Filosofi Bhinneka Tunggal Ika
02/13/2018
Seni dan Sufi
02/14/2018

Masjid Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Mikro

Rumah-rumah ibadah selalu mendekati masyarakat, bahkan berada di tengah-tengah masyarakat. Rumah ibadah merupakan lokus kesadaran paripurna setiap orang. Kesadaran komperhensif sangat tinggi nilainya di dalam masyarakat modern. Semakin banyak orang dalam era modern saat ini hanya terpicu mengembangkan kesadaran professional yang sangat spesifik, tetapi semakin tidak tertantang untuk mengembangkan kesadaran kolektif dan konperhensif, karena tidak langsung memberikan keuntungan secara ekonomi. Padahal, justru di sini awal dari sebuah persoalan besar jika jalan hidup atau world view dibangun di atas kesadaran parsial, dalam arti mengeliminir kesadaran universal-humanity itu.

Pengembangan ekonomi, baik makro maupun mikro, jika hanya dibangun di atas landasan profesionalisme, yang mengedepankan faktor untung-rugi semata, tidak mengintrodusir apalagi dengan sengaja mengeliminir kesadaran religius, maka wujud masyarakat yang akan lahir ialah sebuah masyarakat yang bertentangan dengan berbagai ketimpangan dan pada akhirnya rawan dengan berbagai konflik sosial. Yang kaya sudah barang tentu akan semakin kaya dan miskin akan semakin miskin. Keterbelahan sosial akan menghiasi wajah perkotaan, kemiskinan akan mewajahi pedesaan, dan pola konsumerisme akan didemonstrasikan oleh segelintir masyarakat di atas puing-puing penderitaan masyarakat miskin yang jumlahnya jauh lebih besar.

Rencana pengembangan ekonomi mikro berbasis rumah ibadah sangat strategis karena kultur keagamaan masih sangat kental di dalam masyarakat bangsa Indonesia. Betapa tidak, bukankah rumah ibadah itu terhimpun di dalamnya komponen-komponen inti masyarakat seperti pejabat, pemilik modal, LSM, sarjana atau orang-orangĀ  pandai, seniman, pengangguran, anak-anak, dan orang tua. Di dalamnya berhimpun bersama antara produsen, distributor, dan konsumen. Di dalamnya berkumpul antara pemerintah, ulama, dan rakyat. Bukankah rumah-rumah ibadah itu umumnya berada di tengah-tengah masyarakat? Jika rumah-rumah ibadah digunakan sebagai sekretariat atau pusat pemberdayaan ekonomi mikro, maka hasilnya pasti luar biasa. Persaudaraan sebagai sesama jamaah yang sudah saling percaya satu sama lian, sebaiknya dimanfaatkan untuk membangun sesuatu yang lebih pragmatis di dalam komunitas tersebut.

Anggota jamaah pemilik modal menyisihkan sedikit modalnya, manajemen rumah ibadah sudah mendata para penganggur, dan profesional, pejabat pemerintah setempat ikut membantu memfasilitasi legalitas usaha yang dirintis, akuntan publik atau professional lainnya ikut menyumbangkan pikirannya, mungkin ada mahasiswa yang bisa diberdayakan di dalam komunitas tersebut, halaman dan space yang tersisa di sekitar rumah ibadah dapat dimanfaatkan, keuntungan yang diperoleh bisa membantu anak-anak yatim dan orang jompo yang dibina oleh rumah ibadah. Dengan demikian, pengembangan ekonomi mikro yang berbasis rumah ibadah bisa muncul sebagai solusi dari berbagai permasalahan di dalam masyarakat. Orang-orang yang malas ke rumah ibadah akan lebih tertarik karena ternyata rumah ibadah bukan hanya membagi pahala tetapi juga membagi dividen. Bukan hanya menjanjikan keindahan syurga tetapi juga kesejahteraan dunia.

Mesjid dan mushalah saja sudah berjumlah sekitar 800.000 lebih bertebaran di seluruh Indonesia. Belum lagi gereja, pure, kelenten, dan rumah-rumah ibadah lainnya. Bukankah fungsi utama rumah ibadah adalah memanusiakan manusia dan menajdikannya sebagai manusia utuh?

Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto oleh Cyprianus Rowaleta