Jangan Memaki-maki Orang Dalam Khotbah
11/03/2016
Filosofi Bhinneka Tunggal Ika
12/02/2016

Kearifan: Pengakuan Terhadap Minoritas

Akhirnya selalu kita kagum terhadap Nabi. Tidak ada yang meragukan bahwa masyarakat yang dihadapi Nabi, baik di Mekah terutama di Yatsrib, kemudian Nabi mengubahnya menjadi Madinah, adalah masyarakat yang sangat plural. Di Madinah ada kelompok berdasarkan agama dan kepercayaan seperti komunitas agama Kristen Monofisit, Kristen Nestorian, Kristen Orthodox, Yahudi, Zoroaster, Majusi, dan aliran-aliran kepercayaan lainnya. Dari segi etnis di sana ada suku Khazraj dan suku ‘Auz, serta kelompok pendatang lainnya, karena kota Madinah, banyak sekali pendatang dari luar seperti Persia dan Afrika. Ditambah lagi dengan adanya kelompok berdasarkan politik, yakni kelompok yang menghendaki kehadiran Nabi Muhammad di Madinah, seperti dua etnik disebutkan di atas yang telah menjalin perjanjian damai dengan Nabi yang dikenal dengan Bai’ah ‘Aqabah pertama dan kedua, dan kelompok lainnya menolak kehadiran Nabi seperti minoritas Yahudi dan sekutunya dari kelompok minoritas Kristen saat itu.

Ketika Nabi masuk di perbatasan Madinah untuk memenuhi undangan mereka, sudah mulai muncul masalah, karena kedua sponsornya yaitu suku Khazraj dan suku ‘Auz sama-sama meminta Nabi untuk menetap di tengah suku mereka. Nabi dengan cerdasnya menyelesaikan persoalan ini dengan mengatakan, kita nanti melihat unta saya di mana ia akan berlutut menurunkan saya. Unta Nabi memutari kota Madinah yang waktu itu relatif masih belum terlalu luas seperti sekarang. Luasnya kurang lebih sama dengan lingkaran parit (khandaq) yang pernah digali Nabi sebagai benteng. Unta Nabi berhenti di suatu tempat dan kebetulan di tempat pemberhentian unta itu di perbatasan kedua suku besar tadi. Akhirnya kedua etnik itu menerima keputusan Nabi.

Selanjutnya Nabi membaca Kota Madinah yang sedemikian kompleks dan menyimpan potensi konflik, terutama yang paling mendesak ialah mengalirnya pengungsi umat Islam dari Mekkah dan dari kota-kota lain mengikuti Nabi. Masyarakat sudah mulai terpola menjadi dua, yaitu kelompok pendatang (Muhajirin) dan kelompok pribumi (Anshar). Sebelum terjadi konflik, Nabi segera melakukan program yang disebut gerakan persaudaraan (al-ikha’), yaitu mempersaudarakan antara kelompok pribumi dan pendatang dengan cara melakukan kawin mawin antara keduanya. Laki-laki muhajirin diserukan kawin dengan perempuan Anshar, demikian pula sebaliknya. Kedua kelompok masyarakat ini akhirnya terjadi pembauran yang ideal.

Pengalaman Nabi ini bagus dicontoh untuk program transmigrasi dan kelompok migran lainnya di bumi Nusantara. Seandainya para transmigran atau kelompok imigran lainnya di suatu tempat melakukan kawin silang dengan suku atau etnis pribumi atau penduduk lokal setempat, maka ketegangan etnis yang sering membayangi negeri kita akan terselesaikan dengan permanen. Banyak sekali para pendatang datang ke daerah hanya untuk menyedot kekayaan di daerah itu. Selesai disedot pindah lagi ke daerah lain. Tanah dan potensi-potensi di daerah setempat dibeli dengan cara korupsi atau berkolusi dengan pemerintah daerah setempat. Akhirnya penduduk setempat menjadi “penonton” dan “pembantu” terhadap diri dan kepentingan orang yang berasal dari kota. Ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh kolonialisme dahulu. Sehingga masyarakat daerah seperti belum pernah merasakan kemerdekaan sejati untuk berdaulat di daerahnya sendiri. Mereka selalu merasa ada unsur luar yang menguasai dirinya sendiri. Situasi seperti ini tidak mungkin terjadi kalau sejak dini kita menerapkan pengalaman positif yang dirintis oleh Nabi Muhammad SAW. Pelajaran paling berharga kita bisa peroleh dari Nabi dalam kasus di atas ialah ketidakraguan Nabi untuk memberikan pengakuan terhadap kelompok minoritas. Allahu a’lam.

Kamis, 1 Desember 2016

Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto oleh Cyprianus Rowaleta