Melegitimasi Bhinneka Tunggal Ika
01/21/2018
Mewujudkan Islam Damai
01/29/2018

Menghargai Kelompok Minoritas

DI MASYARAKAT plural seperti Indonesia, penghargaan terhadap kelompok minoritas adalah prasyarat untuk mencapai Persatuan Indonesia. Tanpa penghargaan terhadap mer­eka sepertinya sulit mewu­judkan sila ketiga, Persatuan Indonesia. Menghargai kel­ompok minoritas bukan han­ya merupakan ajaran semula jadi ajaran Islam. Dasarnya banyak ditemukan di dalam Al-Qur’an dan Hadis, serta banyak dipraktekkan pada zaman Nabi dan sahabat. Satu contoh Safwan ibn Sulai­man meriwayatkan sebuah hadis yang mencerita­kan Nabi Muhammad Saw pernah bersabda: “Ba­rangsiapa yang menzalimi seorang muhad (orang yang pernah melakukan perjanjian damai) atau melecehkan mereka, membebani beban di luar kesanggupan mereka, atau mengambil harta tan­pa persetujuan mereka maka saya akan menjadi lawan­nya nanti di hari kiamat”. (HRAbu Daud). Hadis ini luar biasa. Nabi dengan begitu tegas memberikan kepemihakan kepada kaum yang tertindas, ter­zalimi, dan terlecehkan, tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, agama, dan kepercayaan. Hadis ini sebenarnya sejalan dengan semangat ayat:

Walaqad karramna Bani Adam

(Dan sesungguh­nya telah Kami muliakan anak-anak Adam). (Q.S. Al-Isra’/17:70).

Yang menarik dari hadis dan pengalaman saha­bat Nabi di atas ialah pemberian bantuan dan per­tolongan di dalam Islam ialah lintas agama dan budaya. Bantuan dan pertolongan dari umat Is­lam bukan hanya dialamatkan kepada kelompok muslim tetapi juga kepada kelompok non-muslim, sebagaimana ditunjukkan oleh Nabi dan Khula­faur Rasyidin, khususnya Umar ibn Khaththab. Kemiskinan dan keterbelakangan itu tidak hanya terjadi di kalangan umat Islam tetapi juga oleh kelompok agama lain. Siapapun mereka jika me­merlukan bantuan dan pertolongan punya hak un­tuk dibantu, walaupun harus diambilkan dari kas Negara (Bait al-Mal), sebagaimana ditunjukkan oleh Umar ibn Khaththab. Di dalam kitab-kitab fikih banyak dibahas tentang fikih minoritas. Salah satu kewajiban umat Islam terhadap umat manusia, tanpa membedakan agama dan etniknya, ialah menyelamatkan mereka dari lokasi musibah dan penderitaan. Sekiranya sudah menjadi mayat pun, tetap menjadi fardlu kifayah buat umat Islam un­tuk mengurus jenazah tersebut. Berdosa massal semua orang atau desa yang menyaksikan mayat hanyut di sungai tanpa mendamparkan lalu men­guburkannya. Karena mayat itu sesungguhnya su­dah milik Allah (al-mayyit haq Allah) yang harus diurus dan dimakamkan.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal & Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah

Foto Cyprianus Rowaleta