Imam Besar Istiqlal: Semoga Ramadhan Menyejukkan Semua…
05/15/2018

Bulan Penuh Keajaiban

RAMADHAN dalam bahasa Arab berarti membakar, menghanguskan, dan menghancurkan. Diharapkan dengan amalan Ramadhan yang maksimal yang akan kita lakukan di dalamnya bisa membakar hangus dan menghancurkan dosa-dosa kita sekaligus menyucikan diri kita sehingga kita terbebas dari rasa bersalah dan rasa berdosa.

Rasulullah SAW menunjukkan banyak hikmah di balik puasa, termasuk di antaranya ialah memelihara kesehatan, sebagaimana dalam hadisnya: Shumu tashihhu (berpuasalah kalian supaya sehat). Para dokter juga melihat kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Ini membuktikan setiap perintah Tuhan pasti mempunyai hikmah positif bagi manusia.

Tujuan utama umat Islam melakukan amalan Ramadhan, khususnya melaksanakan puasa, ialah untuk meraih ketaqwaan, suatu derajat paling tinggi di sisi Allah SWT.

Kata taqwa tidak ditemukan padanan lebih tepat di dalam bahasa Indonesia. Karena itu, kata taqwa sudah menjadi bahasa Indonesia, yang pengertiannya adalah kombinasi antara takut, segan, dan cinta. Taqwa tidak identik dengan takut karena Allah SWT, karena Dia tidak harus didekati dengan perasaan takut, tetapi lebih dominan dengan pendekatan cinta. Bertaqwa kepada Allah tidak mesti hanya berarti takut, tetapi juga berarti cinta dan respek kepada Tuhan.

Kalangan ulama menjelaskan kata taqwa singkatan dari taubah, qana’ah, wara, dan amanahTaubah ialah mereka yang kembali ke jalan yang benar setelah menyadari kekeliruannya. Qana’ah ialah mereka yang merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Wara ialah mereka yang memproteksi diri terhadap segala sumber dosa dan kemaksiatan. Amanah ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pilihan dan keputusannya, dalam arti tidak mengecewakan orang lain dan Tuhannya.

Bertaqwa kepada Tuhan bukan berarti hanya segan dan takut, melainkan juga cinta dan rindu terhadap Tuhannya. Para sufi menyadari bahwa Tuhan bukan Sosok Yang Maha Mengerikan, melainkan Sosok Yang Maha Pencinta. Tuhan lebih tepat untuk dicintai ketimbang ditakuti.

Jadi, Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan Alquran lebih menonjolkan nilai-nilai kelembutan dan daripada nilai-nilai kekerasan. Kita sebagai hamba Allah SWT, umat Nabi Muhammad SAW, dan pengikut Alquran mestinya lebih menonjolkan sifat dan sikap kelembutan daripada sifat dan sikap kekerasan.

Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Manessa Napuada