Nasaruddin Umar: Idul Fitri Momentum Bersihkan Dari Radikalisme-Terorisme
06/20/2017
Mabrurkah Haji Kita?
08/27/2017

Energi Halal Bi Halal

Salah satu “produk ekspor” Indonesia ialah Halal bi Halal. Praktek Halal bi Halal sudah bisa terlihat di mana-mana, termasuk di negara-negara tetangga. Di Malaysia berawal dari perkebunan kelapa sawit di mana WNI kita bekerja. Setiap usai lebaran, mereka berpindah-pindah dari blok ke blok untuk melakukan Halal bi Halal, biasanya berdasarkan asal daerah masing-masing. Lama kelamaan tradisi ini berlangsung di kota-kota yang semula hanya menjadi arena silaturrahim antara sesama WNI. Dan selanjutnya Halal bi Halal ini menjadi familiar di Malaisia.  Hal yang sama terjadi juga di negara-negara lain, termasuk di Arab Saudi, Kuwait, dan Amerika Serikat. Komunitas Indonesia di AS dan di Eropa setiap tahun mereka menyelenggarakan Halal bi Halal di kantor KBRI atau menyewa gedung besar lain. Seluruh masyarakat Indonesia, apa pun agamanya berkumpul dalam suasana Halal bi Halal. Peristiwa ini dicontoh oleh komunitas muslim dari berbagai negara di sana. Mereka juga menggunakan istilah Halal bi Halal.

Asal-usul Halal bi Halal ini bermula dari anak-anak muda Masjid Kauman di Jogyakarta. Mereka kebingungan mencari tema karena terjadi dua peristiwa istimewa. Satu sisi perayaan Idul Fitri sebagai wujud kemerdekaan spiritual dan sisi lain baru saja dilakukan Proklamasi Kemerdekaan RI. Bagaimana supaya kedua peristiwa ini terangkum menjadi satu. Mereka lalu mengadakan sayembara kecil-kecilan untuk menemukan tema yang akan ditulis di dalam spanduk.

Salah seorang seniman mengusung tema Halal bi Halal yang intinya saling memaafkan, saling merelakan, dan saling menghalalkan. Warga yang pernah dikucilkan masyarakat karena terlibat sebagai mata-mata Belanda atau penghianat bangsa, diserukan untuk dimaafkan. Momentum Idul Fitri digunakan untuk menggalang persatuan dan kesatuan dalam mengisi kemerdekaan. Sejak itu, Halal bi Halal di lakukan di Jakarta yang pada mulanya berisi pesan kuat integrasi nasional. Jangan lagi ada dendam antara satu sama lain. Lapangkan dada dan hilangkan warna-warni lokal di hadapan kebesaran Allah Swt.

Kini Halal bi Halal menjadi istilah khas dan menjadi budaya Indonesia. Halal bi Halal adalah istilah dalam bahasa Arab yang tidak diketahui maknanya oleh orang-orang Arab sendiri. Kalau Halal minal Haram mungkin bisa dipahami tetapi Halal bi Halal sebuah kata majmuk yang tidak lazim. Itulah keajaiban Halal bi halal.

Fenomena menarik lainnya adalah hampir setiap kantor pemerintah dan swasta melakukan tradisi Halal bi Halal, setelah para karyawan kembali dari kampung halamannya. Biayanya tidak terlalu mahal tetapi memiliki makna batin yang luar biasa. Solidaritas dan semangat kerja bisa dibangkitkan kembali melalui momentum Halal bi Halal. Para penceramah Halal bi Halal sepertinya juga sudah memiliki materi standar yang harus disampaikan kepada para undangan, yaitu bagaimana merajuk kembali persatuan dan kesatuan secara hakiki setelah selama ini mungkin terganggu. Halal bi Halal betul-betul sudah menjadi aset bangsa non materi yang perlu dilestarikan.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto oleh Cyprianus Rowaleta