Mengapa Berbeda Pendapat?
03/18/2018
Menghargai Toleransi
03/20/2018

Mengeliminir Polemik

 

Potensi polemik di negeri kita sangat besar. Selain disebabkan oleh pluralitas masyarakat, juga disebabkan oleh fenomena pembengkakan kualitas umat. Jenjang pendidikan kelompok santri semakin terbuka luas dan daya beli pendidikan kelas menengah santri semakin besar. Dengan demikian, dinamika di dalam masyarakat kita semakin kuat, dan kadang-kadang kelihatan panas. Wajar kalau ada sejumlah kalangan melontarkan konsep dan gagasan cerdas untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa, terutama sesama umat Islam. Di antara gagasan itu ialah yang datang dari komunitas Nahdlatul Ulama (NU) yang dalam muktamarnya beberapa waktu lalu di Jombang mengusung isu Islam Nusantara, dan pada saat bersamaan Muktamar Muhammadiyah di Makassar mengangkat isu Fikih Kebhinnekaan. Kedua ormas Islam terbesar ini sepertinya menyadari trend perkembangan dunia Islam dan umat Islam Indonesia akan mengalami banyak pergeseran nilai di tengah perubahan sosial yang sedemikian cepat.

Polemik dalam masyarakat plural sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan. Namun yang pelu dicermati ialah polemik yang menjurus kepada konflik. Konflik agama jauh lebih sensitif ketimbang konflik primordial lainnya. Agak memprihatinkan jika di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara  kita akhir-akhir ini, yang meningkat adalah polemik keagamaan, seperti terangkatnya kembali isu ideologi aliran. Ideologi transnasional ternyata tidak bisa dipandang enteng. Faktanya, kelompok ini hadir di hampir setiap negara. Kelompok ini cenderung tidak mau memberikan pengakuan kepada kelompok yang berbeda dengan kelompoknya. Bahkan ada yang mengembangkan konsep pengkafiran (takfiri). Kelompok ekstrim ini menganggap semua orang lain salah dan diri mereka sendiri yang benar. Di antara mereka ada yang bermotto: Harta kami adalah milik kami dan harta engkau dan mereka juga adalah pantas milik kami, karena harta kelompok thagut layak dirampas dalam konsep fae atau ganimah. Kelompok ini tidak mau menengok sudut-sudut positif lawan polemiknya. Sebaliknya, kelemahan mendasar pada dirinya diabaikan demi mencapai tujuan.

Polemik destruktif sangat berpotensi melahirkan konflik. Polemik destruktif seperti ini perlu dihindari dengan cara menghadirkan konsep-konsep agama yang lebih mencerahkan. Termasuk di antaranya yang amat penting ialah konsep Fikih Kebhinnekaan. Di dalam konsep Fikih Konvensional, yang pada umumnya memang disusun di dalam zaman perjuangan fisik umat Islam di abad-abad awal perkembangan Islam, adalah wajar jika Fikih Siyasah yang dirumuskan saat itu mengenal hanya tiga kategori negara, yaitu Negara Islam (Dar al-Islam), Negara Musuh/Kafir (Dar al-Harb), dan Negara Kafir tetapi menjalin piagam saling pengertian dengan negara Islam (Dar al-Silmi). Fikih ini adalah benar pada zamannya. Akan tetapi, di era seperti sekarang ini, terutama seperti dalam kondisi masyarakat bangsa Indonesia, tentu hal ini tidak tepat diterapkan secara harfiah dan dangkal. Untuk lebih aman dan demi terpeliharannya kesejahteraan bersama melalui kerjasama aktif, seluruh warga, tanpa membedakan agama, kepercayaan, dan etnik, maka perlu dirumuskan sistem sosial yang sesuai, yang kemudian disebut sebagai Fikih Kebhinnekaan.

Gagasan ini sesuai dengan Q.S. al-Anfal/8: 6 dan Q.S. Gafir/40: 56:

يُجَٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَ مَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ

Mereka membantahmu (Muhammad) tentang kebenaran setelah nyata (bahwa mereka pasti menang), seakan-akan mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab kematian itu).

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.
Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Foto oleh Fibrian Yusefa Ardi