Belajar dari Piagam Aelia
03/14/2018
Ketulusan Cinta dalam Al-Qur’an
03/16/2018

Islam dan Kearifan Lokal

Kearifan lokal (local wisdom) terbukti memberikan solusi permanen terhadap sejumlah persoalan lokal dan regional. Di antara kearifan lokal itu ialah adat istiadat dan hukum adat. Adat istiadat lebih merupakan sistem nilai yang sifatnya lebih abstrak.  Sedangkan  hukum adat sudah menjadi norma-norma sosial kemasyarakatan yang memiliki reward dan punishment. Hukum adat di dalam lintasan masyarakat Nusantara sudah sekian lama mengabdikan diri menyelesaikan sejumlah persoalan di dalam masyarakat, termasuk di dalamnya terkait konflik horizontal, baik yang bertema etnik maupun agama atau kepercayaan.

Indonesia yang memiliki ribuan pulau dengan berbagai etnik tidak dapat disangkal juga memilki kearifan lokal yang amat kaya. Kearifan itu sendiri berasal dari bahasa Arab dari akar kataعرف – يعرف /‘arafa-ya’rifu berarti memahami atau menghayati, kemudian membentuk kata “kearifan” yang bisa diartikan dengan sikap, pemahaman, dan  kesadaran yang tinggi terhadap sesuatu. Kearifan adalah kebenaran yang bersifat universal sehingga jika ditambahkan dengan kata lokal maka bisa mereduksi pengertian kearifan itu sendiri. Setiap kali kita berbicara tentang kearifan maka setiap itu pula kita berbicara tentang kebenaran dan nilai-nilai universal. Menentang kearifan lokal berarti menolak kebenaran universal. Kebenaran universal itu sesungguhnya akumulasi dari nilai-nilai kebenaran lokal. Tidak ada kebenaran universal tanpa kearifan lokal. Jadi tidak tepat memperhadap-hadapkan antara kearifan lokal dan kebenaran universal.

Itulah sebabnya di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali ‘Imran/3:104):

Untuk urusan kebaikan Allah menggunakan kata menyerukan  (يدعون/yad’una) dan untuk kata makruf digunakan istilah menyuruh ( يأمرون/ya’muruna). Kata makruf (معروف/ma’ruf) dapat disinonimkan dengan kearifan yang disepakati kebenarannya oleh umumnya komunitas. Sedangkan kebaikan ( الخير/al-khair) adalah kebenaran yang belum serta-merta diterima oleh sebagian orang non-Islam,

Kearifan lokal sudah menjadi istilah bagi nilai-nilai istimewa dan unggul di dalam suatu masyakat. Mungkin anggapan itu benar namun masih mengesankan sebuah kearifan lokal tidak serta-merta diterima sebagai kebenaran universal melainkan harus menunggu waktu yang cukup lama untuk diakui sebagai kearifan bangsa, yang melintasi sejumlah nilai-nilai etnik. Contoh kearifan lokal ialah gotong-royong menyelesaikan sarana umum, toleransi dalam merayakan seremoni keagamaan, urung rembuk (musyawarah) di dalam menentukan pemimpin, dan menyerahkan kepada lembaga adat untuk menyelesaikan konflik.

Dalam era globalisasi saat ini kearifan lokal semakin diperlukan. Bukan saja untuk objek promosi wisata tetapi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tertentu yang tidak bisa diselesaikan dengan baik oleh hukum formal kita. Kearifan lokal juga bisa menyelesaikan konflik yang bertema keagamaan. Biasanya para pihak yang bertikai mempunyai agama, aliran, dan mazhab yang berbeda tetapi memiliki budaya leluhur yang sama. Budaya luhur inilah yang berpotensi menjembatani para pihak yang bertikai. Budaya luhur yang merupakan istilah lain dari kearifan lokal ini dapat mencairkan kembali hubungan yang renggang satu sama lain.

Masalahnya sekarang ialah kearifan lokal sudah mulai tergerus oleh nilai-nilai modernitas yang berasal dari luar, yang sesungguhnya adalah ‘kearifan lokal’ dari satu negara atau bangsa tertentu. Tergerusnya kearifan lokal sesungguhnya dapat dicegah seandainya kita memiliki sistem dan strategi budaya. Bangsa kita yang sedemikian luas, pluralistis, dan berada di posisi silang secara geografis, justru lebih memerlukan startegi pengembangan budaya ke depan.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah & Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Fibrian Yusefa Ardi