Masjid Sebagai Rumah Ilmu Pengetahuan
05/30/2017
Mengindonesiakan Umat Beragama
06/01/2017

Islam Marah ke Islam Ramah

Dalam sebuah hadis dikatakan, jika Al-Qur’an dipadatkan maka pemadatannya ialah surah al-Fatihah yang juga dikenal dengan Ummul Kitab. Jika dipadatkan lagi paka pemadatannya di dalam ayat pertamanya: Bi ism Allah al-Raman al-Rahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang). Inti Basmalah terletak pada dua kata terakhirnya yang menggambarkan sifat Tuhan. Kebetulan kedua kata tersebut berasal dari satu akar kata yang sama, yaitu rahima, artinya cinta-kasih.

Kata al-Rahman al-Rahim di dalam ayat pertama surah al-Fatihah menggambarkan Zat Allah Swt Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kata al-Rahman al-Rahim pada ayat ketiga, menggambarkan kapasitas Allah Swt sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Baik diri-Nya sebagai pribadi maupun kapasitasnya sebagai Tuhan selalu konsisten menekankan diri-Nya sebagai Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Di antara 99 sifat-sifat Allah Swt yang tergabung di dalam al-Asma’ al-Husna’, nama-Nya yang paling sering terulang di dalam Al-Qur’an ialah al-Rahim (Maha Penyayang) terulang sebanyak 114 kali dan al-Rahman (Maha Pengasih) terulang sebanyak 57 kali. Kesemuanya ini menggambarkan bahwa Allah Swt lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Ramah daripada Maha Pemurka. Memang ada nama Allah Swt yang menggambarkan diri-Nya sebagai Maha Angkuh (al-Mutakabbir) dan Maha Pendendam (al-Muntaqim) tetapi kedua nama itu hanya masing-masing terulang sekali. Nama-nama dan sifat-sifat Tuhan yang paling dominan menghiasi halaman demi halaman Al-Qur’an ialah nama-nama dan sifat-sifat ramah-Nya, bukan pemurka-Nya. Demikianlah sifat Allah paling dominan. Nabi Muhammad Saw pernah mewasiatkan agar mencontoh akhlak Allah Swt., sebagaimana disebutkan dalam hadis: Takhallaqu bi akhlaq Allah (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah).

Nabi Muhammad Saw sebagai teladan umat Islam dan disebut juga teladan kemanusiaan, selalu menekankan keramahan, bukan kemarahan. Sayyidatina ‘Aisyah pernah menggambarkan akhlak Nabi adalah Al-Qur’an (kana khuquhu al-Qur’an). Sedangkan Al-Qur’an sebagaimana diuraikan di atas sangat menonjolkan keramahan. Watak dan karakter Nabi dikenal sangat ramah dan tidak pernah ada yang mengesankannya berkarakter pemarah atau judes. Salah seorang sahabatnya pernah mengomentari bahwa di antara sekitar 500 orang sahabat Nabi sama-sama mengaku dirinya paling dicintai Nabi. Ia sangat ramah terhadap semua orang, tanpa membedakan umur, etnik, bahkan agama. Ia tidak pernah melewati anak-anak kecil tanpa mengusap kepalanya. Ia juga diriwayatkan suka bercanda dengan para orang tua jompo (‘ajuzah). Sampai kepada musuhnya sekalipun segan terhadapnya karena keramahan kepribadiannya.

Nabi sering kedatangan tamu lintas agama dan lintas etnik. Termasuk suatu ketika Nabi pernah menjamu 60 orang tokoh lintas agama di mesjidnya. Ia menyiapkan semacam penginapan di samping rumahnya untuk ditempati menginap, terutama mereka yang berasal dari jauh. Ia pernah berkorespondensi berupa surat-menyurat kepada pusat-pusat kerajaan dunia, seperti Raja Romawi, Raja Muqauqis, Raja Persia, dll. Bahkan keramahan Nabi bukan hanya pada manusia tetapi juga terhadap makhluk biologis lain, seperti binatang dantumbuh-tumbuhan. Termasuk juga kepada benda-benda mati yang memberi manfaat kepada dirinya.

Dengan demikian, tidaklah pada tempatnya menyandarkan sebuah tindakan kekerasan atas nama agama (Islam). Atas dasar apapun, dengan alasan apapun, kepada siapapun, dan untuk siapapun, tidak akan pernah ada tempatnya di dalam Islam. Nabi dan para sahabatnya tidak pernah mencontohkan tindakan kekerasan di dalam mencapai tujuan, sesuci apapun tujuan itu. Nabi memilih hijrah daripada nekad bertahan di Mekah di tengah ancaman nyawa. Nabi juga meminta sahabat dan umatnya mengikuti langkahnya. Mundur selangkah untuk mencapai kemenangan adalah cara Nabi.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal & Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto oleh Cyprianus Rowaleta