Belajar dari The Founding Fathers
06/14/2017
Nasaruddin Umar: Idul Fitri Momentum Bersihkan Dari Radikalisme-Terorisme
06/20/2017

Memaknai Hari Raya Idul Fitri

Makna dan tujuan puasa ialah untuk memperoleh derajat muttaqin. Tujuan ini dapat dicapai setelah memahami, menghayati, dan mengamalkan makna dan pesan puasa. Memahami dan menghayati arti puasa memerlukan perhatian terhadap dua hal pokok menyangkut fungsi dan hakikat keberadaan manusia, yaitu sebagai khalifah atau representasi Tuhan di bumi (إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً), dan sebagai ‘abid, atau hamba Tuhan (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ). Kita diminta dan dituntut menata dan mengembangkan lingkungan sosial dan lingkungan alam dengan konsep kasih sayang dan kedamaian, bukan sebaliknya, dengan penuh kekerasan, keserakahan, dan ketidakadilan.

Kiranya kita semua tidak tergolong dengan orang yang beragama secara palsu, seperti yang dilukiakan di dalam Q.S. Al-Ma’un:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ , فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ , وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ , فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ , الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ , الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ , وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Tahukah kalian siapa orang yang mendustakan agama? Mereka itulah orang yang menghardik dan tidak peduli terhadap anak-anak yatim, tidak menganjurkan memberi makan dan solusi terhadap problem fakir-miskin, Maka celakalah bagi bagi mereka yang salat, yang lalai dari salatnya; orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Q.S. al-Ma’un/107:1-7).

Surah ini menegaskan bahwa dengan selesai menunaikan ibadah formal seperti puasa dan berbagai amaliah lain di dalamnya, otomatis segala urusan agama kita selesai. Ukuran keberhasilan keberagamaan ternyata diukur dengan hal-hal yang bersifat sosial kemasyarakatan. Orang yang hanya mengutamakan ibadah ritual tanpa melahirkan makna dan efek sosial ternyata tidak ada artinya. Segalanya baru berarti setelah diuji di dalam realitas kehidupan.

Surah di atas juga mengingatkan kita perlunya memperhatikan generasi masa depan yang tangguh. Problem anak-anak yatim dan kemiskinan selalu menjadi kendala dalam penyiapan generasi produktif. Tidak kurang 27 kali Al-Qur’an mengingatkan kita pada masalah anak yatim. Pengertian yatim dalam Lisan al-‘Arab, kamus bahasa Arab paling standar, al-yatim secara literal berarti كل شيء مفرد بغير نظيره فهو يتيم , yakni segala sesuatu yang menyendiri tanpa pelindung atau pengawasan disebut yatim. Rumah yang ditinggalkan penghuninya disebut بيت يتيم  (rumah yatim). Orang-orang yang belum memiliki pasangan atau jodoh juga disebut yatim. Anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih-sayang dari orang tuanya, baik karena ditinggal mati atau ditelantarkan, atau sebab lain, disebut anak yatim. Anak-anak yang merasa yatim di lingkungan orang tuanya mungkin bisa berefek lebih negatif. Di sinilah perlunya kita membicarakan penyiapan generasi umat masa depan.

Tantangan kita ke depan ialah bagaimana mempersiapkan generasi umat dan bangsa yang lebih tangguh, kompetitif, dan lebih produktif, yakni generasi yang hidup di bawah bayang-bayang Al-Qur’an. Generasi mendatang pasti akan hidup di dalam lingkungan sosial budaya yang amat berbeda dengan sekarang. Mempersiapkan generasi umat masa depan merupakan suatu keniscayaan. Sudah saatnya kita memikirkan peta jalan (road map) generasi seperti apa yang akan kita harapkan di masa depan? Dunia pendidikan seperti apa yang harus kita persiapkan? Bagaimana mengajarkan agama secara efektif kepada generasi masa depan kita?

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal & Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah