Seni dan Sufi
05/12/2017
Pengaruh Jalauddin Rumi di Indonesia
05/14/2017

Islam dan Kesehatan Masyarakat

Dalam perspektif Al-Qur’an, manusia mempunyai tiga unsur yang perlu mendapatkan perhatian dan pembinaan yang seimbang,  yaitu badan (jasad), nyawa (nafs), dan roh (ruh). Keutuhan seorang manusia manakala sudah memiliki ketiga unsur ini. Ketika manusia masih terdiri atas anggota badan dan nyawa, belumlah sempurna sebagai manusia. Roh sebagai unsur ketiga (khalqan akhar) “diinstall” ke dalam diri manusia ketika berumur 120 hari. Unsur ketiga inilah yang menjadikan dirinya sebagai prototype makhluk final (ahsan taqwim)(Q.S. al-Tin/95:4). Dengan demikian, manusia menjadi makhluk biologis sekaligus sebagai makhluk spiritual. Dua kapasitas ini memungkinkan dirinya mengakses dua dunia yang berbeda, yaitu dunia fisika dan metafisika, atau dunia lahir dan dunia batin.

 

Wacana pembinaan kesehatan manusia dan masyarakat seringkali hanya menggunakan indikator-indikator fisik. Faktor spiritual-rohaniah seringkali diabaikan, selain karena faktor ini memang sulit diukur, ontologi kesehatan masyarakat mengalami kuantifikasi dan sekularisasi. Seolah-olah semua konsep kesehatan masyarakat yang berasal dari luar, seperti konsep kesehatan masyarakat yang ditawarkan oleh agama dan nilai-nilai budaya lokal cenderung tidak diakui. Ironisnya indikator dan kriteria kesehatan masyarakat lebih banyak diintrodusir dari negara-negara maju (Barat), yang background nilainya berbeda dengan nilai budaya Timur.

Dalam perspektif Islam, upaya menciptakan kesehatan masyarakat menjadi satu paket dengan kumulatif ajaran Islam. Tanpa menyebut secara eksplisit kesehatan masyarakat, jika keseluruhan ajaran Islam diterapkan secara konsisten di dalam masyarakat maka otomatis akan berdampak langsung pada penyehatan masyarakat.

Nilai ajaran yang terkandung di dalam rukun iman dan rukun Islam, jika dipegang secara konsisten, maka sesungguhnya bukan hanya akan menjadikan seseorang menjadi orang shaleh, tetapi dengan sendirinya juga akan melahirkan apa yang disebut Al-Qur’an dengan umat ideal (khaira ummah).

Konsep khaira ummah dalam Al-Qur’an sesungguhnya tidak lain adalah masyarakat yang sehat itu sendiri. Kriteria khaira ummah antara lain adanya suatu masyarakat yang senantiasa menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (Q.S. Ali ‘Imran/3:110). Umat ideal tentu tidak terlepas dengan adanya kesehatan holistik di dalam masyarakat. Tumbuhnya generasi yang cerdas dan bergizi, senantiasa memperhatikan secara khusus aspek kebersihan yang dikatakan dalam hadis sebagai “separuh dari iman” (al-thaharah nishf al-iman).

Kebersihan dan kesehatan di dalam masyarakat mendapatkan perhatian khusus di dalam Islam. Dalam kitab-kitab standar keislaman (baca: Kitab Kuning), setebal apapun kitab-kitab itu hampir seluruhnya diawali dengan bab kebersihan (kitab al-thaharah). Dengan demikian, visi kitab-kitab kuning itu sejalan dengan visi dunia kesehatan kita yang menganggap kebersihan sebagai pangkal kesehatan.

Jika suatu masyarakat mengalami over-maskulin maka fenomena persaingan ketat, kekerasan, ketegangan, penaklukan, dan mungkin penjarahan, seringkali mewarnai masyarakat tersebut. Sebaliknya jika over-feminin maka masyarakat tersebut akan diwarnai oleh ketenangan, stabilitas, dan cenderung passif. Tentu yang ideal ialah keseimbangan anatar kualitas spiritual feminin-maskulin, yang ditandai dengan adanya suasana kompetisi positif dan  saling menghargai satu sama lain.

