Tahun Baru Optimisme Baru
01/01/2017
Imam Besar Masjid Istiqlal Anggap Ada Kesamaan Misi Polisi dan Ulama
01/31/2017

Mengukuhkan Dasar Tol­eransi

Mengukuhkan dasar toleransi merupakan agenda pertama bagi siapa pun yang hendak berbicara tentang toleransi. Dasar toleransi di sini ialah dasar teologi dan budaya luhur bangsa. Bagaimanapun juga, masalah toleransi akan selalu aktual dibicarakan di negara heterogen seperti Indonesia. Toleransi bagi kelas menengah atas secara konseptual dianggap sudah selesai. Akan tetapi tidak demikian halnya bagi kelompok lain, khususnya kelompok yang mendapatkan pengaruh kuat dari kekuatan ideologi tertentu. Karena itu, penguatan dasar teologi dan budaya toleransi perlu terus dikembangkan.

Di dalam Islam sendiri masalah toleransi sudah selesai. Islam tidak pernah melarang umatnya berbuat baik kepada orang-orang non-muslim. Sebaliknya, Islam mengharuskan umatnya memuliakan siapa pun yang merasa anak-cucu Adam, apa pun jenis kelamin, etnik, agama, dan kepercayaannya, sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur’an: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. (Q.S. Al- Isra’/17:70). 

Dalam ayat lain ditegaskan: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, mengusirmu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. al- Mumtahanah/60:8-9).

Ayat ini sangat populer, terutama setelah dikutip Presiden Obama di Cairo University beberapa tahun lalu.

Sejak awal, Islam telah menyerukan umatnya untuk memberikan perlindungan terhadap orang-orang yang lemah tanpa membedakan agamanya, sebagaimana ditegaskan dalam Al- Qur’an: Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar (dan merenungkan) firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (Q.S. al-Taubah/9:6). Ayat lain juga menegaskan: Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (Q.S. al-Syu’ara/26:114). Tradisi usir-mengusir bukanlah etika sosial yang berbudaya. Pasti komunitas yang diusir berusaha mencari kekuatan dan kesempatan untuk membalas dan menebus kekecewaannya. Akibatnya power struggle senantiasa terbayang di hadapan kita.

Ketika kita menyampaikan dakwah di dalam masyarakat, prinsip utama toleransi perlu selalu diingat. Kita perlu sadar bahwa kekerasan atas nama apa pun dan dengan tujuan apa pun tidak ada tempatnya di dalam Islam. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). (Q.S. al-Baqarah/2:256). Jika sudah disampaikan lantas belum mau mengikuti ajakan itu maka kita diminta menyerahkan kepada Allah SWT, sebagaimana dijelaskan di dalam ayat: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (Q.S. al- Qashash/28:56). Pluralitas masyarakat sudah merupakan ketetapan Allah (sunnatullah), sebagaimana dijelaskan di dalam ayat: Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang di muka bumi ini beriman. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya seluruh mereka menjadi orang-orang yang beriman? (Q.S. Yunus/10:99).

Rabu, 4 Januari 2017 

Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an, Jakarta.

Foto oleh Cyprianus Rowaleta