Islam dan Kesenian Lokal
01/21/2018
Menghargai Kelompok Minoritas
01/28/2018

Melegitimasi Bhinneka Tunggal Ika

BHINNEKA Tunggal Ika be­rarti bercerai-berai tetapi tetap satu atau kesatuan di dalam keberagaman. Istilah Bhinneka Tunggal Ika digu­nakan para founding fathers kita ketika memperke­nalkan Indonesia di dalam dan luar negeri. Keberaga­man adalah sunnatullah. Menolak keragaman berarti menolak sunnatul­lah. Dalam Al-Qur’an ditegaskan:

Wa lau sya’a Rabbuka laja’alnakum ummatan wahidah (Jika Tuhan-Mu menghendaki niscaya ia menjadikan kalian suatu umat).

Dalam ayat tersebut Allah Swt menggunakan kata/huruf lau, bukannya in atau idza. Dalam kaedah Tafsir dijelaskan, apa­bila Allah menggunakan kata lau (jika) maka sesungguhnya hampir mustahil kenyataan itu, tidak akan pernah mungkin terjadi. Kalau kata in (jika) kemungkinan kenyataan itu bisa terjadi bisa juga tidak, dan kalau kata idza (jika) pasti kenyataan yang digambarkan itu akan terjadi. Masalahnya sekarang kamus bahasa Indone­sia tidak memiliki kosa kata sepadan dengan bahasa Arab, sehingga keseluruhannya diarti­ka dengan jika.

Persoalan konflik yang terjadi di berbagai be­lahan dunia tidak jarang terjadi karena dipicu sentimen perbedaan penafsiran Kitab Suci. Ada segolongan sering memperatasnamakan suatu penafsiran lalu menyerang kelompok lain, kar­ena mengklaim dirinya paling benar. Ironisnya, tidak jarang terjadi justru kelompok minoritas yang menyatakan kelompok mayoritas atau mainstream yang sesat. Kelompok pemurni ajaran (puritanisme) seringkali mengklaim diri paling benar dan mereka merasa perlu mem­bersihkan ajaran agama dari berbagai khurafat dan bid’ah. Namun kelompok mayoritas yang diobok-obok seringkali di antaranya tidak men­erima serangan pembid’ahan itu karena mera­sa berdasar dari sumber ajaran dan dipandu oleh ulama besar. Akibatnya kelompok mayori­tas melakukan penyerangan terhadap kelom­pok minoritas tersebut.

Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di Indo­nesia, tetapi juga di negara-negara mayoritas muslim lain. Penyerangan aliran yang dianggap “sesat” oleh majlis ulama seringkali menjadi tar­get. Di antara berbagai golongan saling meng­kafirkan dan saling usir-mengusir dan bahkan bunuh-bunuhan lantaran dipicu penafsiran sumber ajaran agama. Tentu saja kenyataan ini sangat disesalkan karena mereka sama-sama berpegang kepada kitab suci yang sama tetapi mereka saling bermusuhan satu sama lain.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal & Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto Cyprianus Rowaleta