Membesuk dan Mendoakan yang Sakit
02/27/2018
Jokowi Shalat Jumat di Masjid Istiqlal
03/02/2018

Merangkul dalam Struktur Keluarga dan Pemerintahan

 

Ketika Salman al-Farisi, seorang yang berketurunan Persia, belum memeluk agama Islam, ia sudah akrab dengan Nabi Muhammad Saw. Ia sering memberikan shadaqah dan hadiah kepada Nabi. dan para sahabatnya. Salman al-Farisi diperlakukan segaimana layaknya seorang muslim. Ia dikenal sebagai salah seorang arsitek perang yang handal. Ia juga yang merancang benteng Nabi di Madinah yang berupa penggalian parit (khandaq). Pada akhirnya, ia masuk Islam dan tetap mendapatkan kepercayaan dari Nabi Muhammad Saw. dalam banyak hal.

Kehadiran non-muslim di lingkungan Nabi adalah biasa. Keluarga dari salah seorang istrinya, Maria binti Syam’un Al-Qibthiyyah al-Mishriyyah, dari kelompok Kristen Koptik, Mesir. Demikian pula keluarga istri Nabi bernama Shafiyah binti Hayy, ayahnya masih aktif sebagai salah seorang pemimpin Yahudi. Keluarga mantan suami putrinya, Zainab binti Muhammad juga ada yang beragama non-muslim. Yang tak bisa dilupakan ialah sepupu Khadijah, Waraqah bin Naufal ibn Asad ibn Abdul ‘Uzzah, tokoh Kristen, yang menenangkan Nabi setelah mendapatkan wahyu pertama dari Gua Hira. Sahabat-sahabat karib Nabi juga banyak non-muslim, terutama relasi bisnisnya ketika masih aktif sebagai saudagar di Mekkah.

Kepercayaan dan kedekatan Nabi dengan orang-orang non-muslim, diikuti juga oleh sahabat-sahabatnya yang lain. Periode Khulafaur Rasyidin, Umar bin Khaththab banyak melibatkan non-muslim sebagai the inner circle di dalam pemrintahannya. Umar pernah mengangkat staf khususnya dari bangsa Romawi non-muslim. Demikian pula Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah raja dari kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbas, juga melibatkan orang-orang non-muslim di dalam pemerintahan meraka. Kebanyakan di antara mereka para dokter, ahli bahasa dan penerjemah.

Banyak nama besar non-muslim pernah berkibar di dalam pemerintahan dunia Islam, terutama dalam pemerintahan Bani Abbas.  Di antara nama-nama tersebut ialah Hunain bin Ishaq (Kristen), Sabit bin Qurra (penganut animisme), dan Abu Bisr Matta bin Yunus (Kristen). Pemerintahan Bani Umayyah juga diisi  sejumlah nama non-muslim memegang peran penting, terutama di dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan kedokteran.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kehadiran orang-orang non-muslim di dalam pemerintahan dunia Islam, baik di dalam struktur keluarga maupun dalam struktur pemerintahan merupakan sesuatu yang biasa. Mulai dari periode Nabi Muhammad saw, khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbas, sampai Bani Utsman, tidak ada masalah dalam kehadiran orang-orang non-muslim. Justru kehadiran mereka sering dijadikan jalan untuk mendekatkan dan menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda di dalam masyarakat. Bagaimanapun juga persatuan dan kesatuan merupakan prasyarat untuk membangun masyarakat dan negara ideal.

Merangkul yang berserakan, menghimpun yang berbeda, dan mendekatkan yang jauh adalah strategi yang selalu digunakan Rasulullah Muhammad saw. dalam meraih sukses.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an

Foto Fibrian Yusefa Ardi