Memperbaiki Citra Teologi Perempuan
03/22/2018
Reartikulasi Bahasa Agama tentang Perempuan
03/24/2018

Mengambil Pelajaran dari Fathu Makkah

Revolusi besar tanpa setetes darah betul-betul terjadi, itulah peristiwa Fathu Makkah. Ketika tekanan dan siksaan kaum Quraisy Mekkah semakin meningkat dan mereka merencanakan untuk mengeksekusi Nabi di tengah malam. Kediaman Nabi dipagar betis pasukan elit orang Quraisy. Untung Nabi beserta Abu Bakar lolos dari pengepungan tersebut. Di dalam rumah persembunyian, Ali bin Abi Thalib mengecoh mereka dengan tidur di tempat tidur Nabi dan menggunakan selimutnya. Mereka menyangka Nabi masih tertidur. Saat mereka membuka selimut untuk mengeksekusi Nabi, alangkah kagetnya mereka menemukan orang yang berada dalam selimut itu bukan Nabi melainkan Ali. Mereka menyebar mencari dan memburu Nabi. Untungnya mereka tidak sampai memasuki tempat persembunyian Nabi di Gua Tsaur, karena mereka yakin tidak ada siapa-siapa di dalam gua karena sarang laba-laba masih utuh menutupi gua, dan burung-burung masih bertahan mengerami telur di mulut gua.

Akhirnya keluarga Nabi dan umat Islam Mekkah  melakukan eksodus  besar-besaran ke Yatsrib -belakangan diganti menjadi Madinah oleh Nabi. Berbagai properti warisan isterinya, Khadijah, seperti rumah dan tanah ditinggalkan begitu saja di Mekkah demi menyelamatkan diri dan misi ajaran besar yang diembannya. Selama di Madinah, Nabi membangun kekuatan umat di samping menggalakkan syiar ke kabilah dan suku bangsa secara luas, hingga ke negeri tetangga. Setelah merasa cukup kuat, Nabi mengatur strategi untuk merebut kembali Kota Mekkah. Nabi memilih penyerangan di malam hari Ramadhan. Ia membagi tiga pasukannya sebagai taktik. Satu kelompok lewat bukit, satu kelompok lewat lembah, dan kelompok lain di jalur normal. Abi Sufyan, pimpinan kaum Kafir Quraisy, tidak menyangka pasukan Rasulullah berjumlah besar dan dengan taktik yang canggih. Ia mengira pasukan Rasulullah hanya lewat jalur normal. Ternyata di saat yang tepat, pasukan bukit dan pasukan lembah berjumpa di perbatasan Kota Mekkah.

Kaum Quraisy Mekkah sangat ketakutan. Mereka menunggu diri mereka dieksekusi sebagaimana layaknya tradisi perang kabilah, di mana kaum laki-laki dibunuh dan perempuannya dijadikan budak bersama anak-anaknya. Alangkah kagetnya mereka setelah Nabi meneriakkan ”Antum al-thulaqa’ (Kalian semua sudah bebas!). Siapa yang masuk ke dalam pekarangan Ka’bah aman, masuk ke rumah Abi Sufyan aman, dan masuk ke dalam rumah dan mengunci rumah juga aman.” Akhirnya Abi Sufyan bersama pembesar Quraisy lainnya menyerah dan bersedia mengikuti petunjuk Nabi. Selanjutnya Nabi meminta kepada para pimpinan pasukannya untuk menyatakan: “Al-yaum yaumal-marhamah” (Hari ini adalah hari kasih sayang).

Salah seorang sahabat Nabi berteriak: al-yaum yaumul malhamah (Hari ini adalah hari pertumpahan darah). Penduduk Mekkah kembali ketakutan. Lalu Abi Sufyan protes, kenapa menjadi hari pertumpahan darah padahal sebelumnya diumumkan hari kasih sayang dan hari pengampunan. Nabi menjawab, tidak begitu maksudnya. Sahabat itu cadel, tidak bisa menyebut huruf ra, sehingga huruf ra diucapkan dengan la. Sehingga al-yaum yaul al-marhamah (Hari ini hari kasih sayang) diucapkan al-yaum yaumal-malhamah (Hari ini hari pertumpahan darah). Setelah itu Nabi meminta sahabat tadi berhenti bicara dan mengikuti kesepakatan. Penyelesaian Fathu Makkah sangat manusiawi dan menyalahi tradisi perang Arab. Hari itu betul-betul tidak ada balas dendam. Revolusi tanpa setetes darah. Revolusi tanpa balas dendam. Revolusi dengan biaya murah, dan revolusi yang melahirkan keutuhan dan kedamaian monumental. Itulah revolusi Nabi. Dunia tercengang menyaksikan kearifan seorang Nabi Muhammad. Rekonsiliasi yang dilakukan Nabi patut dicontoh oleh siapa pun juga. Inilah  revolusi tanpa setetes darah.

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Glady/pixabay