Menghindari Kekerasan
05/27/2017
Membumikan Ajaran Islam
05/29/2017

Meluruskan Makna Islam

Banyak orang merasa memperjuangkan “Islam” tetapi sesungguhnya memperjuangkan budaya di mana Islam mewujudkan dirinya, bukan Islamnya itu sendiri. Masih banyak umat Islam belum bisa membedakan antara ajaran Islam dan budaya Arab, sebuah budaya yang pertama kali mengusung ajaran Islam. Menjadi the best muslim tidak mesti harus menyerupakan diri dengan orang Arab, orang Mesir, orang Yaman, atau orang Persia. Kita bisa tetap sebagai orang yang berkebudayaan Indonesia dengan berbagai atributnya dan pada saat bersamaan tetap menjadi the best muslim. Bahkan mungkin tidak kalah dengan muslim Arab.

Kata Islam tersusun dari huruf sin, lam, mim ( سلم/salima) sebuah akar kata yang membentuk kataسلام  /salam (damai),اسلام  /islam (kedamaian),استسلام  /Istislam (pembawa kedamaian), danتسليم  /Taslim (ketundukan,  kepasrahan, dan ketenangan). Salam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian lebih umum. Islam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian yang lebih khusus, memiliki seperangkat konsepsi nilai dan norma (value & norm). Istislam adalah seruan kedamaian dan kepasrahan yang lebih cepat, tegas, rigit, dan sempurna (perfect). Allah Swt. memberi nama agamanya yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. dengan agama Islam. Bukan agama salam (kepasrahan tanpa konsep). Bukan juga agama istislam yang lebih mengutamakan kecepatan, ketegasan, dan kesempurnaan dalam memperjuangkan kedamaian dan kepasrahan.

Kata Islam itu sendiri mengisyaratkan jalan tengah atau moderat (tawassuth). Di dalam Al-Qur’an disebutkan: إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ /Inna al-dina ‘inda Allah al-islam (Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam/ Q.S. Ali Imran/3:19), وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ   (Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya/ Q.S. Ali Imran/3:19).

Perhatikan ayat-ayat tersebut di atas semuanya menggunakan kata الاسلام /al-islam, dengan menggunakan alif ma’rifah ( أل/al), bukanاسلام   islam dalam bentuk nakirah, bukan jugaاسلام  salam atauاستسلام  istislam. Ini semua menunjukkan bahwa dari segi bahasa saja al-islam (Islam) sudah mengisyaratkan jalan tengah, moderat, dan sudah barang tentu menolak kekerasan dan keonaran. Seharusnya seorang muslim (orang yang beragama Islam) itu mengedepankan kedamaian, ketundukan, kepasrahan dan pada akhirnya merasakan ketenangan lahir batin.

Adalah kontradiktif jika panji-panji Islam dibawa-bawa untuk sesuatu yang menyebabkan lahirnya kekacauan dan ketidaknyamanan. Apalagi jika atas nama Islam digunakan untuk melayangkan nyawa-nyawa orang yang tak berdosa, sangat tidak sepadan dengan kata Islam itu sendiri. Kelompok minoritas liberal muslim memaknai Islam dengan konteks salam, yang lebih bersifat inklusif-substantif,  sementara kelompok minoritas radikal muslim lebih memaknai Islam dengan konteks istislam, yang menuntut adanya intensitas dan semangat progresif di dalam mewujudkan nilai dan norma Islam. Kelompok mainstream muslim memaknainya sebagai islam, sebuah sistem nilai dan norma kemanusiaan yang terbuka dan moderat.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah