Seni dan Sufi
02/14/2018
Kebebasan Beribadah
02/16/2018

Masjid Sebagai Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat

Rumah ibadah hadir bukan hanya sebagai pusat pengabdian manusia kepada Tuhan tetapi juga sebagai pusat pengabdian kepada masyarakat. Dengan kata lain, rumah ibadah bukan hanya tempat untuk melayani Tuhan tetapi juga untuk melayani manusia. Bahkan masjid di masa Nabi lebih sering digunakan sebagai pusat pelayanan pada masyarakat ketimbang tempat penyembahan terhadap Tuhan dalam arti ibadah mahdhah.

Bayangkan Masjid Nabi yang kemudian poluler disebut Masjid Nabawi (prophetic mosque) digunakan untuk hal-hal yang sulit dibayangkan oleh pengelola masjid kita sekarang. Masjid Nabi digunakan sebagai tempat konsultasi Nabi dengan umatnya, baik konsultasi pribadi untuk masalah masalah-masalah kerumahtanggaan maupun untuk masalah-masalah politik dan pemerintahan. Masjid Nabi juga digunakan sebagai tempat penyampaian informasi publik, misalnya untuk mengumumkan pernyataan publik Nabi, baik kapasitasnya sebagai Nabi/Rasul maupun dalam kapasitasnya sebagai kepala pemerintahan/negara. Maklum dahulu di zaman Nabi belum ada media efektif untuk menjangkau umat lebih luas selain masjid.

Masjid Nabi juga digunakan sebagai tempat untuk menyalurkan santunan sosial, misalnya sesama jama’ah mengumpulkan bantuan untuk jamaah lain yang kurang mampu. Zakat, shadaqah, infaq, jariyah, hibah, hadiah dan bantuan lainnya disalurkan kepada masyarakat yang berhak mrelalui mesjid. Di masjid Nabi ada gudang pangan yang pertanggung jawabannya diserahkan kepada Abi Hurairah, tersimpan di samping Bait Ahl al-Shuffah, tempat hunian Abu Hurairah dan kawan-kawan yang juga sekaligus bertugas memelihara kebersihan dan ketertiban masjid.

Masjid Nabi digunakan untuk mengontrol kondisi dan keadaan umat. Baik secara perseorangan maupun kolektif. Orang yang sakit perut bisa terdeteksi di masjid. Jika tiba-tiba jamaah Nabi tidak hadir tanpa ada laporan dipertanyakan kepada tetangganya. Kalau ketahuan sakit maka jamaah lain menziarahinya. Jika ada anggota jamaah masjid absen maka satu sama lain mempertanyakan keberadaan dan keadaannya. Jika mereka sedang kesulitan maka jamaah masjid bergotong-royong membantunya. Luar biasa mesjid Nabi sebagai perekat umat dan warga masyarakat.

Manajemen masjid Nabi untuk ukuran zamannya bisa dianggap sangat moderen. Bayangkan masjid seperti itu sudah bisa menyelenggarakan sesuatu yang besar. Kota Madinah yang relatif kecil tetapi dipadati oleh pengungsi dari mana-mana mengikuti Nabi. Bukan hanya kaum muhajirin dari Mekkah tetapi dari etnik dan suku lain. Meskipun demikian Madinah tetap bertahan, khususnya masjid Nabi tidak tidak pernah menolak para pengungsi, selalu ada saja jalan keluar, meskipun Nabi sendiri harus menjalani kehidupan sederhana, bahkan sangat sederhana. Kulit belakangnya sering kelihatan bekas tikar kasar, jauh dari kasur yang empuk. Padahal beliau adalah bukan hanya Nabi dan Rasul tetapi juga kepala negara Madinah.

Kehadiran masjid Nabi betul-betul sebagai solusi dari berbagai persoalah umat dan warga Madinah tanpa membedakan agama dan etnik. Yang dibantu Nabi, bukan hanya umat Islam tetapi juga umat lain. Suatu ketika ada umat Nashrani tidak memiliki rumah ibadah, sementara mereka sangat membutuhkannya, maka Nabi menghimbau agar umat Islam yang memiliki kemampuan agar membantu membangunkan gereja dengan cara hibah, bukan  wakaf atau jariyah. Sampai sedemikian itu Nabi menyayangi warganya, sekalipun berbeda agama.

Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Cyprianus Rowaleta