Tujuh Fungsi Masjid*
02/22/2017
Persoalan Apapun Ketika Disentuh Kiai Hasyim Menjadi Mudah
03/16/2017

Islam dan Dunia Seni

Islam dan dunia seni bagaikan sebuah mata uang yang memiliki dua sisi. Islam tanpa seni dan seni tanpa Islam tidak akan mencapai kesempurnaan. Islam merupakan ajaran Tuhan yang memerlukan seni di dalam mengartikulasikan kedalaman aspek kebatinan dari ajaran itu. Seni merupakan bagian dari sisi dalam manusia yang membutuhkan lokus untuk mengaktualisasikan nilai-nilai estetisnya. Islam dan seni menuntut ekspresi ”rasa” yang amat mendalam dari manusia. Islam berisi ajakan kelembutan, kedamaian, kehalusan, harmoni kepada pemeluknya, sedangkan seni menawarkan ajakan-ajakan itu. Islam dan seni keduanya mencitrakan hal-hal yang bersifat  universal, seperti nilai-nilai etika dan estetika. Seni memiliki potensi yang amat dalam untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan seni seseorang dapat merasakan keindahan, ketenangan, kehangatan, kerinduan, kesyahduan, dan keheningan. Suasana batin seperti ini sangat dibutuhkan dan merupakan dambaan para pencari Tuhan (salik). Imam Al-Gazali dalam kitab Ihya’ ’Ulum al-Din, pernah mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki rasa seni dikhawatirkan jiwanya kering. Barangsiapa yang jiwanya tidak tergerak oleh musik merdu maka boleh jadi tabiatnya sudah rusak dan obatnya tidak ada. Bahka ia menyatakan permainan musik yang memperhalus jiwa dan budi pekerti anak-anak dan perempuan lebih baik daripada menjalani zuhud (tidak suka dunia).

Mungkin dari sisi ini kita bisa memahami mengapa para sufi rata-rata begitu dekat dengan dunia seni. Kita mengenal sejumlah sufi yang sekaligus seniman dan sejumlah seniman yang juga sekaligus sebagai sufi dan ahli/praktisi kontemplasi. Jalaluddin Rumi (w.1207 M) salah seorang di antaranya. Ia sangat populer sebagai sufi seniman dan seniman sufi. Dalam menempuh perjalanan spiritual, ia membutuhkan media seni untuk membangkitkan soft power dan inner beauty-nya. Bunyi merdu seruling dan warna musik lainnya dibutuhkan untuk mengiringi tarian sufi (divine dancing)  yang lebih populer dengan Whirling Dervishes. Tarian ini merupakan media puncak bagi Jalaluddin Rumi karena ia bisa mencapai puncak kepuasan spiritual (spiritual orgasm). Kombinasi seni musik, gerak, dan lagu ini merupakan proses spiritual cohetion  antara Pencipta dan kekasih yang diciptakannya dan antara hamba sang pencinta dan Yang Disembahnya. Di dalam Whirling Dervishes itulah Jalaluddin Rumi menemukan bait-bait syairnya yang secara umum dituangkan di dalam Matsnawi, suatu karya seni yang amat monumental dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia.

Ada kesan di dalam masyarakat kita seolah seni dan seniman tidak punya tempat di dalam Islam, terutama di dalam masyarakat Islam sunni. Seolah-olah Islam dan seni bagaikan air dan minyak. Islam orientasinya keshalehan, kesucian, dan keluhuran budi pekerti. Sedangkan seni dan seniman konotasinya glamor, urakan, dan tidak taat azas budi pekerti. Asumsi dan konotasi seperti itu sepenuhnya tidak benar. Idealnya seorang muslim sejati lebih familiar dengan seni karena cara paling efektif menuju Tuhan ialah dengan menempuh jalur rasa (cinta). Jalur ini lebih pendek dibandingkan dengan jalur ”takut”. Dalam Islam, Tuhan bukan Sosok Yang Maha Mengerikan untuk ditakuti, tetapi  Sosok Yang Maha Penyayang untuk dicintai. Pola relasi cinta menggambarkan Tuhan immanent dan dekat. Sedangkan pola relasi takut menggambarkan Tuhan trancendent dan jauh.

