Ponpes Al-Ikhlas Yang Antikuper
02/08/2012

Menyembelih Keserakahan

St. Augustine (354-430) mengidentifikasi tiga jenis keserakahan manusia yaitu keserakahan kekuasaan, keserakahan seksual, dan keserakahan harta benda. Keserakahan yang terakhir menjadi cikal bakal lahir dan berkembangnya sistem kapitalisme. Sebelum kapitalisme lahir, keserakahan manusia terhadap harta benda merupakan perbuatan yang tidak terpuji. Bahasa agama dan bahasa filsafat sampai abad pertengahan masih memandang kapitalisme itu sebagai dosa  dan aib yang harus dijauhi.

Milik pribadi di masa lampau bukan sekedar sumber pendapatan tetapi memiliki fungsi sosial dan penggunaannya selalu dibatasi oleh kepentingan-kepentingan sosial dan keperluan negara. Karena itu, menurut sejarahwan R.H. Tawney, sampai abad pertengahan konsep kepemilikan pribadi atas harta tidak begitu popular. Sampai sekarang, di sejumlah etnik dalam sejumlah wilayah kepulauan Nusantara kita, masih kental dengan istilah kepemilikan kolektif seperti hak-hak adat, tanah ulayat, tanah adat, tanah waqaf, dan sebagainya.

Keserakahan terhadap harta benda sesudah abad pertengahan seakan mendapatkan legitimasi logika dan agama. Nilai-nilai luhur agama pun direaktualisasikan untuk mendukung konsep kapitalisme, sehingga kapitalisme yang dulu dianggap aib kini semakin eksis di dalam opini publik. Lahirnya karya monumental Max Weber “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” dianggap memberikan pupuk yang menyuburkan faham kapitalisme. Namun sasaran positif yang dituju buku ini ialah memberikan semangat pembebasan manusia dari belenggu mistisisme dan khurafat yang menyelimuti umat beragama saat itu. Weber tidak ingin agama dijadikan dasar untuk meligitimasi keterbelakangan, kemelaratan, dan kepasrahan terhadap nasib.

Meskipun buku ini ditentang kaum konservatif dan menyebut buku ini sebagai “the unplanned and uncoordinated mass action”, tetapi gagasannya tetap tak terbendung. Ekonomi pasar bebas yang lahir dari cara pandang kapitalisme dianggap sebagai pembunuh berdarah dingin. Tak terhitung jumlah kematian akibat kelaparan yang ditimbulkan oleh sistem ini. Ada yang menyejajarkan ekonomi pasar bebas dengan paham radikalisme yang melahirkan teroris. Para teroris memang kejam membunuh orang tak berdosa, tetapi jumlah korbannya konkrit dan terukur. Ekonomi pasar bebas korbannya lebih masif dan tak terukur. Energi lebih kuat di balik fenomena pasar bebas ialah semangat untuk memiliki, menguasai, dan memonopoli. Ujung dari pasar bebas tidak lain adalah keserakahan.

Ironisnya, sistem kapitalisme seakan menjadi motor paling kuat di dalam menjalankan roda pembangunan di berbagai negara termasuk di negeri kita selama beberapa dasawarsa terakhir. Seolah-olah pemerintah tak berdaya menghindar dari jaringan sistem ini. Akibatnya, perubahan nilai-nilai sosial ekonomi di dalam masyarakat kita semakin cepat dan jauh meninggalkan tradisi luhur dan kearifan lokal kita. Tentu kita tidak tepat meratapi sebuah hasil pemikiran tetapi selalu ada peluang untuk melakukan revisi dan perbaikan padanya. Apa, bagaimana, dan dari mana kita memulainya, menjadi pekerjaan rumah penting bagi semua ekonom, politisi, dan agamawan.

Idul Qurban yang berlangsung setiap tahun, dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi strategi dasar pemikiran yang membuat manusia sengsara. Peristiwa yang diperingati pada setiap hari raya Idul Qurban (‘Idul Adha) sesungguhnya merupakan peristiwa simbolis, yaitu pernyataan kesediaan untuk mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai demi tujuan yang lebih mulia. Orang yang disembelih (Ishaq menurut Yahudi dan Ismail menurut Islam) adalah lambang terhadap sesuatu yang amat kita cintai. Sekian lama Ibrahim (Abraham) merindukan anak keturunan dan akhirnya di usia senjanya dapat dikarunia anak yang betul-betul saleh. Namun ia diuji Tuhan agar anak itu disembelih, dan Ibrahim bersama keluarganya dinilai lulus dari ujian itu, lalu anaknya diganti dengan seekor kambing. Kambing inilah yang disembelih lalu dagingnya dibagikan kepada kaum fakir miskin.

Jika lambang kecintaan Ibrahim adalah Ismail, anaknya, maka tentu orang lain memiliki lambang kecintaannya masing-masing. Boleh jadi “Ismail-Ismail” orang mengambil  bentuk berupa rumah atau kendaraan mewah, deposito atau surat-surat berharga, emas perhiasan, dan properti lainnya. Pertanyaannya, sanggupkah kita mengorbankan semua itu demi suatu tujuan mulia. Secara implisit, peristiwa Idul Qurban mempunyai pesan kesediaan untuk menyembelih keserakahan, dengan kata lain: mengendalikan diri. Tidak banyak artinya memperingati hari raya Idul Qurban, sekalipun menyembelih beberapa ekor sapi, tetapi tetap tidak mampu menyembelih nafsu keserakahannya. Apakah itu keserakahan harta benda, keserakahan seksual, maupun keserakahan politik.

Semangat Idul Qurban adalah semangat untuk mengendalikan diri untuk tidak memperkaya diri sendiri di tengah kemelaratan orang lain, semangat untuk mengendalikan nafsu birahi kepada orang yang tidak berhak di tengah keceriaan anggota keluarga, semangat untuk membatasi kesewenang-wenangan dari otoritas dan kekuasaan yang dimiliki. Semangat untuk tidak mendemonstrasikan kemewahan di atas keprihatinan orang lain, dan semangat untuk tidak membangun istana di atas puing-puing kehancuran orang lain.

Semangat Idul Qurban ialah semangat untuk memupuk rasa kebersamaan sebagai warga bangsa tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, agama, dan kepercayaan. Semangat untuk mengulurkan tangan terhadap kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Semangat untuk menyembelih egoisme dan individualisme kita. Semangat untuk memberantas KKN dan ketidakadilan. Tegasnya, semangat untuk menyembelih kerakusan dan keserakahan.

Allah Swt. sejak awal menyerukan perlunya memuliakan manusia tanpa membedakan etnik, agama, dan kewarganegaraannya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Q.S. al-Isra’/17:70). Hadis Nabi juga secara gambling mengatakan bahwa sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak bermanfaat di dalam masyarakat. Harapan kemanusiaan yang dapat diperoleh dari peringatan hari raya Idul Qurban ialah semangat untuk berbagi dengan orang lain. Hewan yang disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan secara gratis kepada anggota masyarakat, sehingga bila pada Idul Fitri semangatnya membebaskan manusia dari kebutuhan karbohidrat, makanan pokok, tetapi pada suasana hari raya Idul Qurban mengandung semangat untuk membebaskan manusia dari kebutuhan protein. Kebutuhan karbohidrat dan protein dapat dipenuhi di dalam suasana kedua hari raya Islam.

Jakarta, 3 Nopember 2011.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

Foto oleh Cyprianus Rowaleta