Berkesetaraan Gender
03/22/2018
Mengambil Pelajaran dari Fathu Makkah
03/23/2018

Memperbaiki Citra Teologi Perempuan

 

Ada tiga konsep teologi yang mencitranegatifkan perempuan yang perlu ditinjau kembali, yaitu perempuan tercipta dari tulang rusuk, perempuan diciptakan untuk melengkapi hasrat laki-laki, dan perempuan penyebab jatuhnya Adam dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan. Sesungguhnya, asumsi ini tidak ditemukan dasarnya yang kuat di dalam Al-Qur’an dan hadis, tetapi lebih banyak berasal dari kitab-kitab suci agama lain. Bahkan, dengan tegas Syekh Muhammad Abduh menjelaskan, seandainya tidak pernah ada cerita-cerita Bibel tentang asal-usul penciptaan perempuan, maka tidak muncul pencitraan negatif terhadap perempuan.

Di dalam Alkitab, keberadaan perempuan secara tegas dinyatakan bahwa maksud penciptaan perempuan (Hawa) adalah untuk melengkapi salah satu hasrat keinginan Adam. Penegasan ini dapat dilihat di dalam Kitab Kejadian/2:18: “Tuhan Allah berfirman: ‘Tidak baik kalau seorang laki-laki sendirian dan karenanya Eva (Hawa) diciptakan sebagai pelayan yang tepat untuk Adam (a helper suitable for him).

Dalam literatur Islam, baik Al-Qur’an maupun Hadis, cerita seperti ini tidak dikenal. Dalam Hadis hanya dikenal nama Hawa sebagai satu-satunya istri Adam. Dari pasangan Adam dan Hawa lahir beberapa putra-putri yang kemudian dikawinkan secara silang. Dari pasangan-pasangan baru inilah populasi menusia menjadi berkembang.

Tentang tujuan penciptaan perempuan di dalam al-Qur’an, tidak terdapat perbedaan penciptaan laki-laki, yaitu sebagai khalifah (Q.S. al-An’am/6: 165)

 

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمْ خَلَٰٓئِفَ ٱلْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلْعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌۢ

Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.

dan sebagai hamba (Q.S.Al-Dzariyat/51: 56).

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Kedua fungsi ini diemban manusia semenjak awal penciptaannya, terutama yang tercermin di dalam perjanjian primordial manusia dengan Tuhannya (Q.S. al-A’raf/7: 172).

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدْنَآ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Dalam ayat lain ditegaskan bahwa tujuan penciptaan perempuan sebagai manifestasi dari komitmen Tuhan yang menciptakan hambanya dalam keadaan berpasang-pasangan:

وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah). (Q.S. al-Dzariyat/51: 49).

Pernyataan teologis yang menyebutkan perempuan (Hawa) berasal dari tulang rusuk, paling bawah, bengkok, sebelah kiri Adam paling banyak disoroti kaum feminis, karena itu artinya memberikan pembenaran perempuan sebagai subordinasi laki-laki. Isu tulang rusuk ini seolah menjadi isu universal pada hampir semua agama dan kepercayaan di berbagai tempat di belahan bumi ini, tidak terkecuali di dalam dunia Islam. Menarik sekali untuk dikaji karena di dalam Al-Qur’an tidak pernah diceritakan isu tulang rusuk ini. Bahkan kata tulang rusuk (dlil) tidak pernah ditemukan dalam Al-Qur’an, bahkan kata Hawa yang sering dipersepsikan dengan istri Adam juga tidak pernah disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an.

Pencitraan lain yang sulit diubah di dalam tradisi masyarakat ialah perempuan sebagai penggoda. Ini sulit diubah karena pernah termaktub secara eksplisi dalam Kitab Kejadian 3:12: “Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan”.

Sebagai sanksi terhadap kesalahan perempuan itu, maka kepadanya dijatuhkan semacam sanksi sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kejadian 3:16:“Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu  dan ia akan berkuasa atasmu”.

Mitos perempuan sebagai penggoda hingga kini masih melekat dan masih menjadi stigma negatif di dalam berbagai masyarakat, terutama di dalam dunia politik. Perempuan seringkali menjadi korban karena isu ini. Seolah perempuan dilahirkan sebagai makhluk penggoda (temptator). Padahal, perempuan sesungguhnya adalah manusia biasa seperti halnya laki-laki. Bahkan, dunia laki-laki mungkin lebih sering menjadi faktor dalam persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan dalam lintasan sejarah.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.
Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Foto oleh