Langkah Rasulullah Mengatasi Masalah Perbedaan
03/17/2018
Mengeliminir Polemik
03/19/2018

Mengapa Berbeda Pendapat?

 

Pertanyaan umum yang sering terlontar dari masyarakat ialah mengapa sering terjadi perbedaan pendapat di dalam fikih? Bukankah Tuhan, Nabi, dan Kitab Suci kita sama? Secara implisit, pertanyaan ini terkandung harapan untuk terjadinya pesatuan sesama umat. Mengapa mesti berbeda jika dimungkinkan untuk bersatu? Apalagi sekarang ini, kedudukan umat Islam sudah sedemikian lemah dalam berbagai sudut. Daya saing umat Islam sebagai penghuni mayoritas negeri ini betul-betul mencapai titik nadir. Mereka seperti tidak berdaya atau belum siap utnuk hidup di dalam kanca persaingan bebas, khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Timbulnya perbedaan pendapat di dalam fikih sangat dimungkinkan, terutama  disebabkan oleh perbedaan pendirian tentang kedudukan sumber-sumber hukum dan persoalan semantik-kebahasaan dari dalil-dali agama. Secara umum, sumber-sumber hukum dan fikih Islam dikenal ada tujuh, yaitu Al-Qur’an, Hadis, Ijma’, Qiyas, Istihsan, Maslahat Mursalah, dan ‘Urf. Uraian secara kritis mengenai sumber-sumnber hukum ini akan dibahas secara terpisah dalam artikel mendatang. Ada ulama yang lebih mengedepankan ijma’ (persepakatan ulama) ketimbang hadis Ahad (yang diriwayatkan oleh orang perorang, tidak dalam jumlah kolektif) dan ada pula sebaliknya. Ada ulama yang lebih mengedepankan qiyas daripada ijma’, demikian pula sebaliknya. Ada ulama yang lebih mengedepankan tradisi ahli Madina (‘amal ahl Madinah) daripada qiyas. Ada juga yang menolak menggunakan ‘amal ahl Madinah, yang lain menolak qiyas, dst.

Faktor lain penyebab timbulnya perbedaan pendapat ialah masalah pemaknaan semantik-kebahasaan. Perbedaan pemaknaan satu kosa kata bisa melahirkan perbedaan pendapat, bahkan bisa melahirkan ketegangan. Dalam lintasan sejarah, perbedaan sepele atau perbedaan yang bersifat non dasar (furu’iyyah) pernah melahirkan beberapa kali perang saudara. Masing-masing pihak mempertahankan secara fanatik pendapatnya atau pendapat gurunya, sehingga terjadi konflik yang meruncing satu sama lain.

Sebagai contoh firman Allah swt.:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru… (Q.S. al-Baqarah/2: 228).

Kata quru’ di dalam ayat ini dapat diartikan dengan “bersih, suci”, dan bisa juga diartikan “kotor (haid)”. Jika diartikan “suci”, maka masa iddah seorang perempuan lebih panjang daripada jika diartikan “kotor”. Imam Syafi’ mendukung pendapat pertama dan Imam Abu Hanifah mendukung pendapat kedua.

Perbedaan pendapat dalam fikih sudah merupakan sebuah keniscayaan. Perbedaan itu bisa membawa rahmat, karena menjadi ruang pilihan bagi umat Islam untuk menemukan model fikih yang sesuai dengan kondisi objektif lingkungan hidupnya. Umat Islam Indonesia yang mendiami negara maritim dan bercorak agraris tentu relevan jika mereka memilih mazhab Syafi’i yang memiliki keserasian satu sama lain. Sebaliknya, bagi dunia Islam lain di kawasan negara-negara kontinental dengan struktur masyarakatnya yang berlapis-lapis, tentu juga sesuai dengan mazhab Maliki yang bercorak budaya kontinental. Tegasnya, perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha adalah sesuatu yang wajar, sejauh tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran pokok agama. Atas dasar logika ini, maka perumusan Fikih Kebhinnekaan di Indonesia sangat dimungkinkan.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.
Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Foto oleh Cyprianus Rowaleta