Menghargai Toleransi
03/20/2018
Berkesetaraan Gender
03/22/2018

Memberi Salam Kepada Non-Muslim

Memberi salam kepada warga non-muslim masih sering menjadi hal yang kontroversi di dalam masyarakat. Kontroversi itu sendiri sebagi suatu bukti kebhinnekaan bangsa kita. Ada yang membolehkan secara terbuka, ada yang membolehkan dengan syarat, dan ada yang tidak membolehkannya.  Di dalam Fikih Kebhinnekaan (FK), tentu jika dihadapkan kepada beberapa pilihan, maka yang dipilih ialah yang bisa merangkul semua, dalam arti memilih pendapat yang moderat.

Jika ucapan salam diniatkan sebagai wujud silaturrahim maka lebih mudah kita memahami kedudukan salam bagi non-muslim. Sebuah riwayat dari Asma’ binti Abi Bakar (W.73 H), ia bertanya kepada Nabi saw. perihal kedatangan ibunya yang masih bersatatus non-muslim. Apakah boleh menyambut dan bersilaturrahim dengannya, lalu Nabi menjawab:

…نَعَمْ، صِلِي أُمَّكِ

Sambutlah ibu dan bersilaturrahimlah dengannya”. (HR. Bukhari, 2620, III/164 dan Muslim, 1003, II/696).

Riwayat lain dari ‘Aisyah ra (w. 58 H) menceritakan :

دَخَلَ رَهْطٌ مِنَ اليَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكُمْ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَفَهِمْتُهَا فَقُلْتُ: وَعَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ، قَالَتْ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْلًا يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ» فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” قَدْ قُلْت: وَعَلَيْكُمْ “

…sekelompok Yahudi datang kepada Nabi sambil mengatakan: “Assamu alaikum” (kebinasaan atasmu), lalu Aisyah menjawab: “Waalaikumussam wa al-la’nah” (atasmu juga kebinasaan dan laknat). Mendengarkan isterinya menjawab salam seperti itu, maka Nabi menegur: Pelan-pelan wahai Aisyah, sesungguhnya swt. menyukai kelembutan dalam setiap perkara”. Aisyah membela: “Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakana kepadamu?” Nabi menjawab: “Engkau telah menjawab dengan kata wa’alaikum”. (HR. Bukhari, 6024, VIII/12 dan Muslim, 2165, IV/1706).

 

Dalam satu riwayat juga menyebutkan Umar ibn Khaththab pernah disalami seorang non-muslim dalam perjalanan di tengah padang pasir. Salam orang itu ialah: Asamu alaikum (kebinasaan atas kalian). Umar menghunus pedangnya dan membunuh orang itu. Sahabat yang menyertainya kaget dan bertanya, kenapa engkau membunuh orang yang menyalamimu? Umar menjelaskan, apakah kalian tidak perhatikan ucpaannya yang mengatakan: Assamu alaikum?

            Dalam hadis Nabi juga pernah menegaskan:

أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“…Maukah kamu aku kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu” (HR. Muslim, 93, I/74).

Hadis ini sejalan dengan ayat:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Dan jika dihormati dengan suatu penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan dengan yang lebih baik dari padanya (yang serupa).” (Q.S. al-Nisa’/4: 86).

Dari keterangan dalil-dalil di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah memberi salam atau menerima salam kepada atau dari umat non-muslim, jika itu dengan niat yang baik serta sesuai ucapan salam yang lumrah diucapkan, seperti ucapan salam yang bersifat generik atau salam universal, semisal Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Malam, dan Salam Sejahtera. Namun perbedaan pendapat muncul manakala kita memberi salam dengan menggunakan simbol salam agama masing-masing untuk komunitas lain. Sebagian ulama berpendapat boleh memberi atau menjawab salam dengan salam standar muslim kepada atau dari umat non-muslim. Sebagian lagi berpendapat tidak boleh karena itu khas untuk umat Islam. Sebagian ulama seperti Ibn Qayyim, Imam Al-Qurtubi, Ibnu Hajar al-‘Asqallani, Imam Al Qaradawi, dan Yusuf Qardhawi membolehkan umat Islam mendahului memberi salam kepada orang-orang non-muslim. Alasannya antara lain ayat dalam al-Qur’an:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu kalian berbakti kepada mereka yang tidak memerangi dan tidak mengeluarkan kamu kalian daripada rumah-rumah kamu”. (Q.S. al-Mumtahanah/60: 8)

Dan di antara melakukan kebaikan adalah memberi salam kepada mereka. Nabi Ibrahim memberi salam kepada ayahnya yang non-muslim.

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (Q.S. Maryam/19: 47)

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.
Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Foto oleh Fibrian Yusefa Ardi