Memberi Kesempatan Belajar dan Mengajar
02/26/2018
Merangkul dalam Struktur Keluarga dan Pemerintahan
02/28/2018

Membesuk dan Mendoakan yang Sakit

Anas ibn malik meriwayatkan:

كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ: «أَسْلِمْ»، فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ

Ada seorang laki-laki yahudi sedang sakit keras lalu Nabi saw. diberitahukan akan keadaan itu. Selanjutnya Nabi saw. membesuknya dan duduk di samping pemuda itu. Nabi menawarkan seandainya pemuda itu berkenan untuk mengenal dan masuk agama Islam. Pemuda itu menatap ayahnya yang kebetulan ada di sampingnya. Ayahnya menyarankan agar anaknya mendengarkan seruan itu dengan mengatakan: Dengarkanlah apa yang disampaikan oleh Abul Qasim (Nabi saw.), lalu pemuda itu mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian Nabi saw. keluar sambil bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak itu dari neraka”. (HR. Bukhari, 1356, II/94).

Dalam kesempatan lain, ada seorang pemuda non-muslim tidak jauh dari rumah Nabi saw. yang setiap hari kerjanya menghina Nabi saw. dengan berbagai hinaan yang keji, termasuk diantaranya adalah setiap hari membuang kotoran di depan pintu rumah Nabi saw. Nabi saw. pun tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran itu setiap hari. Hingga akhirnya pada suatu hari, orang itu absen tidak membuang kotoran di depan rumah Nabi saw., karena ia sakit. Akhirnya, Nabi saw. membesuk orang itu. Dengan lembut Nabi saw. menanyakan penyakit apa gerangan yang engkau derita sehingga engkau tidak melakukan kebiasaanmu di depan pintu rumah kami. Si pemuda itu menangis dengan mengatakan, sekian banyak temanku ternyata engkau yang paling kubenci yang paling pertama membesuk aku ketika aku sedang sakit. Saksikanlah ya Rasulullah, saya menyatakan dua kalimat syahadat sekarang sebagai wujud ketakjubanku terhadapmu.

Tradisi Nabi saw. suka membesuk dan mendoakan orang sakit, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim, termasuk yang selama ini memusuhi dan paling membenci dirinya. Nabi saw. tidak pernah dikendalikan oleh nafsu amarah di dalam merespon setiap perlakuan terhadap dirinya. Baik terhadap orang-orang yang setengah mati memujinya maupun orang-orang yang setengah mati membencinya. Ini nasehat penting buat kita bahwa jangan mengambil keputusan saat kita sedang diliputi emosi, karena hampir setiap keputusan yang diambil saat kita sedang emosi; baik emosi kegembiraan maupun emosi kemarahan, pada umumnya akan berakhir dengan penyesalan.

Kedua pemandangan tersebut di atas menunjukkan bahwa pendekatan Nabi saw. selalu mengedepankan kelembutan dan kasih sayang di dalam menghampiri setiap sasaran dakwahnya. Hasilnya, ternyata pendekatan kelembutan lebih ampuh menundukkan jiwa yang keras ketimbang melalui pendekatan kekerasan. Al-Qur’an pun sesungguhnya sudah mengingatkan kita bahwa:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”. (Q.S. al-Qashash/28: 56).

Dalam ayat lain dikatakan:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ 

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”. (Q.S. Yunus/10: 99).

Jika dakwah kita ingin berhasil, sebaiknya kita meniru cara-cara terhormat Rasulullah saw. Beliau sangat bijaksana mengajak dan menyampaikan dakwah bilhal kepada umatnya, termasuk kepada umat non-muslim. Pendekatan kelembutan dan kasih-sayang, seperti mengunjungi orang sakit dan orang-orang lain yang ditimpa masalah, ternyata lebih mengesankan orang. Mari kita mencontoh kearifan Nabi Muhammad Saw.

Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Ilustrasi rawpixel/pixabay