Islam dan Kearifan Lokal
03/15/2018
Langkah Rasulullah Mengatasi Masalah Perbedaan
03/17/2018

Ketulusan Cinta dalam Al-Qur’an

Salah satu unsur yang paling penting dalam setiap agama ialah penanaman rasa cinta tanpa parih (unconditional love) kepada setiap orang tanpa membedakan jender, agama, etnik, dan kewarganegaraan seseorang. Jika unsur cinta hilang dari agama maka yang akan muncul adalah kebencian. Munculnya potensi konflik beragama boleh jadi karena umat beragama mendapat pemahaman yang tidak utuh dari ajaran agamanya. Semakin dalam penghayatan keagamaan seseorang terhadap agamanya, semakin kuat rasa cintanya kepada sesama. Tindakan kekerasan yang lahir atas nama agama bisa dipastikan merupakan tindakan yang keliru.

Cinta dalam Islam merupakan inti ajaran. Dalam hadis Nabi dijelaskan, jika 30 juz atau 114 surah dalam Al-Qur’an dipadatkan maka pemadatannya ialah surah Al-Fatihah, inti surah ini terletak pada ayat pertamanya: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ /Bismillahir rahmanir rahim. Inti basmalah terletak pada dua kata terakhir: Al-Rahman al-Rahim. Kedua kata ini berasal dari akar kata yang sama, yaitu rahima yang berarti cinta.

Dalam Al-Qur’an dikenal tidak kurang dari 14 terminologi cinta, antara lain al-hubb (الحب), al-‘isyq (العشق), al-syagaf (الشغف), al-widd (الود), al-ta’alluq (التعلق), dan lain-lain. Istilah-istilah itu menggambarkan berbagai bentuk dan kualitas cinta; mulai dari cinta “monyet” sampai cinta Ilahi (mahabbah). Semakin tinggi derajat cinta, semakin terbatas persyaratan cinta itu, sehingga cinta itu tidak lagi mengenal dan tergantung pada kondisi tertentu. Mungkin karena itu cinta ini disebut dengan unconditional love. Cinta Ilahi (unconditional love) ialah puncak kecintaan seseorang kepada Tuhan. Begitu kuat cinta itu maka seolah yang mencinta dan yang dicintai menjadi satu. Yang mencinta dan yang dicintai terjadi persamaan secara kualitatif sehingga antara keduanya terjalin keakraban aktif.

Sebenarnya semua orang berpotensi mencapai kualitas cinta ini, karena memang semua berasal dari-Nya dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ /Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Kedua entitas itu berbeda namun sulit untuk dipisahkan, seperti laut dan gelombangnya, lampu dan cahayanya, api dan panasnya. Kita tidak bisa mengatakan laut sama dengan gelombang, lampu sama dengan cahaya, atau api sama dengan panas, demikian pula kita tidak bisa mengatakan antara yang mencinta dan yang dicintai betul-betul sama atau antara makhluk sama dengan Khaliq.

Lautan cinta pada diri seseorang akan mengimbas pada seluruh ruang. Jika cinta sudah terpatri dalam seluruh jaringan badan kita maka vibrasinya akan menghapus semua kebencian. Sebagai manifestasinya dalam kehidupan, begitu bertemu dengan seseorang, ia tersenyum, sebagai ungkapan dan tanda rasa cinta.

Nikmat sekali bermesraan dengan Allah SWT. Kadang tidak terasa air mata meleleh. Air mata kerinduan dan air mata taubat inilah yang kelak akan memadamkan api neraka. Air mata cinta akan memutihkan noda-noda hitam dan menjadikannya suci. Cinta tidak bisa diterangkan, hanya bisa dirasakan. Terkadang terasa tidak cukup kosakata yang tersedia untuk menggambarkan bagaimana nikmatnya cinta. Kosakata yang tersedia didominasi oleh kebutuhan fisik sehingga untuk mencari kata yang bisa memfasilitasi keinginan rohani, tidak cukup. Terminologi dan kosakata yang tersedia lebih banyak berkonotasi cinta kepada fisik material, tetapi terlalu sedikit kosakata cinta secara spiritual. Mungkin itulah sebabnya mengapa Allah SWT memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena kosakata spiritualnya lebih kaya.

Cinta Allah bersifat primer, sementara cinta hamba bersifat sekunder. Primer itu inti, substantif. Sebaliknya yang sekunder itu tidak substansial. Pemilik unconditional love yang paling sejati ialah Allah SWT. Namun manusia dituntut untuk mencontoh sifat-sifat keutamaan Tuhan sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi: تخلقوا بأخلاق الله/ Takhallaqu bi akhlaq Allah (Berakhlaklah dengan akhlak Tuhan). Jika Tuhan Maha Mencinta maka kita perlu mencontoh ketulusan cinta Tuhan. Sekalipun ada makluk-Nya yang khianat dan membangkang seperti Iblis dan para pengikutnya dari kalangan manusia, tetap mereka mendapatkan rahmat rahmaniyah-Nya.

Wujud pengamalan unconditional love pernah ditunjukkan Rasulullah Muhammad SAW ketika dilempari batu sampai tumitnya berdarah-darah oleh-orang-orang Thaif. Rasul hanya tersenyum. “Wahai  umatku, seandainya engkau tahu visi misi yang kubawa, engkau pasti tidak akan melakukan ini,” demikian bisiknya. Ketika datang malaikat penjaga gunung Thaif menawarkan bantuan untuk membalas perbuatan orang-orang Thaif, Nabi berucap, “Terima kasih. Allah lebih kuasa daripada makhluk. Jangan diapa-apakan. Mereka hanya tidak tahu. Kelak bila mereka sadar, mereka akan mencintaiku.”

Nabi Nuh As. pernah menyesal sejadi-jadinya karena ia mendoakan umatnya binasa. 950 tahun ia berdakwah mengajak kaumnya ke jalan Allah, namun hanya segelintir yang mengikuti ajakannya. Yang lainnya ingkar sehingga Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikirimkan bencana kepada kaumnya yang ingkar itu. Maka datanglah banjir besar yang menenggelamkan mereka, sedangkan Nuh dan para pengikutnya sudah mempersiapkan diri dengan membuat perahu.

Ada sebuah ungkapan dari ahli hakikat: “Kalau cinta sudah meliputi segenap diri, maka tak ada lagi ruang kebencian di dalam diri seseorang. Sejelek apa pun orang lain, ia tak akan membalas dengan kejelekan.” Banyak ulama besar kita telah mencapai tingkatan itu. Imam Syafi’i pernah “dipermainkan” oleh seorang tukang jahit saat memesan baju. Lengan kanan baju itu lebih besar/longgar dibanding lengan kirinya yang kecil dan sempit. Imam Syafi’i bukannya komplain dan marah kepada tukang jahit itu, malah berterima kasih. Kata Imam Syafi’i, “Kebetulan, saya suka menulis dan lengan yang lebih longgar ini memudahkan saya untuk menulis sebab lebih leluasa bergerak.”

Semakin meningkat kadar cinta maka semakin mesra pula belaian Allah SWT. Bagaimanakah nikmatnya belaian Allah SWT? Bayangkanlah seorang bayi yang dibelai ibunya. Tersenyum, dan sekelilingnya menggoda. Itu baru belaian makhluk. Apalagi belaian Sang Pencipta. Tuhan jauh lebih mencintai hamba-Nya ketimbang seorang ibu mencintai bayinya.

Kita pun akan semakin akrab dengan Allah, dan semakin tipis garis pembatas alam gaib di hadapan kita sehingga semua rahasia akan terkuak dan semakin banyak keajaiban yang kita lihat. Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, masih adakah rahasia antara keduanya? Ruh sifatnya tinggi dan cenderung dekat dengan Allah. Raga sifatnya rendah dan jauh dari Allah. Ruh itu terang, sedangkan raga gelap. Para sufi mengungkapkan, “Wahai raga, sibukkan dirimu dengan shalat dan puasa. Wahai kalbu, sibukkan dirimu dengan bisikan munajat kepada Allah. Wahai raga, ungkapkan اياك نعيد/iyyâka na’budu. Wahai kalbu, ungkapkan اياك نستعين/iyyâka nasta’în.”

Jika seseorang menghayati salatnya maka tidak akan ada lagi kekerasan atas nama agama.

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Fibrian Yusefa Ardi