Shema
05/14/2017
Meluruskan Makna Islam
05/28/2017

Menghindari Kekerasan

Visi jihad di dalam Al-Qur’an sangat tegas menentang kekerasan. Untuk tujuan apa pun, atas nama apa dan siapa pun,  serta kepada siapa pun, bahkan untuk kepentingan agama Allah pun, cara-cara kekerasan harus tetap dihindari, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat: لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ /Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).(Q.S. al-Baqarah/2:256). Jihad, sekali lagi, pada hakikatnya bertujuan untuk menghidupkan orang dan mengangkat martabat kemanusiaan. Allah Swt. juga dengan tegas melarang melakukan tindakan pembunuhan kepada orang yang tak berdosa:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara lalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. (Q.S. al-Isra’/17:13).

Siapapun tidak boleh memandang enteng sebuah jiwa, karena Allah Swt. menegaskan bahwa:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Q.S. al-Maidah/5:32).

Begitu indahnya ayat ini sehingga Barak Obama dalam pidato ilmiahnya di Universitas Cairo Mesir pernah mengutip ayat ini. Menurut Obama, sedemikian besar perhatian Tuhan terhadap nyawa dan jiwa setiap orang sehingga pernyataan ayat tersebut tidak pernah ditemukan di dalam kitab suci mana pun.

Jihad sesungguhnya untuk mewujudkan kedamaian makrokosmos (alam raya) dan mikrokosmos (manusia). Keseimbangan antara alam dan manusia serta makhluk hidup lainnya hanya bisa diwujudkan jika sesama umat manusia saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Persaudaraan antar sesama adalah salah satu hal yang dijadikan tujuan di dalam Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ /Innamal mu’minuna ikhwah (Sesungguhnya orang-orang yang memiliki keimanan (kepada Tuhan) adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (jika terjadi konflik). (Q.S. al-Hujurat/49:10). Jika seorang sudah beriman kepada Tuhan, seperti apa pun keimanannya, harus diperlakukan secara terhormat. Allah Swt juga menyatakan:وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ  /Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (Q.S. al-Syu’ara/26:114).

Allah Swt. menegaskan agar sesama manusia saling memuliakan satu sama lain: وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ /Walaqad karramna Bani Adam (Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. (Q.S. Al-Isra’/17:70). Siapa pun yang merasa anak cucu Adam tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, agama, dan kepercayaannya, wajib saling menghormati satu sama lain. Kita wajib memuliakan umat manusia sebagaimana Sang Penciptanya memuliakannya. Bukan hanya kepada orang lain, tetapi terhadap diri sendiri pun Allah Swt melarang untuk mencelakakan diri, sebagaimana ditegaskan: وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ /Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al-Baqarah/2:195).

Memang kita berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran, sepahit apa pun risikonya, sebagaimana sabda Nabi: “Katakanlah kebenaran itu sekalipun pahit akibatnya”. Namun dalam menyampaikannya kita tetap diminta melakukannya dengan penuh kebijakan:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. al-Nahl/16:125).

Dalam ayat lain ditegaskan:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, (Q.S. al-Qashash/28:56).

Subhanallah, sedemikian mulia dan agung nilai-nilai kemanusiaan di dalam Al-Qur’an. Sayangnya, ada segelintir orang yang sering mengatasnamakan diri-Nya untuk menodai nilai-nilai keagungan itu.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah 

Foto oleh Cyprianus Rowaleta