Allah Swt. adalah Tuhan segala sesuatu, Tuhan makrokosmos dan mikrokosmos. Manusia sebagai makhluk mikrokosmos merupakan bagian yang teramat kecil di antara seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Ia bagaikan setitik air di tengah samudra. Bumi tempat ia hidup bagaikan sebuah titik di antara jutaan planet dalam galaksi Bimasakti. Meskipun dipercaya oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi (khali`if al-ardl), manusia tidak sepantasnya mengklaim Allah Swt. lebih menonjol sebagai Tuhan manusia dari pada Tuhan makrokosmos, karena pemahaman yang demikian dapat memicu egosentrisme manusia untuk menaklukkan, menguasai, dan mengekploitasi alam raya sampai di luar ambang daya dukungnya; bukannya bersahabat dan berdamai sebagai sesama makhluk dan hamba Tuhan. Sepantasnya kita menyadari bahwa konsep al-asma` al-husna adalah konsep alam semesta. Tuhan tidak hanya memperhatikan kepentingan manusia, atau Tuhan tidak hanya kepada manusia, sebagaimana kesan dan pemahaman sebagian orang terhadap konsep penundukan alam raya (taskhir) kepada manusia. Seolah-olah konsep taskhir adalah “SIM” untuk menaklukkan alam semesta. Padahal, konsep taskhir sebenarnya bertujuan untuk merealisasikan eksistensi asal segala sesuatu itu bersumber dari Tuhan Yang Maha Bijaksana (al-Hakim), yang mengacu kepada keseimbangan kosmis dan ekosistem.

Manusia yang paling berkualitas di mata Allah Swt. ialah yang paling bertaqwa (Q.S. Al-Hujurat/49:13), yaitu “orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang” (Q.S.Ali ‘Imran/3:133). Dari ayat ini dipahami bahwa kualitas sejati di sisi Allah Swt ialah orang-orang yang mengaktifkan komposisi kualitas maskulin dan feminin. Sikap seperti inilah yang akan melahirkan kesejukan, ketenangan, dan kedamaian di dalam masyarakat.

            Dalam menyukseskan kedua misi manusia di bumi, yaitu sebagai khalifah dan sebagai hamba (‘abid), komposisi kedua sifat ini juga sangat penting. Kualitas maskulin sangat membantu manusia dalam menjalankan misinya sebagai khalifah, dan kualitas feminin sangat membantu manusia dalam menjalankan misinya sebagai abid. Namun, separasi ini tidak berarti pemisahan secara total, karena misi kekhalifahan hanya dijalankan dengan kualitas maskulin, maka kemungkinan besar yang akan terjadi ialah disrupsi dan kerusakan lingkungan alam dan lingkungan sosial, serta ketimpangan ekologis. Sebaliknya, mengeliminir kualitas maskulin dalam menjalankan misi manusia sebagai ‘abid, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah fatalisme keagamaan, yakni kesalehan individual yang tidak membawa dampak ke dalam kehidupan sosial.

Idealnya, jika komposisi kedua kualitas ini menyatu dalam diri setiap orang, maka yang akan terjadi adalah kedamaian kosmopolit (rahmatan li al-‘alamin) di tingkat makrokosmos dan negeri tenteram di bawah lindungan Tuhan (baldah tayyibah wa Rab al-Gafur) di tingkat mikrokosmos.

Jika saja manusia mengoptimalkan untuk mencontoh sifat-sifat Tuhan yang dipermudah dengan kehadiran Rasulullah sebagai contoh teladan, maka kita tidak perlu khawatir terlalu jauh dengan persoalan kesehatan masyarakat. Obsesi ajaran Islam tidak lain adalah masyarakat yang sehat rohani dan jasmani.

Kelengkapan hardware yang diistimewakan kepada manusia memungkinkannya untuk mengakses seluruh energi dari luar dirinya. Energi alam raya ditundukkan (taskhir) kepada manusia, terutama untuk mendukung kapasitasnya sebagai representatif Tuhan di jagat raya (khalaif al-ardl). Dari sudut mikrokosmos, bukanlah sesuatu yang aneh jika ada seseorang atau sekelompok orang mampu merekayasa energi-energi alam untuk disalurkan ke suatu objek, misalnya kepada manusia. Dari sudut makrokosmos, kesehatan lingkungan alam dengan keseimbangan ekosistemnya tentu juga akan memberikan kontribusi positif terhadap pola kesehatan holistik di dalam masyarakat.

