Imam Besar Masjid Istiqlal: Belajar Agama Tidak Bisa Instan
05/09/2018
Imam Besar Istiqlal: Semoga Ramadhan Menyejukkan Semua…
05/15/2018

Menjemput Ramadhan

Bulan suci Ramadhan sebentar lagi tiba. Akan terlambat kita menjemput Ramadhan jika dilakukan di malam pertama Ramadhan. Para ‘arifin memiliki tradisi menjemput Ramadhan semenjak awal bulan Rajab dan Sya’ban. Bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan sering disebut sebagai bulan tiga serangkai. Pada bagian awal bulan Rajab adalah momen paling baik menggelar karpet merah dengan cara berpuasa sunnah tiga hari, memutuskan seluruh dosa-dosa langganan yang sulit ditinggalkan, dan memulai melakukan pemulihan spiritual dengan menghindupkan kembali tradisi wirid, zikir, dan tadarrus Al-Qur’an. Bulan Sya’ban digunakan untuk mensucikan batin, menjalin komunikasi lebih intensif dengan Tuhan, dengan sesama makhluk, khususnya kedua orang tua dan orang-orang yang pernah berjasa di dalam hidup kita. Energi bulan Ramadhan tidak lagi digunakan habis untuk membersihkan diri dan menjalin komunikasi verbal secara horizontal tetapi digunakan untuk mendaki (taraqqi) menuju ke puncak pencarian seorang hamba. Bulan Ramadhan diharapkan bisa mengorbitkan  kita ke maqam yang lebih tinggi, sebagimana dijanjikan di dalam Al-Qur’an:

 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Q.S. al-Baqarah/2:183

Kita perlu memastikan diri sudah bersih sebelum Ramadhan datang, sehingga selama Ramadhan kita bisa lebih efektif menempa diri. Meluruskan jalan pikiran yang selama ini bengkok, melunakkan hati yang selama ini keras, membersihkan jiwa atau kalbu yang kotor, dan merajut kembali hubungan dengan keluarga yang sedang rusak. Ukuran  keberhasilan kita di dalam meraih sukses Ramadhan bukan hanya kesalehan individual tetapi kesalehan keluarga dan kesalehan bangsa serta negara, sehingga kita betul-betul seperti berada dalam negara yang diidealkan Tuhan dalam Al-Qur’an: Baldatun thayyibah wa Rabbun gafur (Negeri indah penuh pengampunan Tuhan).

Ibarat sebuah kapal, bulan Ramadlan sebentar lagi akan berlabuh di dalam sanubari yang sudah lama menyiapkannya, dan merekalah yang akan mendapatkan berkah bulan suci Ramadhan itu. Tidak mustahil di antara mereka ada yang menjumpai keutamaan Lailah al-Qadr. Idealnya bulan Rajab dan Sya’ban adalah bulan transisi untuk menyiapkan pangkalan pendaratan Ramadhan di dalam batin kita masing-masing. Sekarang masih ada waktu sedikit untuk menyiapkan diri menunggu bulan kesayangan kita. Semoga waktu-waktu yang tersisa ini bisa kita manfaatkan secara intensif untuk menyempurnakan shalat-shalat sunnah Rawatib, baik qabliyah maupun ba’diyah. Baik yang mu’akkad maupun yang gairu mu’akkad. Kita memulai membuka halaman demi halaman kitab suci Al-Qur’an, buku-buku, dan kanal dakwah di ranah media sosial dan elektronik. Semoga dengan demikian Ramadhan kita kali ini Insya Allah lebih berkualitas ketimbang Ramadhan-Ramadhan lalu.

Ibadah-ibadah sosial sangatlah penting, seperti bersilaturrahmi dengan orang-orang yang telah berjasa di dalam hidup kita, termasuk menziarahi maqam-maqam mereka yang sudah mendahului kita, mengunjungi kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan seperti panti-panti asuhan, panti jompo, dan kelompok-kelompok masyarakat kurang mampu lainnya. Ibadah-ibadah sosial tidak kalah dengan ibadah-ibadah lainnya, sebagaimana disebutkan di atas. Keiistimewaan bulan Ramadlan tidak perlu dipertanyakan. Banyak sekali ayat dan hadis yang menyatakan keistimewaannya. Dari segi namanya saja, “Ramadhan” berarti menghanguskan, yakni membakar hangus dosa-dosa masa lampau yang pernah kita lakukan. Banyak sekali amalan-amalan khusus yang hanya bisa dilakukan di dalamnya, seperti shalat sunnah tarwih, puasa Ramadhan, amalan-amalan dijanjikan berlipat ganda, dan zakat fitra, di samping zakat mal, dan ibadah-ibadah sosial lainnya. Kita berharap semoga Ramadhan kali ini kita lebih produktif daripada Ramadhan sebelumnya.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an