Ponpes Al-Ikhlas Yang Antikuper
02/08/2012
Nasaruddin Umar: “Istiqlal Simbol Pemersatu Bangsa, Kiblat Peradaban”
01/28/2016

Masjid dalam Sejarah Pembentukan Bangsa Indonesia

Jumlah masjid, termasuk mushalah, langgar, dan surau sudah mencapai 800.000 di seluruh Indonesia. Termasuk di antaranya yang diabadikan dalam buku monumental yang diberi judul “Masjid-masjid Kuno di Indonesia”. Bayangkan begitu luasnya lahan dan space  yang merupakan aset umat ini berada di tengah-tengah permukiman masyarakat. Bayangkan kalau setiap masjid dibuatkan serambi yang dapat digunakan untuk melayani kebutuhan sosial ekonomi umat. Bayangkan kalau masjid yang sebanyak itu dapat dikelola secara profesional.

Potensi masjid bukan hanya dalam bentuk tanah pekarangan luas, bangunan arstiktik, dan kekayaan yang ada di dalamnya, tetapi juga jamaahnya. Para jamaah masjid itu bervariasi. Ada pemilik modal, ada pengangguran, ada mahasiswa dan sarjana, ada anak-anak dan ada orang tua. Kalau semuanya disinergikan maka masjid berpotensi luar biasa untuk menyelesaikan problem sosial dan ekonomi umat. Inilah peran masjid dan mushalah di Indonesia, menjadi basis motivasi umat di dalam membangun bangsanya.

Perkembangan masjid bukan hanya secara kuantitas tetapi juga fasilitas dan kemegahannya. Tidak sedikit jumlah surau, langgar, dan mushallah dipugar menjadi masjid. Tidak sedikit pula jumlah bangunan masjid direhab menjadi masjid yang lebih besar dan megah. Ruang (space) di sebagian wilayah Indonesia terasa semakin “Islam”, karena hampir tiada lagi celah ruang yang tidak terjangkau suara azan yang dikumandangkan melalui speaker masjid.

Pertumbuhan jumlah masjid dan mushallah dalam dekade terakhir berbanding lurus dengan fenomena peningkatan kualitas spiritual di dalam masyarakat. Masjid dan mushallah menjadi faktor tersendiri dalam pembangunan fisik, seperti pembangunan perumahan, perkantoran, kampus, rumah sakit, hotel, restoran, pasar sampai pada sarana angkutan laut. Seolah-olah tidak ada lagi alasan meninggalkan shalat karena keterbatasan tempat shalat.

Hanya saja masih perlu dicermati fenomena kuat di dalam masyarakat, masjid masih lebih banyak difungsikan sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah ritual, seperti shalat berjama’ah, begitu selesai shalat masing-masing jamaah bubar tanpa banyak mendatangkan efek sosial secara horizontal sesama jamaah. Efektivitas penggunaan masjid pun masih terkonsentrasi hanya pada hari-hari tertentu dengan frekuensi waktu terbatas, misalnya pada pelaksanaan shalat Jum’at yang berlangsung sekitar satu jam. Demikian pula dengan shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, shalat jamaah Tarwih pada awal-awal Ramadlan, atau pada peringatan hari-hari besar Islam. Masjid dengan suasana demikian, masih tidak ubahnya dengan bus umum regular, mengantar berbagai penumpangnya ke tempat tujuan tanpa saling memperhatikan satu sama lain, meskipun mereka duduk berdempetan.

Sungguh sangat disayangkan jika masjid yang sedemikian itu hanya digunakan untuk kepentingan seremonial sesaat. Tentu kita berobsesi bahwa masjid yang pada umumnya menempati areal strategis itu dapat didayagunakan untuk kepentingan yang lebih luas. Untuk itu, sudah saatnya kita memikirkan bersama model-model pendayagunaan masjid (ta’mir al-masajid) yang lebih produktif, efisien, dan efektif.

Pengalaman menunjukkan, bahwa kesuksesan misi yang diemban Rasulullah Saw, masjid memiliki peran yang amat penting. Masjid Rasulullah betul-betul berfungsi sebagai sekretariat pemberdayaan umat. Bukan lagi masyarakat yang memberdayakan masjid tetapi masjid yang memberdayakan masyarakat.

Fungsi masjid pada masa Nabi, sebagaimana  dapat diketahui melalui aktivitas masjid Nabi (masjid nabawi) antara lain sebagai berikut:

  1. Tempat pelaksanaan ibadah ritual, seperti shalat lima waktu.
  2. Tempat konsultasi untuk masalah keagamaan dan keduniaan.
  3. Tempat penyampaian informasi publik, baik kapasitasnya sebagai Nabi/Rasul atau sebagai kepala pemerintahan.
  4. Tempat melaksanakan berbagai kegiatan pendidikan.
  5. Tempat melaksanakan santunan sosial.
  6. Tempat latihan militer.
  7. Tempat penampungan pengungsi, khususnya mereka yang korban perang antar-kabilah atau antar-etnik.
  8. Tempat perawatan dan pengobatan masyarakat.
  9. Tempat untuk melaksanakan perdamaian dan pengadilan.
  10. Tempat untuk menahan tawanan perang.
  11. Tempat untuk menerima tamu.
  12. Tempat untuk mengekspresikan seni-religius, sebagaimana Rasulullah pernah menyaksikan kelompok seniman dari Khabasyah untuk menampilkan kreasi nasyidnya di masjid.

