Kearifan: Pengakuan Terhadap Minoritas
12/01/2016
Nabi: Perintis Toleransi
12/18/2016

Filosofi Bhinneka Tunggal Ika

Karya sastrawan Empu Tantular dalam kitab Sutasoma-nya menggoreskan sebuah kalimat menarik: Bhinneka Tunggal Ika. Tidak pernah terbayangkan akan menjadi simbol pemersatu bangsa dan negara yang amat dahsyat. Istilah Bhinneka Tunggal Ika, yang sering diartikan “bercerai berai tetapi tetap satu” atau “kesatuan di dalam keberagaman”, digunakan para founding fathers kita saat memperkenalkan Indonesia di dalam dan di luar negeri.

Keberagaman dalam Al-Qur’an merupakan sunnatullah. Menolak keragaman berarti menolak sunnatullah. Dalam Al-Qur’an ditegaskan: Wa lau sya’a Rabbuka laja’alnakum ummatan wahidah (Jika Tuhan-Mu menghendaki, niscaya ia menjadikan kalian suatu umat) (Q.S. al- Maidah/5:48)

Dalam ayat tersebut Allah SWT menggunakan kata/huruf lau, bukannya in atau idza. Dalam kaidah tafsir dijelaskan, apabila Allah menggunakan kata lau (jika) maka sesungguhnya hampir mustahil kenyataan itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Apabila memakai kata in (jika), kemungkinan kenyataan itu bisa terjadi bisa juga tidak, dan apabila kata idza (jika), pasti kenyataan yang digambarkan itu akan terjadi. Masalahnya, sekarang kamus Bahasa Indonesia kita tidak memiliki kosa kata sepadan dengan Bahasa Arab, sehingga keseluruhannya diartikan dengan jika (if).

Konflik dan ketegangan yang terjadi di berbagai belahan dunia tidak jarang terjadi karena dipicu sentimen perbedaan penafsiran kitab suci. Ada segolongan orang yang sering mengatasnamakan suatu penafsiran lalu menyerang kelompok lain, karena mengklaim dirinya paling benar. Ironisnya, tidak jarang terjadi justru kelompok minoritas yang menyatakan kelompok mayoritas atau mainstream yang sesat. Kelompok pemurni ajaran (puritanisme) seringkali mengklaim diri paling benar dan mereka merasa perlu membersihkan ajaran agama dari berbagai khurafat dan bid’ah. Namun kelompok mayoritas yang diobok-obok seringkali di antaranya tidak menerima serangan pembid’ahan itu karena merasa dirinya sudah berdasar dari sumber ajaran dan dipandu oleh ulama besar. Akibatnya kelompok mayoritas melakukan penyerangan terhadap kelompok minoritas. Sebaliknya kelompok minoritas selalu mengusik kelompok mayoritas. Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara-negara yang didominasi satu kelompok agama atau etnis mayoritas.

Aliran yang dianggap “sesat” oleh majelis ulama seringkali menjadi target. Di antara berbagai golongan saling mengkafirkan dan saling usir-mengusir dan bahkan bunuh-bunuhan lantaran dipicu penafsiran sumber ajaran agama. Tentu saja kenyataan ini sangat disesalkan karena mereka berpegang kepada kitab suci yang sama tetapi mereka saling bermusuhan satu sama lain.

Di Indonesia yang menghayati motto Bhinneka Tunggal Ika,  seharusnya konflik horizontal tidak perlu terjadi. Meskipun suku, etnis, agama dengan berbagai aliran dan mazhabnya berbeda-beda, namun persamaan historis sebagai satu bangsa yang pernah mengalami pahit getirnya perjuangan melawan penjajah, membuat perbedaan-perbedaan tersebut ibarat warna-warni yang membuat lukisan menjadi lebih indah. Nuansa keindonesiaan ini seharusnya mampu melenturkan kelompok-kelompok etnis dan ajaran agama di Indonesia. Sudah sekian lama konflik horizontal tidak pernah terjadi dalam masa proto-Indonesia. Belakangan, setelah Indonesia bersentuhan dengan nilai-nilai masyarakat baru, sebagai pengaruh globalisasi, bangsa Indonesia mulai berkenalan dengan konflik horizontal yang bertema keagamaan.

Jumat, 2 Desember 2016 

Nasaruddin Umar
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Foto oleh Dara Krisna