Kalau yang dimaksud dengan seniman ialah seseorang yang memiliki jiwa, rasa, bakat, dan atau watak seni, maka Nabi Muhammad SAW juga seniman. Hanya saja predikat seniman untuk Nabi tentu saja seni yang sejati dan agung, sejalan dengan fitrah dan martabat luhur kemanusiaan, menjunjung tingi nilai-nilai keindahan dan kehalusan budi pekerti, dengan kata lain, seni yang mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya. Allah Maha Indah tentu mencintai keindahan. Bukan “seni” yang berselera rendah, yang hanya mengacu kepada kecenderungan biologis, dengan kata lain, seni yang menjauhkan diri manusia kepada Tuhannya.

Seni yang sesungguhnya adalah sesuatu yang agung dan mengandung nilai-nilai universal, dan lebih cenderung mendekatkan diri kepada Tuhan. Memang ada seni yang rendah, yang mengekspresikan nafsu kerendahan manusia, yang kemudian mendekatkan diri ke lumpur dosa dan maksiat, bukannya mendekatkan diri kepada Tuhan. Seni yang agung tidak pernah lekang dimakan usia. Seni yang agung selalu aktual bersama pengagumnya. Kita perlu mengapresiasi kecenderungan seni ini banyak ditampilkan oleh seniman-semiman muda kita, seperti kita saksikan selama bulan suci Ramadhan. Seni yang bercorak religius ini tidak perlu takut dengan pasar, karena fenomena kesadaran syar’i yang semakin tumbuh di dalam masyarakat kita ternyata memberikan pasar pada karya-karya seni agung ini. Lihatlah misalnya lirik-lirik lagu yang bernuansa religius laku keras. Lihat pula film Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, dan film-film atau sinetron lain yang senapas dengannya juga mendapatkan tempat yang berarti di dalam masyarakat.

Seni Islam tidak mesti harus bernuansa Timur-Tengah (Arab). Ajaran Islam tidak identik dengan kebudayaan Arab. Islam memberikan peluang dan hak setiap budaya lokal (cultural right) untuk menampilkan, mengekspresikan, dan menafsirkan Al-Qur’an dan hadits. Kita bisa tetap menjadi orang Indonesia, tanpa harus menyerupai orang Arab, untuk menjadi the best muslim. ”Yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa” (Q.S. al-Hujurat ayat 13).

Memang seni dan musik tidak banyak disinggung di dalam Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an itu sendiri melampaui karya seni terbaik sekalipun. Baik pada masa turunnya maupun pada zaman-zaman sesudahnya. Salah satu kemukjizatan Al-Qur’an ialah keindahan dan ketinggian nilai seni-sastra dan bahasanya. Suatu ketika Musailamah al-Kazzab, seorang penyair ulung di masa turunnya Al-Qur’an mencoba menantang keindahan Al-Qur’an dengan menyandingkan karyanya dengan surah paling pendek dalam Al-Qur’an, surah al-Kautsar. Namun hasilnya sia-sia. Karyanya digantung di salah satu dinding Mesjid Haram dan surah al-Kautsar di salah satu dinding lain. Para pencinta seni memberikan pujian luar biasa kepada bait-bait surah al-Kautsar sementara syair Musailamah dicerca bahkan ada yang meludahinya.

Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa suara yang merdu, yang menjadi 3unsur  penting di dalam penampilan bakat seni, merupakan karunia Tuhan yang diberikan kepada orang-orang tertentu, sebagaimana dinyatakan dalam Q.S. Fathir/35:1: Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Dalam kitab Tafsir Fakhr al_Razi,  dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan tambahan pada ayat ini ialah suara yang bagus (al-shaut al-hasan). Nilai-nilai keindahan dan kebaikan mendapatkan tempat yang positif di dalam Al-Qur’an, seperti diisyaratkan dalam Q.S. al-A’raf/7:32: Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?”. Sindiran Al-Qur’an terhadap suara yang tidak memiliki 3unsur  keindahan dan kasar ialah suara keledai, dinyatakan dalam Q.S. Luqman/31:19: Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Banyak hadis menerangkan bahwa musik dan seni suara mempunyai arti penting di dalam kehidupan manusia. Para nabi yang diutus oleh Allah SWT semuanya memiliki suara yang bagus, sebagaimana hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh  Tirmizi dan Qatadah: Allah tidak mengutus seorang nabi melainkan suaranya bagus.