Dengan berbagai alasan, Rasulullah Saw kelihatan sekali sikap proaktifnya di dalam pemberdayaan umat lewat masjid. Suatu ketika, tatkala perang Badr baru saja usai dan kemenangan besar di pihak umat Islam, para tawanan perang banyak di antaranya pemimpin dan elit kafir Quraisy. Mereka ikut serta dalam peperangan ini karena yakin pasti menang dengan kekuatan militer yang dimilikinya tidak seimbang dengan pasukan Nabi. Namun di luar dugaan, mereka kalah dan ditawan di halaman masjid. Tawanan perang ini menimbulkan kontroversi di kalangan sahabat. Rasulullah meminta pendapat para sahabat mengenai mereka, kemudian ditanggapi oleh Umar ibn Khattab, yang menyarankan agar mereka dibunuh atau dijadikan budak sesuai dengan hukum adat perang ketika itu. Sementara Abu Bakar mengusulkan agar mereka dipilah berdasarkan keahlain masing-masing untuk memberdayakan umat Islam di Madinah. Rasulullah menyetujui pendapat Abu Bakar lalu beliau meminta supaya diidentifikasi masing-masing tawanan perang yang sedang ditawan di pekerangan masjid Nabi berdasarkan keahlian dan keterampilan masing-masing. Akhirnya mereka teridentifikasi bahwa mereka ada yang ahli bahasa asing, tukang kayu, tukang besi, tukang batu, ahli produksi senjata, ahli penyamak kulit, sampai kepada ahli tatarias pengantin. Lalu Rasulullah Saw memerintahkan sahabat agar membentuk kelas-kelas terdiri atas 20 orang dari umat Islam sesuai dengan bakat dan minat masing-masing, tanpa membedakan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, golongan muhajirin atau  anshar. Tawanan-tawanan perang yang menunggu dirinya dieksekusi ternyata dibebaskan dengan syarat mereka mengajari kelas-kelas yang sudah disiapkan di dalam masjid berdasarkan penggolongan bakat dan minat. Dalam waktu tidak terlalu lama, telah tersedia Sumber Daya Manusia (SDM) muslim yang andal sesuai dengan bidangnya masing-masing. Inilah bagian kecil dari kesuksesan Nabi dan sekaligus dapat dilihat bagaimana peranan masjid sebagai bagian penting dalam upaya membebaskan masyarakat dari buta huruf dan buta keterampilan. Para tawanan perang tadi tanpa sedikit pun paksaan, memilih menganut agama Islam dengan penuh kesadaran.

Masjid di masa Nabi betul-betul menjadi faktor yang sangat penting. Di dalam masjid ketahuan siapa sahabat yang sakit dan siapa yang mempunyai keahlian mengobati penyakit itu. Di dalam masjid pula ketahuan siapa yang segera membutuhkan perhatian khusus untuk diberi bantuan khusus.

Masjid yang tidak efektif, apalagi kalau masjid itu nyata-nyata menjadi sumber keresahan umat, menjadi arena untuk saling menghujat dan menyalahkan satu sama lain sesama ummat, sesungguhnya tidak sejalan dengan fungsi dan misi pengelolaan masjid Nabi sebagaimana dijelaskan tadi. Bahkan Rasulullah Saw pernah memerintahkan untuk membakar sebuah masjid, yaitu Masjid Dlirar di Zu Awan, kurang lebih perjalanan satu jam dari Kota Madinah. Masjid ini dibangun oleh orang-orang munafik di bawah pipmpinan Abdullah ibn Ubay ibn Abi Salul untuk mengajarkan ajaran sesat untuk memecah belah umat Islam. Peristiwa ini menyebabkan turunnya Q.S. al-Taubah/9:108.

Ta’mir masjid  yang ideal ialah multifungsi masjid tanpa mengeliminir orisinalitas dan kekuatan nilai spiritual di dalam masjid itu, sebagaimana diisyaratkan dalam Q.S. al-Taubah/9:108:

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ayat ini sebenarnya mengisyaratkan masjid sebagai pusat pembentukan umat dan kader yang konstruktif guna melahirkan suatu masyarakat Islam yang mandiri. Kita berharab pembinaan masjid, mushalah, langgar, dan surau dari waktu ke waktu tersentuh oleh manajemen modern, sehingga tak sejengkal pun space masjid itu tersia-siakan.

Jakarta, 7 Juni 2012

Nasaruddin Umar 

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto oleh Cyprianus Rowaleta