Mengindonesiakan Umat Beragama
06/01/2017
Tidak Ada Jihad dengan Bunuh Diri
06/03/2017

Memaralelkan Islam dan Indonesia

Pemahaman keagamaan yang berkeindonesiaan yang sudah mulai tergerus, perlu ditata kembali. Tentu bukan mengembalikan keseluruhan tatanan keindonesiaan yang diwarisi dari zaman pra sejarah, proto-Indonesia, dan dalam fase Indonesia awal. Akan tetapi pola dialektika budaya dalam lintasan sejarah panjang bangsa Indonesia perlu dipertahankan di dalam melintasi perubahan zamannya. Persandingan antara nilai-nilai sakral keagamaan dan nilai-nilai profan budaya bangsa perlu dipertahankan sebagai watak dan karakter bangsa Indonesia.

Rekontekstualisasi pemahaman ajaran agama tidak perlu mengeliminir nilai-nilai luhur budaya lokal. Sebaliknya, dalam menata ulang Indonesia modern, tidak perlu menyingkirkan nilai-nilai agama. Dalam wacana rekontekstualisasi pemahaman agama, seringkali bobot keindonesiaan atau tradisi lokal dituding sebagai praktek bid’ah, khurafat, dan sinkretisme. Padahal, mungkin sebagian di antaranya masih relevan dengan keadaan sekarang. Hal-hal yang dianggap memang betul-betul tidak sejalan atau bertentangan dengan ajaran dasar Islam, perlu dilakukan proses bertahap (tadarruj) di dalam menyelesaikannya. Tidak mesti harus melalui jalur pengguntingan atau distorsi yang menyebabkan terjadinya penerimaan terpaksa terhadap ajaran Islam. Al-Qur’an sendiri membutuhkan waktu 23 tahun untuk mengubah masyarakat, padahal di balik Al-Qur’an ada Tuhan yang memiliki kekuatan “kun fa yakun“. Nabi sendiri memerlukan dua fase yaitu fase Makkiyyah dan fase Madaniyyah, di dalam memperkenalkan ajaran Islam. Para Wali Songo pun juga melakukan penahapan di dalam memperkenalkan Islam di bumi Nusantara kita.

Fikih Islam yang berkembang dalam lintasan sejarah dunia Islam, khususnya di kawasan Timur-Tengah sesungguhnya tidak lain adalah interpretasi kultural terhadap ajaran dasar Islam. Imam-imam mazhab menyusun kitab fikihnya dengan mengakomodasi kultur lokal mereka masing-masing. Para pendiri mazhab (aliran fikih) tidak pernah mendeklarasikan kitab fikih yang ditulisnya sebagai mazhab nasional, apalagi internasional. Para murid atau kelompok penguasalah yang memopulerkan fikih gurunya sebagai mazhab nasional.

Mulai dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’, sampai Imam Ahmad ibnu Hanbal, tidak pernah mereka merekomendasikan pendapatnya sebagai mazhab negara atau mazhab nasional, karena mereka sadar tidak mungkin bisa melakukan unifikasi hukum Islam dalam lingkup geografis yang berbeda. Waktu-waktu shalat dan awal puasa tidak mungkin di samakan di seluruh dunia Islam, karena bumi ini bundar. Di satu tempat siang terang dan di lain tempat malam gelap. Demikian pula dalam kasus-kasus lain.

Al-Qur’an dan Hadis sesungguhnya memberikan hak-hak budaya lokal (cultural right) untuk menginterpretasikan dirinya, sehingga tidak mesti menjadi “orang¬† Arab” untuk menjadi mulim/muslimah terbaik. Kita bisa tetap menjadi orang Indonesia sekaligus sebagai muslim/muslimah terbaik. Rasulullah Saw. makan dengan tiga jari tangan, karena makanannya adalah roti. Bagi kita bangsa Indonesia tidak mesti makan dengan menirukan cara nabi tersebut karena makanan kita nasi. Rasulullah Saw. juga mencontohkan dengan kencing duduk karena pakaian Arab umumnya menggunakan gamis, mirip sarung. Memang kita harus duduk atau jongkok agar aurat kita tertutup dan terbebas dari percikan najis. Akan tetapi bangsa yang menggunakan celana panjang, justru lebih nyaman dan aman dengan kencing berdiri. Kloset kencing kita pun dirancang berdiri.

Islam adalah ajaran kemanusiaan, karena itu juga harus menempuh cara-cara manusiawi. Islam tidak mentolerir cara-cara kekerasan di dalam menyampaikan dakwah. Al-Qur’an mengingatkan kita untuk berdakwah dengan cara bijaksana (bil hikmah). Hanya dengan demikian Islam akan mendarat dan permanen di dalam lubuk hati paling dalam para pemeluknya.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal & Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatulla

Foto oleh Cyprianus Rowaleta