Masjid Sebagai Rumah Dialog Antar Umat Beragama
02/18/2018
Memberikan Rasa Adil
02/20/2018

Menara Masjid untuk Meneropong Ketimpangan Sosial

Menara masjid adalah aksesoris masjid Nabi yang dibangun belakangan. Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika Bilal akan menyampaikan azan, ia meminta izin kepada pemilik rumah yang lebih tinggi di samping masjid Nabi. Mungkin karena segan atau kurang pas dan selalu merepotkan pemilik rumah untuk membukakan pintu, terutama di waktu subuh, akhirnya dibangunlah menara masjid Nabi. Di atas ketinggian menara itulah Bilal selalu melantunkan azan. Dari ketinggian menara ini juga sering digunakan untuk menyampaikan pengumuman penting, misalnya mengumpulkan para sahabat jika ada hal-hal penting untuk dibicarakan bersama Nabi. Lama kelamaan, menara masjid semakin penting artinya karena dapat juga digunakan untuk mengontrol pergerakan massa, termasuk dari kalangan musuh atau pengacau.

Menara Masjid Nabawi semakin penting artinya di kemudian hari, karena sudah digunakan juga untuk mengontrol dari ketinggian. Dari menara tersebut, bisa ketahuan rumah-rumah yang dapurnya tidak pernah berasap, sebagai pertanda kemiskinan dan kekurangan pangan. Sebaliknya, bisa kelihatan rumah-rumah yang dapurnya selalu berasap sebagai pertanda kemakmuran dan kecukupan pangan. Kedua belah pihak dimediasi oleh Nabi atau sahabat. Mungkin yang dapurnya tidak bernah berasap, betul-betul serba kekurangan dan perlu bantuan. Sebaliknya sering ditemukan orang-orang yang dapurnya selalu berasap karena kafilahnya baru tiba dari rantauan dan membawa pulang berbagai jenis makanan. Dalam situasi inilah Nabi pernah bersabda: Merupakan suatu dosa jika masakan sempat tercium oleh tetangga dan diyakini masakan itu disukai juga oleh tetangga tetapi tidak dibagi kepada mereka.

Ternyata menara masjid dijadikan alat kontrol untuk memperkecil jurang antara perut lapar dan perut kenyang, antara orang miskin dan orang kaya, dan antara kaum yang berpotensi untuk dibantu dan kaum yang berpotensi untuk membantu. Dengan sendirinya, menara masjid dapat meneropong rumah-rumah mana yang mewah dan mana yang kumuh. Subhanallah, jadi menara masjid bukan hanya simbol gagah-gagahan untuk melengkapi kemewahan masjid atau  mushalah tetapi juga berfunsi sebagai social control dan kekuatan pemersatu umat.

Keberadaan menara masjid dalam kondisi sekarang tentu bukan lagi tempat untuk menyampaikan azan oleh muazzin. Sorang muazzin tidak perlu naik dari atas ketinggian, karena sound system di atap masjid sudah mampu menjangkau telinga jemaah di sekitar masjid. Kita sering melihat jumlah menara bukan hanya satu tetapi dua atau lebih. Terkadang harga sebuah menara sama harganya dengan masjidnya. Mungkin harga satu menara di satu tempat dapat digunakan untuk membangun satu atau dua masjid/mushallah di tempat lain yang sangat memerlukannya. Jika sudah punya satu atau dua menara untuk apa lagi membangun menara di setiap sudut, toh fungsi dan kegunaannya hanya untuk menyimpan sound system.

Menara masjid yang sudah terlanjur dibangun, sebaiknya diprogramkan untuk disewa oleh perusahaan telepon seluler dan semacamnya, yang membutuhkan space dan ketinggian tertentu untuk memperkuat jaringan usahanya. Hasil penyewaan menara, bisa dipakai untuk membiayai kesejahteraan imam dan pegawai masjid, atau untuk kesejahteraan jamaah di sekitarnya.

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Dara Khrisna