tersembunyi Al-Qur’an
Jumlah halaman: 412
Penerbit: Al-Ghazali Center
Tahun terbit: 2008

Mengkaji berbagai jenis literatur keislaman memang sudah menjadi kewajiban seorang muslim. Terlebih lagi mengkaji Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an adalah proses segala pengetahuan yang ada di bumi ini. Al-Qur’an dengan segala keindahan, keistimewaan, kemu’jizatan, keunikan serta kusuciannya ternyata tak sekedar benda “jamid” yang hanya bisa dilihat dan dibaca. Al-Qur’an mempunyai berjuta-juta rahasia serta kemukjizatan, yang hanya bisa dipahami bila dikaji dan dipelajari secara mendalam. Ulumul Qur’an merupakan salah satu piranti untuk melihat apa makna yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an ini. Karena Ulumul Qur’an merupakan sebuah disiplin inti dalam khazanah keilmuan Islam, sebuah alat untuk menguak esensi implisit ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dengan bentuk sastra yang mengungguli (beyond) nilai sastra yang berkembang di masyarakat Arab ketika itu. Al-Qur’an mempunyai nilai estetika yang tinggi (baligh) dan disempurnakan juga dengan kelebihannya dalam segi linguistik yang diindikasikan oleh kekayaan bahasanya di mana pada setiap kata tidak hanya mempunyai satu makna. Tidak hanya itu, Al-Qur’an juga banyak dijelaskan tentang aturan-aturan yang bisa dijadikan pijakan dalam hidup manusia, seperti dasar-dasar akidah, hukum-hukum sosial kemasyarakatan, pemikiran dan lain-lain. Namun di sisi lain, Allah tidak menjamin terperincinya masalah-masalah tersebut  di atas dalam Al-Qur’an. Maka bukan hal yang aneh lagi jika kita menemukan lafadz singkat (ijaz) tapi terhimpun banyak makna. Selain itu, Al-Qur’an tidak tersusun secara sistematis serta tidak diturunkan sesuai dengan komposisi kronologisnya. Bahasa Al-Qur’an juga banyak yang mengandung majas ataupun metafora-metafora sehingga mustahil bisa memahaminya dengan pembacaan yang sederhana tanpa dibekali ilmu-ilmu Al-Qur’an. Nah, di sinilah urgensi Ulumul Qur’an dan signifikansi mempelajari dan menguasainya. Ulumul Qur’an menjadi komponen yang sangat penting dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.

Buku ini mengajak pembaca menyelami makna di balik Al-Qur’an yang tak terungkap itu dengan mendalami ilmu-ilmu Al-Qur’an. Ilmu-ilmu al-Qur’an yang tidak hanya disarikan dari turas-turas sarjana Muslim saja, tetapi juga khasanah keilmuan sarjana Barat kontemporer. Rasanya, sayang  bila buku ini dlewatkan begitu saja.