Memberikan Rasa Adil
02/20/2018
Non-Muslim Bebas Keluar-Masuk di Negeri Muslim
02/22/2018

Menepati Semua Perjanjian Damai

Perjanjian Damai Hudaibiyah baru saja ditandatangani bersama dengan Suhail ibn Amru, pimpinan delegasi non-muslim Quraisy. Salah satu Perjanjian itu menyatakan jika umat Islam ditangkap di wilayah yang dikuasai non-muslim Quraisy maka ia harus ditahan dan kalau umat non-muslim Quraisy ditangkap maka harus segera dibebaskan ke negerinya. Belum bubar acara itu tiba-tiba salah seorang tawanan sahabat bernama Jandal ibn Suhail lari dari tahanan kaum Quraisy untuk meminta perlindungan Nabi saw. Namun, ia lebih dahulu disergap oleh Suhail dan menamparnya di depan Nabi saw. sambil mengatakan: Lihat orangmu ini Muhammad, baru saja kita menandatangani Perjanjian Damai sudah mau kabur. Nabi saw. menjawab: Engkau benar wahai Suhail sambil memegang pemuda itu. Nabi saw. meminta pemuda itu untuk kembali ditahan demi menaati perjanjian damai tadi. Pemuda itu berteriak: Wahai umat Islam yang hadir di sini, apakah kalian rela kalau aku diserahkan ke tangan mereka? Sahabat Nabi saw. pada diam. Nabi saw. melanjutkan perkataannya dengan mangatakan: Wahai Abu Jandal, kembalilah dan bersabarlah, Allah Swt akan memberikan jalan keluar untukmu bersama orang-orang yang bersamamu. Kami baru saja mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan kami telah berjanji untuk menaati perjanjian itu dan tidak mungkin kami bisa melanggar perjanjian itu. Para sahabat terdiam menyaksikan pemandangan itu dan pasukan non-muslim Quraisy menyaksikan kuatnya komitmen Nabi saw. terhadap apa yang telah dinyatakannya.

Nabi saw. memberikan nasehat kepada para sahabatnya dan sekaligus kepada seluruh umatnya agar selalu menaati janji, sekalipun kepada musuh. Ia menegaskan agar umat Islam jangan munafik.  Menurut beliau,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu 1) Bila bicara ia bohong. 2) Bila berjanji ia tidak tepati. 3) Bila diberi amanah ia khianat. (HR. Bukhari-Muslim).

 Al-Qur’an juga telah memperingatkan agar orang-orang menempati janji ke dalam bentuk sebuah perumpamaan menarik, yaitu:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (Q.S. al-Nahl/16: 92).

Ayat dan hadis di atas menunjukkan betapa agungnya pribadi Nabi saw. Ia bisa saja membela si pemuda itu tetapi karena nilai sebuah perjanjian, maka dengan berat hati ia mengembalikan sahabatnya untuk ditahan oleh kaum Quraisy. Ayat di atas juga sangat indah melukiskan bagaimana perumpamaan orang-orang yang begitu gampang berjanji tetapi begitu gampang juga mengingkari janjinya.

Tentu, ini pelajaran berharga buat kita semua dan Nabi saw. telah mencontohkan bahwa menepati janji itu memang memerlukan pengorbanan dan pengertian yang mendalam. Namun, setelah kita menepati janji, maka Tuhan pun tidak diam. Ia memberi berkah kepada orang-orang yang menempati janji. Tidak lama setelah peristiwa itu, orang-orang Quraisy melanggar janjinya. Akibatnya keadaan berbalik. Orang-orang non-muslim Quraisy ramai-ramai memeluk agama Islam. Tidak lama setelah itu kota Mekkah direbut kembali (Fathu Makkah) tanpa setetes darah yang mengucur.

Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Ilustrasi geralt/pixabay