Nasaruddin Umar: “Istiqlal Simbol Pemersatu Bangsa, Kiblat Peradaban”
01/28/2016
Jangan Memaki-maki Orang Dalam Khotbah
11/03/2016

Memaknai Tahun baru Hijriyah

Hijrah secara harfiah berarti pindah. Hijrah menjadi populer karena dipilih sebagai nama penanggalan dalam dunia Islam. Asal-usul hijrah diambil dari momentum perpindahan Nabi dari Mekkah ke Yatsrib (yang lalu diubah menjadi Madinah). Dipilihnya peristiwa hijrah sebagai momentum penanggalan Islam karena beberapa pertimbangan, antara lain: dalam Al-Qur’an sangat banyak penghargaan Allah bagi orang-orang yang berhijrah (al-ladzîna hâjarȗ), masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah ke Madinah, dan umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat Hijriyah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu keadaan dan ingin berhijrah menuju kondisi yang lebih baik.

Tanggal 1 Muharram 1 Hijriyah bertepatan dengan 16 Juli 622 Masehi. Penetapan tahun baru Hijriyah ini ditetapkan berdasarkan keputusan Khalifah Umar, yang ditandai dengan keluarnya Maklumat Keamanan dan Kebebasan Beragama dari Khalifah Umar kepada seluruh penduduk Kota Aelia (Yerusalem) yang baru saja dibebaskan oleh laskar Islam dari penjajahan Romawi pada tahun 17 H (638 M).

Konsep hijrah Nabi (hijrah al-Rasul) tidak identik dengan perjalanan “eksodus” yang mengisyaratkan kekalahan dan kepasrahan. Hijrah dalam Islam tidak semata-mata berkonotasi mobilitas dan transformasi fisik dari satu tempat ke tempat yang lain. Hijrah juga bisa berkonotasi non-fisik, yaitu bertransformasi dari keadaan buruk ke keadaan yang lebih baik, atau dari zona tidak aman dan tidak nyaman ke zona yang lebih aman dan nyaman. Spirit dan semangat hijrah Nabi sesungguhnya lebih tepat diartikan dalam pengertian terakhir. Hal ini bisa dipahami dari hadis Nabi melalui riwayat Saleh ibn Basyir ibn Fudaik. Hadis tersebut menceritakan suatu ketika Fudaik mendatangi Nabi dan mengatakan, “Ya Rasulullah, mereka mengira bahwa mereka yang tidak hijrah akan celaka.” Nabi menjawab, “Wahai Fudaik, dirikanlah shalat, keluarkanlah zakat, jauhi kejahatan, dan tinggallah bersama kaummu sesuka hatimu. Dengan cara demikian sesungguhnya engkau telah berhijrah.”

Semangat hijrah sesungguhnya ialah penciptaan kondisi yang lebih kondusif untuk menjalankan fungsi dan kapasitas kita sebagai hamba (‘abid) dan sebagai khalifah di bumi (khalaif al-ardl). Jika di suatu tempat kita tidak bisa atau sulit mewujudkan kedua fungsi dan peran yang diamanahkan Tuhan itu, maka di situ ada tantangan untuk hijrah. Akan tetapi, jika tantangan itu tidak muncul maka tidak ada keharusan untuk hijrah. Hijrahnya Nabi dan sekelompok sahabatnya ke Madinah bukan berarti pengecut, pergi ke Madinah meninggalkan umatnya di Mekah untuk mencari selamat. Hijrah bisa dimaknai mundur selangkah untuk mencapai kemenangan. Kenyataannya, di Madinah Nabi berhasil membangun konsolidasi umat yang pada saatnya kembali merebut kota Mekkah (Fathu Makkah) dengan sangat mencengangkan. Bagaimana mungkin revolusi besar terjadi tanpa setetes darah, itulah Fathu Makkah.

Penanggalan Islam dipilih konteks hijrah Nabi, bukan milad yang sekaligus tahun kematian Nabi, bukan pula momentum turunnya Al-Qur’an yang sekaligus pelantikannya sebagai Nabi dan Rasul. Ini membawa hikmah lebih besar bahwa konsep dan spirit hijrah sarat berisi pesan kemanusiaan. Bila di suatu tempat kemerdekaan beriman dan berekspresi sulit berkembang, maka dimungkinkan untuk hijrah. Namun tidak mesti harus hijrah fisik. Fisik bisa berada tetap di tempat namun suasana batin dan jalan pikiran yang harus berubah. Bagaimana mentransformasikan diri dari suatu kondisi yang tidak kondusif, mengembangkan ekspresi keberimanan kita lalu hijrah ke dalam kondisi lain yang lebih kondusif untuk hal tersebut. Dengan demikian, hijrah harus dianggap sebagai sesuatu yang berlangsung terus menerus (on-going process) untuk sampai ke taraf yang lebih ideal sebagai hamba dan sebagai khalifah.

1 Oktober 2016

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah