Pemuka Agama Hadir di Acara Lustrum V Rajut Kerukunan Beragama
07/08/2018
Bersahabat Dengan Laut
07/11/2018

Kurikulum Islam Indonesia: Khutbah-Khutbah Imam Besar

Judul Buku      : Khutbah-Khutbah Imam Besar

Penulis             : Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, MA.

Penerbit           : Pustaka IIMan dan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Cetakan           : I, April 2018

Hal                    : 333

ISBN                 : 978-602-8648-26-4

Sekitar 300.000 khatib menyampaikan ceramah Islam setiap pekan di republik yang sangat besar ini. Podium khutbah jumat sangat berperan bagi penyegaran ilmu keislaman di Indonesia.

Panggung tersebut sangat rentan untuk disalahgunakan oleh mereka yang ingin menyampaikan ajaran Islam yang tidak sesuai dengan konteks Indonesia yang majemuk. Ada materi intoleran, radikal bahkan politik praktis yang memaksa “Tuhan” terlibat dalam ambisi perebutan kekuasaan. Semua itu disampaikan dengan intonasi keras dan penuh kebencian. Sangat bertolak belakang dengan semangat Islam yang tercermin dari dominasi sifat rahmat-Nya dibandingkan sifat dendam-Nya dalam 99 Asmaul Husna.

Masjid Istiqlal sebagai masjid terbesar di Indonesia dan terbesar ke-3 setelah Haramain dan Masjidil Aqsa tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah kaum muslimin. Letaknya yang berseberangan dengan katedral ingin memberi kesan akan kuatnya toleransi antara umat beragama di Indonesia. Istiqlal adalah simbol dan induk ratusan ribu masjid dari Sabang sampai Merauke. Bagaimana gambaran Islam di Indonesia, cukup datang ke Istiqlal. Sudah banyak pemimpin Negara yang mengunjungi Istiqlal, Tony Blair, Barrack Obama, Raja Salman, dan Perdana Menteri Denmark,  telah menyaksikan kemegahannya.

Imam Besar Masjid Negara tentu bukan posisi sembarangan. Ia bukan sekedar simbol keulamaan, tetapi juga simbol persatuan Islam itu sendiri, dan sekaligus simbol integrasi Islam dan Negara. Sebab, masjid Istiqlal tidak semata-mata dilihat sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai melting pot antara ulama, umara (pemimpin) dan umat (rakyat). Maka pada momen-momen tertentu seperti Idul Adha dan Idul Fitri, presiden dan para pejabat tinggi negara dan para ulama akan bertemu di sana, berbaur dengan umat. Pada saat itu, yang menjadi pemimpin bukanlah presiden atau ketua MPR, melainkan Imam Besar Masjid Istiqlal. Dari situlah tampak betapa agungnya kedudukan seorang imam pada sebuah masjid yang melambangkan persatuan ulama, umara dan umat.

Peran yang sangat sentral itu menuntut kepemimpinan dari pribadi yang mampu mencerminkan dan membawa Masjid Istiqlal sebagai etalase yang indah, mencerminkan wajah muslim Indonesia yang toleran, moderat dan nasionalis.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., seorang ulama dan cendekiawan, Guru Besar Ilmu Tafsir, yang juga memiliki pengalaman birokrasi sebagai Dirjen Bimas Islam hingga Wakil Menteri Agama, dianggap mampu untuk menakodai fungsi besar Masjid Istiqlal tersebut. Menggantikan sosok Ulama-Cendekiawan sebelumnya, Allahu Yarham Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, Nasaruddin Umar menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal periode 2015-2020.

Menyadari betapa penting peran Istiqlal sebagai “Imam” para masjid di Nusantara, buku Khutbah-khutbah Imam Besar ini sangat dibutuhkan sebagai kurikulum khutbah jumat atau bahan ceramah bagi para muballigh di seluruh pelosok negeri. Demi menjamin kualitas dan kesesuaian masukan yang diperoleh masyarakat muslim Indonesia, yang mayoritas berpaham teologi Ahlussunnah wal Jama’ah, mazhab fiqhi Syafi’i dan berpedoman pada tasawuf Al-Ghazali.

Perdebatan mengenai 200 nama penceramah yang dirilis oleh Kementerian Agama maupun mengenai sertifikasi Khatib oleh Majelis Ulama Indonesia mengindikasikan tidak mudahnya mengatur “Juru Bicara Agama Islam” di negeri ini.

Melalui 53 materi khubah dalam buku ini, Imam Besar Masjid Istiqlal ingin keluar dari perdebatan itu dan memilih menyediakan materi wasathiyyah bagi para imam dan khatib se-Indonesia. Sehingga, betapa pun besarnya kebutuhan khatib bangsa ini, buku ini dapat dibaca dan dipedomani oleh siapa saja yang ingin tampil dan bertugas menyampaikan nasihat pada pertemuan rutin setiap pekan umat Islam tersebut.

Buku ini merekam sebagian pemikiran Sang Imam, yang memang diakui sebagai salah satu tokoh muslim Indonesia yang sangat produktif menulis. Sebagiannya memang merupakan materi khutbah jum’at yang pernah ia bawakan sendiri, dan sebagian lainnya merupakan hasil suntingan dari berbagai tulisannya yang tersebar di beberapa kolom media massa.

Penyusunan topik yang tidak berpatokan pada kronologi kalender Islam membuat pembaca dapat dengan bebas memilih materi yang diinginkan atau menggabungkan beberapa materi, bahkan menggunakan dalil yang tertera dan/atau penjelasan yang diberikan, untuk disesuaikan dengan kondisi audiens masing-masing.

Editor buku, Ahmad Gaus AF sangat tepat dipilih sebagai editor buku ini, dengan modal pertemanan lebih dari 20 tahun, membuatnya sangat mafhum terhadap pemikiran keagamaan dan visi intelekual Imam Besar ini.

Pikiran-pikiran yang ada dalam buku ini selalu dalam koridor mencari hubungan yang paling maslahat antara Islam dan isu-isu kontemporer, termasuk di dalamnya isu politik, toleransi, jihad, radikalisme, terorisme, lingkungan hidup, hingga isu-isu spesifik dalam kehidupan dan praktik tasawuf.

Perspektif yang disajikan adalah tawassuth (moderat), tawazun (proporsional) dan tasamuh (toleransi), sehingga apa pun materi yang disampaikan dalam buku ini, maka diujungnya akan ditemukan titik pertemuan yaitu cahaya Islam Rahmatan lil ‘Alamin. Islam yang berwajah agung sekaligus lembut, yang membawa misi damai dan cinta untuk seluruh alam.

Pusat Kajian Agama dan Budaya (Center for the Study of Religion and Culture/CSRC) UIN Syarif Hidayatullah sangat tepat menerbitkan buku ini sebagai lembaga professional yang tidak hanya menampakkan permasalahan umat lewat kajian-kajiannya, tetapi juga memberikan solusi seperti buku ini. Banyak yang menulis buku materi khutbah, tapi hanya sedikit yang betul-betul ditulis oleh orang yang otoritatif, yang pantas dijadikan sebagai pedoman bahan khutbah yang sesuai dengan konteks Islam Nusantara. Di titik inilah buku ini memiliki tempat tersendiri yang istimewa.

Darul Ma’arif Asry, alumni Pesantren Al-Ikhlas Ujung-Bone, tamatan UIN Alauddin Makassar, bergiat di Panrita Institute dan Inisiatif Rukun.