Wakil Presiden Amerika Bertemu Tokoh Lintas Agama di Istiqlal
04/20/2017
Islam dan Kesenian Lokal
04/27/2017

Empat Pelajaran Berharga Dari Peringatan Isra’ Mi’raj

Purwakarta (Kemenag) – Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan puncak pencapaian prestasi spiritual seorang hamba. Peristiwa ini terjadi ketika Nabi baru saja didera kesediahan dan kecemasan yang sangat mendalam. Ini sebuah pelajaran bahwa di balik sebuah ujian berat di situ ada kenaikan kelas.

“Peristiwa Isra’ Mi’raj mengajarkan kita, seberat apapun problem yang dihadapi datanglah ke atas melalui shalat, niscaya ada jawaban yang tepat dari-Nya,” demikian salah satu dari empat pelajaran berharga yang dapat dipetik dalam peringatan Isra Miraj yang disampaikan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar dalam uraian hikmah Isra’ Mi’raj Tahun 1438H/2017M di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah, Wanayasa, Purwakarta, Selasa (25/4).

Dikatakan oleh Nasaruddin yang juga Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran, pasca Isra Miraj, Nabi kembali bersemangat bahkan kelihatan lebih matang di dalam menyelesaikan masalah umat. Tidak lama setelah Isra’ Mi’raj, Nabi memilih untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah). Nabi tidak bisa dikatakan pengecut meninggalkan umatnya di Mekkah lalu ia mencari selamat di Madinah, seperti dikatakan kalangan orientalis.

“Mundur selangkah untuk mencapai kemenangan itulah cara Nabi. Jihad yang benar melalui pertimbangan akal sehat (ijtihad) dan hati nurani (mujahadah). Jihad yang terpisah dengan jitihad dan mujahadah sesungguhnya tidak tepat disebut jihad, terang Nasaruddin menyampaikan pelajaran berharga kedua yang bisa dipetik dari Isra’ Mi’raj.

Dalam uraiannya dihadapan Presiden Joko Widodo beserta ribuan santri Pontren Al-Hikamussalafiyah, Nasaruddin menyampaikan, di saat Nabi berada di puncak ketenangan dan kebahagiaan di Sidrah al-Muntaha, mungkin di alam sana juga sudah berjumpa dengan arwah orang-orang terdekatnya, tetapi tidak pernah terpikir untuk mencari keenakan sendiri di sana.

“Ia buru-buru turun kembali ke bumi untuk melanjutkan misinya yang belum tuntas, meskipun bahaya mengancam jiwanya di bumi, khususnya dari orang-orang kafir Quraisy pasca kematian sang pelindungnya,” ucapnya tentang pelajaran berharga ketiga yang bisa dipetik dari Isra’ Mi’raj.

Pelajaran berharga keempat, lanjut Nasaruddin, melalui peringatan Isra’ Mi’raj kita bisa meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kita, sehingga sikap keberagamaan kita tidak hanya tampak dalam bentuk ritualitas keagamaan secara individual (religiousness) tetapi juga memberikan tuntunan di dalam sikap dan perilaku sosial (religious mindedness).

Hadir mendampingi Presiden, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri-Sekretaris Negara Pratikno, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, dan Pengasuh Ponpes Al-Hikamussalafiyah Abah KH Adang Badruddin selaku tuan rumah. (dm/dm).

https://www.kemenag.go.id/berita/494461/empat-pelajaran-berharga-dari-peringatan-isra-mi-raj