Islam Marah ke Islam Ramah
05/31/2017
Memaralelkan Islam dan Indonesia
06/02/2017

Mengindonesiakan Umat Beragama

Sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, semua agama dan kepercayaan bebas hidup di dalamnya. Keduanya saling mengokohkan satu sama lain. Agama memberikan penguatan terhadap negara dan negara memberikan penguatan terhadap agama. Agama dan NKRI bagaikan satu mata uang yang memiliki sisih yang berbeda. Jika di kemudian hari terdapat pertentangan antara keduanya maka itu perlu segera diatasi. Akhir-akhir ini isu agama seringkali tampil berhadap-hadapan dengan tatanan negara. Gerakan puritanisme atau pemurnian agama tampaknya melahirkan benturan-benturan baru antara tatanan kenegaraan dan apa yang diklaim sebagian orang sebagai ajaran Islam. Lahirnya gerakan salafiah jihadi yang berusaha membersihkan khurafat dan bid’ah di dalam masyarakat seringkali berhadapan dengan tradisi keagamaan yang sudah mapan dan mendapatkan legitimasi negara. Misalnya hadirnya kelompok anti Perayaan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, peringatan tanggal 1 Muharram, dll dianggap sebagai kegiatan bid’ah yang tidak berdasar. Padahal acara-acara tersebut sudah menjadi tradisi keagamaan rutin dan di antaranya sudah dilembagakan dalam acara negara, seperti Peringatan Maulid Nabi, Peringatan Isra’ Mi’raj, dan Nuzulul Qur’an setiap tahun diadakan sebagai acara kenegaraan. Jika itu dianggap bid’ah, apalagi diharamkan, maka bukan saja menimbulkan masalah internal umat Islam tetapi juga  berdampak pada agenda kenegaraan.

Apa yang sudah dianggap positif dan sudah diterima baik di dalam masyarakat luas, apalagi sudah diakomodasi oleh negara sebagai acara kenegaraan yang diperingati secara nasional, sebaiknya tidak perlu diusik lagi. Pemurnian ajaran tidak mesti harus mengorbankan kearifan dan kreativitas lokal sepanjang hal itu tidak terang-terangan bertentangan dengan ajaran dasar agama. Apa yang ditawarkan sebagai standar ajaran pemurnian sesungguhnya belum tentu murni. Apalagi kalau yang dijadikan standar ajaran untuk menilai, lebih kental ajaran budaya Timur Tengahnya ketimbang ajaran Islamnya. Contohnya adanya gerakan atau seruan penggunaan cadar atau niqab, yaitu pakaian perempuan yang menutupi seluruh anggota badan kecuali kedua bola mata, penggunaan celana di atas tumit, dan kemestian memelihara jenggot, dan atribut fisik keagamaan lainnya. Menjadi seorang muslim yang baik tidak mesti harus menyerupakan diri dengan orang-orang Arab. Kita bisa menjadi pemeluk Islam terbaik tetapi pada saat bersamaan kita tetap menjadi orang Indonesia terbaik. Beberapa contoh seruan sudah mirip dengan “ancaman” karena bagi mereka yang tidak mengindahkan ajaran da’wah mereka ditakut-takuti dengan neraka. Kalangan masyarakat sudah mulai bingung, mana sesungguhnya yang benar. Apalagi dengan kebebasan umat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa saat ini sudah sedemikian dilindungi oleh HAM. Semua orang dan golongan bebas mengekspresikan ajaran agama dan kepercayaannya. Lebaran berkali-kali, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, sudah lumrah di Indonesia, meskipun pengalaman seperti ini aneh di mata umat Islam negara lain.

Pemahaman keindonesiaan bagi para generasi muda yang akan menuntut ilmu di luar negeri, baik ke Timur Tengah maupun ke negara-negara Barat, perlu diberikan pembekalan lebih awal. Tidak sedikit jumlah mahasiswa Indonesia yang ke luar negeri digarap di sana oleh kelompok-kelompok radikal. Begitu mereka pulang  ke tanah air bukannya menyumbangkan ilmu-ilmu spesifik yang digelutinya di Perguruan Tinggi tetapi lebih banyak terlibat di dalam  acara-acara keagamaan (tablig). Pembekalan nilai-nilai keindonesiaan, antara lain pendalaman pemahaman terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa dan pendalaman falsafah Negara Pancasila perlu diberikan.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Istiqlal & Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah