Masjid Sebagai Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat
02/15/2018
Membumikan Ajaran Islam
02/17/2018

Kebebasan Beribadah

Kebebasan beribadah salah satu bentuk hak asasi paling mendasar. Apapun agamanya, sebaiknya jan­gan pernah ada di antara kita menghalangi orang lain menjalankan praktik ibadahnya, selama tidak ada unsur penistaan agama lain di da­lamnya. Misalnya mengklaim praktik ibadahnya sebagai ajaran Islam tetapi se­sungguhnya bukan dari ajaran Islam.

Gagasan Fikih Kebhinnekaan yang pernah diwacanakan sejumlah pemikir Muhammadiyah perlu ditindaklanjuti, karena gagasan itu memberi ruang leluasa kepada kelompok minoritas untuk menjalankan agama dan kepercayaannya secara merdeka. Bukankah sejak awal Nabi Muhammad Saw selalu memberikan hak beribadah kepada umat non-muslim. Al-Qur’an sendiri menying­gung tidak kurang 15 kali kata Yahudi, 10 kali kata Nashrani, termasuk beberapa kali agama-agama lain seperti Majusi, dan Shabi’in. Ini artinya Al-Qur’an memberi pengakuan akan keberadaan agama lain selain Islam, meskipun bagi umat Is­lam tentu agama yang benar di sisinya ialah Is­lam.

Upaya untuk mengajak orang lain memilih Islam dilakukan dengan bijaksana, sebagaima­na ditegaskan di dalam ayat-Nya:

Ajaklah oarng-orang ke jalan Tuhanmu dengan penuh kebijakan (hik­mah), dengan nasihat yang baik, dan ajaklah ber­dialog dengan cara-cara yang lebih baik). (Q.S.An-Nahl/16:125).

Tidak pernah terekam dalam sejarah Nabi Muhammad Saw mencekal seseorang melaku­kan ibadah, asal yang dilakukan itu betul-betul ibadah sesuai dengan tuntunan agamanya. Bahkan Nabi selalu mewanti-wanti umatnya jika melakukan peperangan dengan suatu kaum agar tidak merusak atau menghancurkan rumah-rumah ibadah mereka. Larangan seperti ini terus dipertahankan oleh para Khulafaur Ra­syidin yang melanjutkan kepemimpinan Nabi setelah ia wafat. Dalam tulisan Albalaziri diku­tip sebuah riwayat yang menuliskan perjanjian Nabi dengan non-muslim yang di antara pasal­nya disebutkan sebuah redaksi cukup menarik, yaitu: “Seorang uskup tidak mesti mengubah keuskupannya, begitu pula seorang rahib tidak perlu mengubah kerahibannya, dan begitu pula seorang pendeta tidak perlu merubah kepende­taannya” (h. 76).

Dalam kesempatan lain Nabi pernah bersab­da sebagaimana dikutip dalam buku Albalaziri:

“Barangsiapa yang tetap dalam agama Yahudi atau Nashrani maka ia tidak akan dipersoalkna” (h. 82). Bahkan di dalam Kitab Ibn Katsir meng­utip sebuah riwayat, Nabi Muhammad Saw per­nah memberikan izin kepada delegasi tokoh lin­tas agama, khususnya mereka yang beragama Nashrani Najran melakukan kebaktian di samp­ing mesjid Nabi ketika mereka melakukan kun­jungan persahabatan dengan Nabi. (Jilid IV h. 91).

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto oleh Cyprianus Rowaleta