Membumikan Ajaran Islam
01/17/2018
Kemerdekaan Berkeyakinan
01/20/2018

Jihad untuk Menghidupkan, Bukan untuk Mematikan

 

Hakikat dan tujuan jihad sesungguhnya ialah untuk menghidupkan orang, bukannya untuk mematikan orang, apalagi orang-orang yang tak berdosa. Allah Swt. sejak semula menyatakan kemuliaan anak-cucu Adam, tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, dan agama, sebagaimana dikatakan: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (Q.S. Al-Isra’/17:70). Begitu mulianya manusia sehingga dikatakan: “Khalaqtubi yadayya” (Aku menciptakan dengan kedua tangan-Ku). Sedangkan makhluk lain termasuk malaikat hanya diciptakan dengan “satu tangan” Tuhan.

Nyawa manusia di mata Tuhan amat berharga, sehingga dikatakan:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Q.S. al-Maidah/5:32).

Ayat ini menyatakan melayangkan satu jiwa sama dengan melayangkan semua jiwa. Sebaliknya menyelamatkan jiwa seseorang sama dengan menyelamatkan semua jiwa orang lain. Ini pernyataan luar biasa di dalam Al-Qur’an yang tidak pernah dijumpai di dalam kitab suci mana pun.

Dalam ayat lain Allah Swt. menegaskan:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (Q.S. al-Isra’/17:33).

Bahkan pencegahan kelahiran karena tujuan hanya karena khawatir tidak bisa memberi makan pun dilarang di dalam ayat: 

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Q.S. al-Isra’/17:31).

Hak hidup adalah salah satu di antara lima hal ( الضرورية الخمسة/dharuriyyat al-khamsah) yang wajib dilindungi di dalam Islam, yaitu:  1) Kewajiban memelihara jiwa (حفظ النفس/hifdzh al-nafs), 2) Kewajiban memelihara agama (خفظ الدين /hifdzh al-dîn), 3) Kewajiban memelihara keturunan (حفظ النسب /hifdzh al-nasb), 4) Kewajiban memelihara akal (حفظ العقل /hifdzh al-‘aql), dan 5) Kewajiban memelihara harta (حفظ المال/hifdzh al-mâl). Jika dalam Islam dikenal adanya hukuman mati itu semata-mata bertujuan agar jangan pernah ada yang bermain-main dengan nyawa orang. Hukuman mati bisa digugurkan jika ada pemaafan dari keluarga korban. Semuanya ini menunjukkan betapa mulianya jiwa anak manusia.

Jika ada seruan jihad yang menyerukan terjadinya korban, apalagi korban jiwa maka itu perlu dipertanyakan. Sejak awal Nabi mencontohkan jihad itu tidak identik dengan pembunuhan (al-qital). Jihad yang sesungguhnya adalah untuk menghidupkan dan meningkatkan martabat kemanusiaan. Kita memang diwajibkan berdakwah tetapi tidak harus melalui kekerasan, sebab Allah Swt. menyatakan:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya kalian tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”. (Q.S. al-Qashash/28:56).

Kita tidak berhak memaksa orang mengikuti kehendak kita, sungguh pun itu dalam urusan aqidah, sebagaimana ditegaskan:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam agama”. (Q.S. al-Baqarah/2: 256)

Kita hanya dianjurkan berdakwah dengan bijaksana:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah (bijaksana) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk“. (Q.S. al-Naml/16:125).

Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal & Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto Cyprianus Rowaleta