Dalam beberapa riwayat, Rasulullah memberikan dukungan terhadap musik dan sesi suara dan tidak melarangnya secara general, seperti diketahui dalam sikap beliau sebagai berikut:

  1. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah yang menceritakan dua budak perempuan pada hari raya ‘Id (Idul Adha) menampilkan kebolehannya bermain musik dengan menabuh rebana, sementara Nabi dan Aisyah menikmatinya. Tiba-tiba Abu Bakar datang dan membentak kedua pemusik tadi, lalu Rasulullah menegur Abu Bakar dan berkata: “Biarkanlah mereka berdua hai Abu Bakar, karena hari-hari ini adalah hari raya”.
  2. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah yang mengatakan: “Saya melihat Rasulullah Saw dengan menutupiku dengan surbannya sementara aku menyaksikan orang-orang Habsyi bermain di mesjid. Lalu Umar datang dan mencegah mereka bermain di mesjid, kemudian Rasulullah berkata: “Biarkan mereka, kami jamin keamanan wahai Bani Arfidah”.
  3. Dalam riwayat Muslim dari ‘Aisyah disebutkan kelompok seniman Habasyah itu menampilkan seni tari-musik pada hari Raya ‘Id di mesjid. Rasulullah memanggil ‘Aisyah untuk menyaksikan pertunjukan itu, kepala ‘Aisyah diletakkan di pundak Nabi sehingga ‘Aisyah dapat menyaksikan pertunjukan tersebut.
  4. Dalam kitab Ihya’ ’Ulumuddin karya monumental Imam Al-Gazali ada suatu bab khusus tentang pentingnya seni di dalam Islam. Ia mendasarkan pandangannya pada beberapa event penting pada masa Rasulullah selalu diisi dengan seni musik, seperti membiarkan orang melantunkan nyanyian dan syair ketika menunaikan ibadah haji, ketika prajurit melangsungkan peperangan dilantunkan tembang-tembang perjuangan untuk memotivasi prajurit di medan perang, nyanyian yang dilantunkan merasakan kesedihan karena dosa yang telah diperbuat, seperti dikutip Nabi Adam dan Nabi Dawud menangisi dosa dan kekeliruannya dengan ungkapan-ungkapan khusus, nyanyian untuk mengiringi acara-acara kegembiraan seperti suasana hari raya, hari perkawinan, acara ‘aqiqah dan kelahiran anak, acara khitanan, pulangnya para perantau, dan khataman Al-Qur’an. Dalam hadis riwayat Al-Baihaqi, sebagaimana dikutip Al-Gazali, menceritakan bahwa ketika Rasulullah memasuki kota Madinah, para perempuan melantunkan nyanyian di rumahnya masing-masing:

Telah terbit bulan purnama di atas kita, dari bukit Tsaniyatil Wada’. Wajiblah bersyukur atas kita, selama penyeru menyerukan kepada Allah.

Hadis-hadis shahih dan pendapat ulama terkemuka di atas menunjukkan bahwa pertunjukan seni, termasuk di dalamnya permainan alat-alat musik dan nasyid, menyanyi, dibenarkan Rasullah SAW. Memang ada juga riwayat yang mencela alat bunyi-bunyian seperti seruling (mazamir) tetapi jika musik dan bunyi-bunyian itu dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu yang bertentangan dengan syari’ah, misalnya seni musik mengiringi ritual kemusyrikan, seni musik menimbulkan fitnah, mengajak orang untuk mabuk, merangsang pendengarnya untuk melakukan maksiat dan melupakan Tuhan.

Seni musik bagian dari kebudayaan dan peradaban Islam yang harus dilestarikan. Sudah saatnya juga seni musik dan berbagai bentuk seni lainnya dijadikan media dakwah untuk mengajak orang berhati lembut, berpikiran lurus, berperilaku santun, bertutur kata halus, dan menampilkan jati diri dan inner beauty setiap orang.

Nasaruddin Umar.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, dan Rektor Intitut Perguruan Tinggi Ilmu Al-qur’an

Foto oleh Cyprianus Rowaleta