Membumikan Ajaran Islam
05/29/2017
Islam Marah ke Islam Ramah
05/31/2017

Masjid Sebagai Rumah Ilmu Pengetahuan

Suatu ketika Nabi memberikan kuliah di masjid, tiba-tiba seorang sahabatnya membawa sebuah temuan baru berupa lampu yang amat terang. Belum pernah ada lampu seterang itu di kota Madinah. Semua mata terperanjat menyaksikan temuan sahabat itu. Nabi memberikan apresiasi dengan beranjak dari tempat duduknya menyaksikan dari dekat temuan baru tersebut. Nabi sangat takjub dan memberikan dukungan penuh kepada sahabatnya. Yang lebih menarik ialah Nabi memberikan apresiasi secara emosional dengan mengatakan: Seandainya saya masih mempunyai anak perempuan maka akan saya kawinkan engkau dengannya.

Dalam saat yang berbeda, Nabi menerima delegasi kaum perempuan meminta agar pengajian dan bimbingan ilmu pengetahuan jangan didominasi kaum laki-laki, tetapi kaum perempuan juga diberi waktu khusus diajar oleh Nabi. Akhirnya Nabi memberikan jadwal khusus bagi kaum perempuan untuk menerima pelajaran darinya di masjid.

Ketika Perang Badar usai dimenangkan oleh pasukan umat Islam, para tawanan perang dikumpulkan di halaman masjid. Nabi meminta pandangan kepada sahabatnya tentang tawanan perang yang jumlahnya besar itu. Umar berpendapat, sebaiknya laki-lakinya diberlakukan hukum perang Arab, yakni dibunuh dan perempuannya diangkat jadi budak. Abu Bakar berpendapat lain, yaitu diklasifikasi berdasarkan bakat dan kemampuan tawanan perang tersebut. Nabi menyetujui pendapat Abu Bakar dengan meminta para sahabat menyiapkan kelas-kelas masing-masing terdiri atas 20 orang. Tawanan perang yang ahli tukang besi, tukang kayu, dan ahli bikin senjata diminta mengajarkan kemampuannya kepada masyarakat Madinah tanpa membedakan agamanya. Kaum perempuan yang berminat tukang rias pengantin (salon) dan  menyamak kulit dicarikan tawanan perang yang bisa mengajarinya. Akhirnya masjid Nabi menjadi ramai dengan kegiatan belajar keterampilan. Hasilnya menakjubkan. Warga masyarakat Madinah terbebas dari buta keterampilan dan tawanan perang bebas dari pembunuhan dan perbudakan.

Di zaman keemasan Islam, masjid-mesjid digunakan sebagai sekolah dan pendidikan tinggi. Bahkan menurut Prof. Hamka, di dalam masjid di zaman dahulu ada universitas. Sekarang masjid di dalam universitas. Pusat-pusat kajian sampai pendalaman materi para guru dan syekh tetap dilaksanakan di dalam masjid sehingga ilmu pengetahuan yang lahir selalu berkah karena ruku dan unsur sujudnya selalu ada. Para ilmuan dan ulama yang lahir selain pintar juga arif dan bijaksana, karena di dalam rongga benaknya melebur antara semangat ilmiah dan semangat amaliah. Akhirnya terwujudlah ilmu amaliah dan amal yang ilmiah.

Ilmu pengetahuan berbasis rumah ibadah, khususnya masjid, pasti akan terhindar dari paham sekularisme karena faktor masjid (tempat orang sujud) ikut berpengaruh di dalam perumusan konsep dan penjabaran ilmu pengetahuan. Konstruksi dan ornamen rumah-rumah ibadah yang indah serta memiliki serambi membuatnya sangat strategis sebagai pusat pemberdayaan keilmuan masyarakat.  Mesjid betul-betul menyatukan konsep dan pengamalan اقرأ /iqra’ +  باسم ربك/bi ismi Rabbik. Iqra’ tanpa  bi ismi Rabbik bisa menjadi malapetaka kemanusiaan. Hal yang sama juga bisa terjadi dengan bi ismi Rabbik tanpa iqra’. Para teroris banyak yang hanya bermodal bi ismi Rabbik tanpa iqra’ akhirnya mereka dengan begitu gampang melenyapkan nyawa orang tanpa penyesalan, karena minimnya wawasan dan pengetahuan mereka. Dari fakta-fakta tersebut di atas dapat diketahui bahwa ternyata masjid bukan hanya rumah ibadah mahdhah tetapi juga rumah ilmu pengetahuan.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal & Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto oleh Dara Krisna