Psikologi Mayoritas-Minoritas
06/08/2017
Belajar dari The Founding Fathers
06/14/2017

Masjid Sebagai Rumah Kemanusiaan

Mungkin kita semua pernah traveling dengan mobil, tiba-tiba kita terdesak untuk buang air. Kita meminta supir untuk mencari Pom Bensin, Masjid, atau  rumah ibadah”. Supir tentu sudah tahu maksudnya kalau ada orang mau buang hajat. Kita sering melihat orang menumpang tidur di serambi rumah ibadah untuk menunggu pagi, mungkin ia baru masuk kota dan tanggung check-in di hotel hanya untuk beberapa jam. Kita sering menyaksikan orang melangsungkan akad nikah, doa selamatan, walimatus safar di masjid karena mungkin rumahnya terbatas untuk menampung tamu lebih banyak. Rumah-rumah ibadah paling sering menampung korban banjir, korban kebakaran, dan gempabumi lainnya. Masjid juga sering digunakan untuk acara ta’ziah dan mnyalati jenazah yang alamt rumahnya sempit untuk dijangkau.

Kehadiran rumah-rumah ibadah di dalam masyarakat kita semakin fungsional. Bukan hanya untuk pelaksanaan ibadah ritual tetapi juga untuk acara-acara yang bertema kemanusiaan. Perkembangan positifnya, masjid dan mushalah sekarang sudah semakin sering dikunjungi oleh penganut agama-agama lain dengan tujuan seperti tadi. Gereja-gereja dan rumah ibadah lainnya juga sudah semakin sering dikunjungi umat Islam dan kelompok agama lain untuk menghadiri interfaith dialog, pengantinan, dan acara-acara social keagamaan lainnya. Sudah di jalan yang benar, rumah-rumah ibadah berfunsi sebagai rumah kemanusiaan.

Khusus untuk masjid dan mushalah, sejak awal memang diamksudkan sebagai multiguna. Mesjid Nabi sekaligus sebagai tempat untuk menerima tamu-tamu. Baik tamu sahabat Nabi dari dalam kota Madinah maupun tamu-tamu dari luar negeri. Di dalam kompleks masjid ada namanya Ahlus shuffah, di mana sejumlah sahabat Nabi, sebutlah pegawai harian Nabi seperti Abu Hurairah, yang tinggal di tempat itu. Ada juga tempat khusus diperuntukkan kepada tamu-tamu yang datang dari jauh. Keperluan hidup dijamin di masjid untuk beberapa hari lamanya.

Kompleks masjid Nabi bukan hanya untuk umat Islam tetapi juga tamu-tamu lain non-muslim. Banyak sekali hadis dan sejarahnya, Nabi menerima rombongan tamu-tamu non-muslim diterima di masjid Nabi. Jelas mereka itu tidak dianggap najis oleh Rasulullah Saw. Bahkan Al-Qur’an menyebutkan anak cucu Adam adalah makhluk mulia dan harus dimuliakan, karena Allah pun memuliakan mereka, sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam”. (Q.S. Al-Isra’/17:70).

Suatu ketika ada tamu dari pedalaman singgah di masjid Nabi. Tiba-tiba pemuda itu menghadap ke tembuk sambil kencing di dalam masjid nabi. Terang saja seluruh sahabat marah. Salah seorang di antaranya mencabut pedang untuk membunuhnya. Namun Nabi mencegat sahabatnya melakukan kekerasan di dalam masjid. Nabi menasehati, orang-orang pedalaman seperti pemuda itu mungkin menganggap hal itu wajar di kampungnya dan kalian tentu sebaliknya memandangnya tidak wajar. Nabi lalu meminta sahabatnya agar menimbun kencing pemuda itu dengan pasir, karena masjid Nabi ketika itu masih beralaskan pasir. Poin yang bisa diambil dari pengalaman ini, masjid adalah rumah kemanusiaan. Sekalipun manusia yang berlaku seperti binatang, sebagaimana dipraktekkan pemuda itu, tetap Nabi menganggapnya sebagai manusia. Perlu waktu dan kesabaran untuk memanusiakan manusia.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal & Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah