Empat Pelajaran Berharga Dari Peringatan Isra’ Mi’raj
04/25/2017
Benarkah Parpol Dianggap Gagal Tuntaskan Masalah Bangsa?
04/29/2017

Islam dan Kesenian Lokal

Seni Islam tidak mesti harus bernuansa Timur-Tengah (Arab). Ajaran Islam tidak identik dengan kebudayaan Arab. Islam memberikan peluang dan hak setiap budaya lokal (cultural right) untuk menampilkan, mengekspresikan, dan menafsirkan Al-Qur’an dan hadits. Kita bisa tetap menjadi orang Indonesia, tanpa harus menyerupai orang Arab, untuk menjadi the best muslim. ”Yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa” (Q.S. al-Hujurat ayat 13).

Memang seni dan musik tidak banyak disinggung di dalam Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an itu sendiri melampaui karya seni terbaik sekalipun. Baik pada masa turunnya maupun pada zaman-zaman sesudahnya. Salah satu kemukjizatan Al-Qur’an ialah keindahan dan ketinggian nilai seni-sastra dan bahasanya. Suatu ketika Musailamah al-Kazzab, seorang penyair ulung di masa turunnya Al-Qur’an mencoba menantang keindahan Al-Qur’an dengan menyandingkan karyanya dengan surah paling pendek dalam Al-Qur’an, surah al-Kautsar. Namun hasilnya sia-sia. Karyanya digantung di salah satu dinding Mesjid Haram dan surah al-Kautsar di salah satu dinding lain. Para pencinta seni memberikan pujian luar biasa kepada bait-bait surah al-Kautsar sementara syair Musailimah dicerca bahkan ada yang meludainya.

Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa suara yang merdu, yang menjadi unsur  penting di dalam penampilan bakat seni, merupakan karunia Tuhan yang diberikan kepada orang-orang tertentu, sebagaimana dinyatakan dalam Q.S. Fathir/35:1: Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Dalam kitab Tafsir Fakhr al_Razi,  dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan tambahan pada ayat ini ialah suara yang bagus (al-shaut al-hasan). Nilai-nilai keindahan dan kebaikan mendapatkan tempat yang positif di dalam Al-Qur’an, seperti diisyaratkan dalam Q.S. al-A’raf/7:32: Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?”. Sindiran Al-Qur’an terhadap suara yang tidak memiliki unsur  keindahan dan kasar ialah suara keledai, dinyatakan dalam Q.S. Luqman/31:19: Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Banyak hadits menerangkan bahwa musik dan seni suara mempunyai arti penting di dalam kehidupan manusia. Para nabi yang diutus oleh Allah SWT semuanya memiliki suara yang bagus, sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh  Tirmizi dan Qatadah:Allah tidak mengutus seorang nabi melainkan suaranya bagus.

Indonesia sangat kaya dengan seni lokal dengan demikian seni lokal Islam berpotensi mengisi seni dan peraban Islam. Unsur lokal tidak mesti harus berhadapan dengan unsur universalitas Islam, karena unsur universalitasnya cukup elastis dan dapat mengakomodir kearifn-kearifan lokal. Segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam dapat diakomodir sebagai kekayaan Islam. Ini sesuai dengan hadis: al-Hikmah dhalah li al-mu’min fahaitsy wajadaha fahuwa ahaqq biha (Hikmah dan kebajikan milik Islam, di manapun engkau menjumpainya, ambillah karena itu milik Islam).

Nasaruddin Umar                                                                                                                                                      

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto oleh Cyprianus Rowaleta