Apa Arti Sebuah Nama?
03/26/2018
Polrestabes Medan Tabligh Akbar dan Dzikir dengan Ribuan Masyarakat
04/02/2018

Fikih Melek Sains

 

Salah satu ciri fikih kebhinnekaan yang sekaligus menjadi ciri Fikih Indonesia ialah fikih yang melek sains. Perkembangan sains dan teknologi melahirkan produk yang kadang-kadang berhadap-hadapan dengan produk kaidah dan fikih konvensional. Perkembangan fikih tidak berbanding lurus dengan lajunya perkembangan produk-produk sains. Akibatnya, respons fikih seringkali terasa cenderung untuk membatasi untuk tidak mengatakan menghambat sains. Salah satu contohnya ialah perkembangan embriologi. Dalam bahasa agama, embriologi lebih banyak dibicarakan dalam konteks tadir, tidak melibatkan banyak analisis, tetapi menjadi wilayah prerogatif Tuhan. Belakangan, setelah perkembangan laboratorium makin canggih, maka mulailah muncul analisis mendalam terhadap wilayah tabu ini. Al-Qur’an adalah kitab suci yang paling rinci berbicara tentang embriologi.

Sebenarnya tidak perlu diperhadap-hadapkan antara Fikih dan embriologi, karena ayat-ayat dan hadis yang berbicara tentang masalah ini banyak sekali. Bahkan menurut Prof. Maurice Bucaille, dalam What is the Origin of Man? di dalam karya fenomenalnya: La Bible, le Coran et la Science : Les Écritures Saintes examinées à la lumière des connaissances modernes, yang kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia, mempromosikan bahwa Al-Qur’an menyingkap rahasia embriologi. Begitu hebatnya buku ini sehingga omset penjualannya membuat The Wall Street Journal melahirkan istilah “Bucailleism”, karena begitu besar ketertarikan orang terhadap buku ini.

Perkembangan berikutnya, Prof  Keith Moore guru besar senior dalam bidang Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Toronto, Kanada, tampil lebih berkonsentrasi mendalami ayat-ayat embriologi di dalam Al-Qur’an. Pendiri The American Association of Clinical Anatomists (AACA) dan sekaligus pernah menjadi Presidennya dalam tahun 1989-1991, seolah menyentakkan perhatian para ilmuan dengan mengatakan bahwa ternyata Al-Qur’an bisa menjadi sumber inspirasi luar biasa dalam dunia sains. Ia sangat terkenal melalui buku teksnya tentang Anatomy and Human Embryology, khususnya dalam buku Clinically Oriented Anatomy dan Essential Clinical Anatomy yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Ia juga sudah mengantongi berbagai International Award dalam bidangnya. Ia baru saja menyelesaikan karyanya: “References to Embryology in the Qur’an“. Prof. Keith Moore berusaha untuk memahami bahasa Arab untuk menghayati makna sejumlah kosa kata yang digunakan di dalam Q.S. al-Mu’minun, seperti kata: Mani (air mani), nuthfah (tetesan air mani), qarar al-makin (tempat yang sangat aman), ‘alaqah (gumpalan darah), mudhgah (gumpalan daging), ‘idham (tulang), dan lahm (daging).

Di antara ayat-ayat yang membuat kedua Professor tersebut takjub ialah:

 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain”. (Q.S. al-Mu’minun/23: 12-16).

Uraian kedua pakar biologi dunia tersebut sudah lebih dari cukup untuk membantu para fuqaha untuk melahirkan fikih baru tentang biologi, khususnya embriologi. Jangkauan pembahasan embriologi ini bisa digunakan untuk menentukan hukum tentang aborsi dll.

Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Ilustrasi PublicDomainPictures/pixabay