Upaya untuk mentransformasikan  energi alam ke pada manusia sebagai anggota masyarakat sudah lama dikembangkan dalam sejarah intelektual umat manusia. Rasulullah sendiri, selain dikenal sebagai nabi, rasul dan kepala pemerintahan, juga ia menonjol sebagai tabib untuk meyembuhkan orang-orang sakit. Dalam kitab Al-Thibb al-Nabawiy (Pengobatan ala Nabi), dapat diketahui bagaimana terampilnya Nabi mengupayakan penyembuhan terhadap berbagai jenis penyakit pada pasien yang dihadapinya.

Al-Qur’an sebagai kitab suci spiritual umat Islam dijadikan tuntunan dalam upaya menciptakan holistic healing oleh para praktisi kesehatan dalam lintasan sejarah umat Islam. Al-Qur’an sendiri mengklaim dirinya sebagai “penyembuh” bagi orang yang percaya:

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Q.S. al-Isra’/17:82)

Alam raya adalah sumber energi manusia ciptaan Allah Swt. Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

 (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali ‘Imran/3:191).

Sudah pasti segala sesuatu itu mempunyai manfaat dan dapat dimanfaatkan oleh manusia. Alam raya ini sesungguhnya tidak lain adalah saudara kembar manusia sebagai sesama makhluk. Genetik mereka mempunyai sumber yang sama. Istilah benda mati hanya ada dalam kamus manusia. Bagi Tuhan tidak ada benda mati. Ini difahami dari berbagai ayat dalam Al-Qur’an, antara lain:

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Q.S. al-Isra’/17:44).

Ayat ini juga mengisyaratkan kemungkinan untuk mengakses dan merekayasa serta menyalurkan energi-energinya kepada suatu objek yang dituju. Meskipun semuanya ditundukkan untuk manusia tetapi manusia tidak dibenarkan menggunakannya dengan sewenang-wenang dan melampaui batas, sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. al-An’am/6:141.

 

Manusia dituntut untuk bersahabat dan menjaga kelestarian alam dan ekosistemnya. Antara manusia dan alam raya saling membutuhkan satu sama lain. Jika terjadi kerusakan lingkungan alam maka sudah barang tentu akan berdampak negatif terhadap manusia dan masyarakat. Alam raya adalah resourches manusia. Kualitas kesehatan masyarakat sangat ditentukan oleh lingkungan hidupnya. Alam raya ini diciptakan serasi dengan kehidupan masyarakat. Jika di kemudian hari alam raya tidak lagi dapat memfalitasi kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat, maka itu isyarat adanya disharmonisasi di antara mereka. Jika terjadi disharmonitas seperti itu maka yang bertanggung jawab adalah manusia, karena manusialah sebagai khalifah, pemimpin jagat raya sebagai representasi Tuhan.

Egoisme dan egosentrisme manusia acapkali menjadi penyebab terjadinya kerusakan alam, sebagaimana diisyaratkan Allah dalam Al-Qur’an:

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (Q.S. al-Mu’minun/23:71).

Ayat lainya juga menegaskan bahwa:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. al-Rum/30:41).

Sikap keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara sesama makhluk betul-betul sangat ditekankan di dalam Al-Qur’an. Makhluk biologis seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan merupakan komunitas tersendiri yang tidak ubahnya dengan komunitas manusia. Bahkan menurut Ibn Hazm, mereka juga memiliki pemimpin dan nabi, dengan mengutip firman Allah:

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Q.S. al-An’am/6:38)

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari” (Q.S. al-Naml/27:18)

Interaksi positif antara alam raya dan manusia serta interaksi positif antara manusia dengan makhluk-makhluk spiritual seperti malaikat dan jin banyak diungkap di dalam Al-Qur’an. Kesemuanya ini memperkuat anggapan betapa perlunya memelihara hubungan sinergis antara sesama makhluk Allah Swt.

