Mengeliminir Polemik
03/19/2018
Memberi Salam Kepada Non-Muslim
03/21/2018

Menghargai Toleransi

 

Salah satu ciri Fikih Kebhinnekaan (FK) ialah menghargai toleransi. Yang dimaksud toleransi di sini ialah suatu paham dan sikap yang menghargai pendapat, sikap, dan keberadaan orang atau kelompok lain, tanpa membedakan besar kecilnya kelompok itu. Di dalam Islam, toleransi sering disamakan dengan konsep tasamuh. Toleransi dalam beragama sering dihubungkan dengan toleransi internal dan eksternal umat beragama, menghargai keberadaan dan tidak memaksakan kehendak kepada orang atau kelompok lain, sekalipun kelompok itu kecil.

FK menjunjung tinggi keberadaan orang atau kelompok lain, sungguhpun mereka non-muslim. Dalilnya dalam Islam amat banyak. Yang pasti, Nabi Muhammad Saw. tidak hanya menganjurkan toleransi terhadap penganut agama lain, tetapi mencontohkannya sekaligus. Banyak tokoh yang hanya bisa bicara tentang toleransi tetapi dalam sikap dan tindakannya berbeda dengan apa yang sering dibicarakannya. Nabi saw. dan para sahabatnya tidak pernah sedikit pun ragu untuk bekerjasama dan bertoleransi dengan orang-orang non Islam, karena dasarnya di dalam Al-Qur’an bergitu banyak dan begitu tegas. Diantara ayat-ayat itu ialah:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu… (Q.S. al-Mumtahanah/60: 8).

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ 

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (Q.S. al-Taubah/9: 6).

Nabi saw. pernah didatangi delegasi non-muslim (Nashrani) Najran, negeri Yaman sekarang, mereka bertanya kepada Nabi saw. tentang Isa ibn Maryam. Lalu Nabi saw. menjawab: Dia adalah ruhullah wa kalimatuhu, dan dia hamba dan rasul-Nya. Kelopok pemuda itu berkata: Apakah engkau siap kami cemooh jika kamu keliru? Nabi saw. menanggapi: Apakah itu yang kalian kehendaki? Mereka menjawab: Ia. Kemudian pemimpin mereka datang menegur mereka dengan mengatakan: Jangan cemooh orang ini, karena jika kalian melakukannya kita akan dihancurkan. Setelah itu ia meminta maaf kepada Nabi saw., dan memintakan maaf juga kepada warganya yang lancang itu. Nabi mengatakan: Aku sudah memaafkan kalian. Demikian sikap toleransi Nabi saw. terhadap orang lain.

Dalam riwayat lain, Safwan ibn Sulaiman meriwayatkan bahwa Nabi pernah mengatakan:

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang mendhalimi orang-orang yang menjalin perjanjian damai (mu’ahhad) atau melecehkan mereka, atau membebaninya sesuatu di luar kesanggupannya, atau mengambil hartanya tanpa persetujuannya, maka saya akan menjadi lawannya nanti di hari kemudian” (HR. Abu Daud, 3052, III/170).

Nabi saw. juga banyak mencontohkan memberikan keprihatinan dan bantuan terhadap non-muslim, terutama bagi mereka yang berasal dari golongan tidak mampu.

Umar ibn Khaththab pernah berjumpa seorang kakek tua buta non-muslim sedang meminta-minta. Umar bertanya: dari ahli kitab mana engkau? Dijawab: Dari agama Yahudi. Umar membawa kakek tua buta itu ke rumahnya dan Umar membuatkan memo ke Baitul Mal yang isinya: “Tolong perhatikan orang ini dan semacamnya. Demi Allah, kita tidak menyadari kalau kita telah memakan hartanya lalu kita mengabaikannya di masa tuanya. Sesungguhnya sedekah untuk para fakir-miskin. Kaum fakir miskin itu ada dari kaum muslim dan dari kaum Yahudi”.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.
Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Foto oleh Fibrian Yusefa Ardi