Memberi Hak-hak Sosial
02/23/2018
Melarang Keras Merusak Rumah Ibadah
02/25/2018

Memberi Jaminan Sosial Hari Tua

 

Islam betul-betul agama kemanusiaan. Bukan hanya menghargai kemanusiaan sesama umat Islam, tetapi juga kemanusiaan seluruh umat manusia, tanpa membedakan agama, kepercayaan, etnik, kewarganegaraan, dan warna kulit. Ini sesuai dengan firman Allah swt:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam. (Q.S. Al-Isra’/17:70).

Dalam ayat ini digunakan istilah anak cucu Adam (Bani Adam), tidak dikatakan Allah swt. memuliakan umat Islam atau umat beragama tertentu, tetapi siapapun merasa anak cucu Adam wajib hukumnya dimuliakan. Baik ketika ia masih hidup maupun ketika ia sudah menjadi mayat.

Nabi Muhammad saw. diriwayatkan dalam banyak hadis sering memberikan bantuan kepada orang-orang non-muslim, khususnya yang lemah. Nabi pernah memberikan sedekah kepada salah seorang Kepala Keluarga Yahudi. Nabi juga pernah mengatakan:

Seandainya Ibrahim (putra tunggal Nabi saw. yang lahir dari Maria al-Qibthiyyah) hidup maka akan kubebaskan semua orang-orang Qibti dari pajak (jizyah). (HR. Al-Manawi).

Dalam tradisi Nabi saw. yang kemudian dilanjutkan oleh sahabatnya, orang-orang tua yang sudah uzur diperhatikan oleh negara atau pemerintah. Ada sebuah perjanjian yang pernah ditandatangani Khalid bin Walid, sahabat seperjuangan Nabi saw. yang wafat tahun 21 H, dengan penduduk Hirah, salah satu wilayah di dekat Kufah/Bagdad, yang intinya ia  membuat kebijakan, sebagaimana dikutip dalam: Muhammad Hamidullah, Majmu’ah al-Watzaiq al-Siyasah (h. 318): “Bila seseorang sudah tua dan lemah sehingga tidak mampu lagi bekerja, atau ditimpa penyakit, atau dia orang kaya tetapi tetapi tiba-tiba jatuh pailit, sehingga orang-orang yang seagama dengannya bersedekah kepadanya, maka kewajibannya membayar pajak (jizyah) harus ditiadakan dan dia harus dibiayai dan keluarganya oleh Baitul Mal selama mereka tinggal di tengah-tengah masyarakat Islam”.

Kebijakan serupa juga diterapkan Umar bin Khaththab terhadap penduduk non-muslim di Damsyik. Ketika ia menyaksikan komunitas Kristen yang sangat miskin dan memprihatinkan, maka ia memerintahkan agar mereka dibantu melalui Baitul Mal. (Lihat Futuh al-Buldan karya Albalaziri, h. 135).  Khalifah Umar juga menghapus beban pajak orang-orang non-muslim Qibti yang pernah membantu umat Islam pada saat mengalami masa paceklik dalam tahun 18 H. Sama juga dengan yang dilakukan oleh ‘Amru bin ‘Ash, ia pernah membebaskan pajak bagi orang-orang non-muslim yang bisa menunjukkan jalan keluar untuk mengirimkan kebutuhan pangan ke Mekkah dan Madinah dari Qibti.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (w.102 H.) yang juga dikenal sebagai khalifah yang amat bijaksana, pernah membuat kebijakan dengan menyurat kepada Gubernur Bashrah, Adiy Arta’ah (w.102), yang isinya antara lain: “Carilah orang-orang non-muslim yang sudah tua dan tidak lagi bekerja, berikan apa yang mereka butuhkan dari Baitul Mal”. (Lihat, Abu Ubaid bin Sallam, Al-Amwal, h. 57).

Soal pembebasan pajak dan bantuan langsung tunai (BLT) sering ditemukan dalam lintasan sejarah Islam, mulai dari zaman Nabi Muhammad saw. sampai sekarang. Islam dengan tegas melarang umatnya melakukan pembiaran terahadap suatu keadaan yang memprihatinkan secara kemanusiaan kepada umat manusia, tanpa membedakan agama dan etnik. Sekalipun etnik Yahudi sering memusuhi umat Islam ketika itu, tetapi Nabi saw. selalu mencontohkan agar tidak pernah menggeneralisir kejahatan berdasarkan agama. Yang bermasalah bukan agama tetapi orang-orang yang beragama, mungkin karena tujuan-tujuan yang sangat subyektif.  Mari kita mencontoh sikap positif Nabi!

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto oleh Fibrian Yusefa Ardi