Kapasitas inner power manusia amat dahsyat, sedahsyat dengan keistimewaan dirinya. Manusia paripurna, energinya mampu melejit melampaui kemampuan malaikat, seperti dibuktikan ketika Rasulullah mampu menembus Sidratil Muntaha, wilayah sekitar Tuhan. Sementara Jibril tersandung dengan keterbatasan energinya, sehingga tidak sanggup mengawal Rasulullah dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Setiap manusia berpotensi meningkatkan inner power-nya. Bahkan menurut Al-Gazali di dalam Ihya Ulumud Din, setiap manusia berpotensi menjadi nabi, hanya wahyu yang melantik seseorang menjadi Nabi dibatasi oleh Allah Swt.

Manusia juga memiliki kemampuan supernatural. Pemilik jiwa yang bersih, menurut Al-Gazali dan Ibn Arabi, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan penghuni ‘Alam Mitsal/’Alam Hayal, suatu wilayah hunian makhluk spiritual. Orang-orang yang mampu mengakses “alam” ini berpeluang untuk menembus kegaiban alam gaib. Boleh jadi yang bersangkutan wilayah alam gaibnya sudah menipis dan transparan, karena memang setiap orang tidak sama alam gaibnya, sementara orang lain masih gaib. Kalau saja setiap orang mempu membersihkan dirinya sebersih mungkin lahir batin, maka yang bersangkutan diberi kemampuan untuk mengakses alam gaib. Hadis Rasulullah yang dikutip dalam Ihya ‘Ulumud Din oleh Al-Gazali mengatakan bahwa: “ Kalau seandainya bukan karena setan memagari jiwa anak cucu Adam, maka mereka bisa melihat alam malakut (gaib).

Ada telinga yang mampu mendengarkan jeritan kesakitan orang yang disiksa di alam kubur, seperti pengalaman Rasulullah bersama Abu Bakar di atas makam. Ada mata yang mampu melihat peristiwa-peristiwa yang belum terjadi, seperti pengalaman Khidlir bersama Nabi Musa dalam Q.S. Al-Kahfi/18, dan banyak lagi pengalaman mistik para Wali Allah sebagaimana dapat dilihat dalam kitab Jami’ Karamat al-Auliya’ (Kumpulan Kekeramatan Para Wali), dua jilid, karya Yusuf al-Nabhani., lintas agama dan budaya.

Kemampuan supernatural (local genus) menjadi fenomena universal. Di setiap tempat kita bisa menjumpai orang-orang “pandai”, karena memang ilmu-ilmu kauniyah Tuhan universal. Aksesibilitasnya juga tidak mensyaratkan simbol-simbol formal. Jika seseorang mampu memiliki jiwa yang prima, bersih dan tangguh (istiqamah), maka keajaiban bisa saja terjadi pada diri orang itu.

Upaya untuk sampai kepada tempat (maqam) ini memang membutuhkan latihan-latihan spiritual secara telaten. Teknik dan latihan itu bisa saja berbeda antara satu sama lain. Adakalanya seseorang menempuh latihan dengan cara memanfaatkan kekuatan-kekuatan mistik-spiritual. Jika cara-cara yang dilalui menafikan prinsip-prinsp luhur kemanusiaan, apa lagi tujuannya untuk memenuhi hasrat keinginan biologisnya, maka cara itu bisa disebut black magic. Sebaliknya jika yang bersangkutan menempuh cara-cara luhur, tidak menyimpang dari prinsip nilai luhur kemanusiaan, maka cara itu disebut white magic. Black magic dan white magic berpotensi digunakan untuk tujuan-tujuan subjektif dan tidak terpuji.

Dalam Islam dikenal adanya sihir (sikhr), yaitu suatu keadaan luar biasa dimaksudkan untuk tujuan-tujuan subjektif dan lebih cenderung negatif. Islam tidak mentolerir pengamalan ilmu sihir dan black magic. Bahkan dengan white magic sekalipun jika itu dimaksudkan untuk kepentingan-kepentingan subjektif-negatif.

Islam membenarkan berbagai cara untuk mewujudkan kondisi manusia sehat, prima, utuh dan tangguh, sepanjang cara-cara tersebut tidak menempuh jalan-jalan yang sesat sebagaimana disebutkan tadi. Jika ada penemuan baru atau lama, yang terbukti meningkatkan kualitas kesehatan manusia, sungguh pun itu bersumber dari wilayah non-Islam maka itu dapat diterima dalam Islam.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto oleh Cyprianus Rowaleta